Erwin menjelaskan kalau tugas Zara sebagai asistennya hanya mengatur dan mengelola jadwal keseharian Erwin di kantor, menyiapkan dokumen penting, juga mengorganisir pertemuan dengan klien.
Tugasnya cukup mudah. Jika dulu Zara harus mengurus satu event sendirian, maka, sekarang dia bekerja dengan Zeff. Pria itu mengatur hal-hal seperti pertemuan dengan klien dan rapat. Sementara, Zara lebih sering berurusan dengan berkas-berkas yang harus diperiksa oleh Erwin, yang wajib disortir oleh asisten lebih dulu. Zara juga yang memegang jadwal rapat dan segala kegiatan yang akan Erwin lakukan. Menggantikan Shakira.
Zara diberi kubikel di depan ruangan Erwin. Duduk berdua dengan Shakira. Sebenarnya ini agak canggung, mengingat Zara bahkan tidak pernah berbincang dengan sekretaris cantik itu sebelumnya.
Apalagi saat pemikiran Zara soal Erwin mungkin saja memiliki hubungan dengan wanita lain masih terlintas di kepalanya.
Shakira adalah orang yang kalem. Cukup profesional. Dia menerima kehadiran Zara dengan baik. Seolah Zara tidak membawa dampak penting dengan menjadi bagian dari perusahaan. Tapi, tetap saja, pemikiran negatif Zara terhadapnya tidak bisa pupus begitu saja.
"Tok ... tok ...."
Zara masuk ke ruangan Erwin untuk menyerahkan map berisi dokumen yang harus diperiksa oleh bosnya itu. Erwin membuka berkas itu dan langsung menorehkan tanda tangan, tanpa membacanya sama sekali. Membuat Zara mengernyit. "Mas nggak memeriksanya lebih dulu?" tanya Zara.
Erwin yang tadi fokus pada layar PC-nya, akhirnya mendongak. "Kau sudah memeriksanya?"
"Sudah."
Pria itu mengangguk. Kemudian menutup map di hadapannya, dan menyodorkannya kepada Zara. "Makan siang nanti tunggu aku."
"Kenapa?"
Kepalanya lagi-lagi terangkat. "Kita makan siang bersama." Erwin menunjuk Zara dengan bolpoin di tangannya. "Dan berhenti memanggilku 'Mas' mulai sekarang. Di sini kau adalah karyawan, dan aku adalah bosnya."
Zara menghela napas. "Baik, Bos." Perempuan itu menekankan perkataannya. Kemudian, keluar dari ruangan dengan map di genggaman.
Saat istirahat makan siang tiba, Shakira menawarkan kepada Zara untuk ikut dia dan karyawan lain makan di kafe di lantai dasar. Tapi, Zara menolak karena harus menunggu Erwin.
Beberapa menit setelah yang lain turun, Erwin baru keluar ruangan. Langsung mengajak Zara untuk pergi. Zeff berjalan di belakang mereka seperti pengawal.
Mereka tidak makan di kafe dalam gedung ini. Erwin mengajak Zara makan ke restoran berlabel Michelin Star. Restoran ini berkonsep fine dining. Pelayan menyambut kedatangan mereka, mengantar mereka ke meja. Kemudian, beberapa pramusaji menyajikan cold appetizer dengan main course berupa steik yang disajikan dengan mashed potato. Kemudian, ditutup dengan lemon creme brulee.
Untungnya, Zara pernah makan di restoran berlabel Michelin saat perayaan ulang tahun bosnya dulu. Jadi, dia tidak terlalu kaku makan di tempat mewah dengan pelayanan super seperti ini.
Selesai makan siang, mereka langsung kembali ke kantor. Duduk di kursi kebesaran masing-masing. Saat kembali, Zara melihat Shakira sedang mengobrol dengan karyawan lain. Erwin memanggil perempuan itu untuk menghadapnya.
Sebenarnya, Zara tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Zara toh tidak menyukai Erwin, dan dia tidak peduli kalau Erwin berhubungan dengan wanita lain. Tapi, melihat bagaimana Erwin dan Shakira saling berbicara saat berpapasan, atau memikirkan kenyataan bahwa hanya Shakira, staf perempuan selain dirinya, yang boleh masuk ke ruangan suaminya itu, Zara merasa perlu menaruh curiga terhadap hubungan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent (✓)
Chick-LitPada malam pertama pernikahannya dengan Erwin, Zara diusir keluar dari kamar. Pernikahan mereka memang berjalan sangat cepat hingga Zara tidak sempat mengenal dengan baik siapa pria yang kini menjadi suaminya itu. Zara harus bersabar menghadapi sif...
