21 Bitter Pill To Swallow 1

3.6K 107 0
                                        

Zara terisak saat sampai di dalam kamarnya. Perempuan itu menenggelamkan wajah ke dalam bantal. Berusaha mengusir segala hal yang mengganggu pikirannya, meskipun hal itu sangat sulit dilakukan.

Hatinya sakit, dan Zara tidak bisa menyangkal.

Erwin selalu saja bertingkah semaunya. Seolah Zara tidak penting sama sekali baginya. Apa pun yang Zara rasakan tidak membuat pengaruh yang signifikan bagi Erwin.

Padahal, pihak yang salah jelas adalah Erwin. Kenapa malah pria itu yang marah sampai melakukan hal itu pada Zara? Erwin sulit sekali dimengerti. Zara lelah berusaha memahami pria itu.

Zara terpaksa mengangkat kepala saat ponselnya berdering. Ada panggilan masuk, tapi, Zara terlalu malas untuk mengecek siapa sang penelepon itu. "Halo?"

Tidak ada jawaban.

"Siapa ini?"

Lagi-lagi, tidak ada suara yang keluar dari ponselnya. Zara terpaksa harus memeriksa siapa yang meneleponnya itu. Tapi, yang muncul malah nomor yang tidak dikenal.

Tunggu, nomor ini!

Zara terduduk. "Halo? Siapa di sana?"

Sayang, panggilan itu terputus secara sepihak. Zara mencoba menghubunginya, tapi, nomor itu sudah tidak aktif. Zara baru sadar kalau dia mendapatkan pesan. Tapi, sebelum sempat membuka isi pesan itu, Zara menoleh saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.

Danta adalah orang yang Zara temui begitu membuka pintu. "Aku lihat kamu pulang lari-larian tadi. Kamu nggak papa?"

"Nggak papa," balas Zara. Tadi Zara kira rumah ini kosong, makanya, dia berlari dari pintu depan menuju kamarnya.

"Bohong, mata kamu merah gitu. Habis nangis, ya?"

Zara segera mengelap sisa air matanya dengan punggung tangan. "Enggak, ini karena ketiduran aja." Pandangan Zara kembali pada pria di depannya. "Mas Danta ada apa ke sini?"

"Aku mau ngambil mobil di bengkel. Mau nemenin, nggak?"

Kontan Zara mengernyit. Apa maksudnya perkataan Danta itu?

Danta segera membenarkan ucapannya, "Kamu antar aku ke bengkel, terus, pulangnya kita pakai mobil sendiri-sendiri."

"Di luar 'kan ada Sanji, Mas."

"Ayolah Zara, kamu pasti tahu dia tidak terlalu menyukaiku. Aku nggak mau pergi semobil dengannya. Dan menurutmu apa dia akan meninggalkanmu sendirian di rumah ini?"

Benar juga. Sanji tidak akan pernah meninggalkan Zara selama Erwin tidak ada. "Baiklah, aku ambil ponselku dulu."

Danta tersenyum. "Aku tunggu di bawah."

***

Letak bengkel lumayan jauh dari rumah. Jadi, Sanji tidak membiarkan Zara pergi berdua saja dengan Danta. Alhasil, mereka pergi bertiga.

Toh, kalaupun letaknya hanya beberapa km saja, Sanji pasti akan tetap mengawasinya.

Tiba di bengkel, ternyata ada beberapa kendala pada mobil Danta. Jadi, mereka tidak bisa langsung pergi, melainkan harus menunggu pemeriksaan yang lebih teliti lagi.

Karena cuaca panas, dan lalu lintas yang padat, Zara merasa gerah sekali. Dia memang belum sempat mandi sejak pagi karena terlalu sibuk. Padahal ini hampir pukul empat sore. Tapi, matahari masih bersinar begitu terang.

Zara mengibaskan tangan di depan leher.

"Gerah, ya?" tanya Danta.

Zara mengangguk. Tadi Danta sempat menyuruhnya untuk pulang lebih dulu, tapi, Zara menolak. Takut kalau mobil Danta tidak bisa dibawa pulang hari ini. Danta bisa saja naik taksi, tapi pria itu pernah bilang kalau dia tidak terlalu suka naik kendaraan umum. Jadi, Zara menungguinya. Zara toh juga tidak mau berada di rumah sekarang.

Iridescent (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang