28 Kebenaran yang Sesungguhnya

3K 87 0
                                        


Ruangan itu remang dan dipenuhi rak yang menutupi dinding dari satu ujung pintu, ke ujung yang lain. Ada meja panjang di tengah dengan empat kursi kayu. Zara duduk di salah satunya. Melihat foto-foto yang diletakkan acak memenuhi meja. Danta duduk di depannya.

"Erwin adalah pengedar obat-obatan terlarang. Dia mengirimkan obat-obat itu lewat karung-karung beras yang dia sumbangkan ke beberapa panti. Salah satunya adalah panti yang sering kamu datangi."

Ada gambar beberapa mobil box di depan bangunan yang sepertinya memang adalah panti. Beberapa laki-laki menurunkan karung-karung beras itu, lalu memasukkannya ke dalam panti. Semua foto yang ada di atas meja itu menjelaskan setiap detailnya.

"Kalau kamu memperhatikan, setiap satu minggu sekali akan ada pengiriman bahan pokok makanan untuk panti. Lalu, akan ada beberapa orang relawan yang datang untuk membantu mengangkat barang-barang itu ke gudang. Itulah saat di mana mereka mengambil barang pesanan mereka, yang mana semua barang itu berasal dari Erwin. Termasuk narkoba di dalamnya."

Zara memusatkan perhatiannya pada foto-foto tersebut. Memang ada beberapa orang yang Zara kenal. Si pengemudi mobil box, Zara pernah melihat pria itu mengawal dirinya dan Erwin saat mereka baru saja menikah. Lalu, si pria yang tertangkap kamera sedang berbicara di telepon, itu adalah salah satu penjaga di rumah pribadi Erwin.

"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya pada pengurus panti, dan kamu akan tahu kalau Erwin memang mengirimkan semua barang-barang itu."

"Dari mana Mas Danta tahu kalau ada obat terlarang di antara semua barang itu?"

Danta tersenyum. "Mudah, Zara. Berpura-pura menjadi pembeli. Aku tinggal menyuruh seseorang untuk memesan obat itu kepada si pengepul, sementara diriku tinggal mengawasi, dan ini yang kudapat."

Memang ada gambar seorang pria yang tengah membuka segel sebuah karung beras dan mengambil sesuatu dari dalamnya, tapi Zara tidak mungkin bisa percaya begitu saja. Ini mustahil. Untuk apa Erwin menjual obat-obatan terlarang?

"Suamimu itu adalah bandar narkoba." Sekali lagi, Danta mengatakannya. Kali ini lebih tegas dari kali pertama saat dia membawa masuk Zara ke ruangan ini beberapa menit lalu.

Zara hanya bisa terdiam.

"Apa saja yang dia katakan padamu? Bagaimana bisa kamu tidak mengenali suamimu sendiri, Zara?"

Bagaimana Zara bisa mengenalnya? Erwin memasang tembok yang begitu tinggi atas dirinya sendiri sampai Zara yang merupakan istrinya, Zara yang tidur seranjang dengannya saja masih merasa begitu asing, sampai sekarang.

"Aku yakin kamu sudah tahu tentang masa lalunya, tapi apa kamu tahu fakta bahwa dia menikah atas dorongan dari kakeknya?"

Zara menatap pria yang ada di hadapannya itu dengan dahi mengerut. Ia menggeleng samar.

"Erwin ingin mewarisi semua harta keluarganya, termasuk segala hal yang kakeknya berikan pada Gio. Syarat untuk bisa mendapatkannya adalah memiliki anak." Danta jelas melihat perubahan ekspresi di wajah Zara. Namun, perempuan itu memilih untuk tetap diam. "Gio itu mandul. Jika Erwin bisa memberi kakeknya cicit, maka kakeknya akan melakukan apa pun untuknya. Termasuk menghapus nama Gio dan dua cucunya yang lain dari daftar ahli waris."

"Tidak mungkin." Zara bergumam. Erwin jelas mengatakan padanya bahwa niatnya untuk memiliki anak adalah hanya agar ibunya bahagia. Karena itu adalah permintaan terakhirnya.

Danta tersenyum mendengus. Tidak menyangka kalau Zara benar-benar belum mengetahui fakta itu. "Tanyakan padanya apa alasan dia menikahimu, dan kamu akan lebih terkejut lagi."

Iridescent (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang