Setelah dibujuk berkali-kali, Erwin akhirnya setuju menemani Zara pulang ke rumah Sanders. Erwin sebenarnya menentang keinginan Zara untuk menginjakkan kaki di rumah itu lagi, terlebih karena alasan Zara sangatlah sepele, yaitu ingin mengambil barang-barangnya. Erwin sudah menyediakan keperluan Zara di rumah pribadinya, tapi Zara tetap saja mengeyel.
Erwin tidak punya pilihan lain.
Menjelas siang, mereka baru berangkat. Memang sengaja mencari waktu saat anggota keluarga yang lain tidak ada di rumah.
Namun, sepertinya prediksi Erwin salah kaprah. Saat baru sampai, mereka langsung disambut dengan kehadiran Gaara yang sedang duduk di ruang depan. Adik Erwin yang kini sedang berkuliah semester akhir di NYC itu menghampiri mereka. Mengernyit ke arah Zara. "Ini istri Kakak?"
"Tunggu di sini, aku akan mengambil barang-barangmu." Erwin mengabaikan pertanyaan Gaara dan berlalu begitu saja menuju lantai atas.
"Pantas saja media heboh." Gaara mendecak memperhatikan Zara dari ujung kepala ke ujung kaki. "Gaara Sanders, adik Erwin Sanders." Dia mengulurkan tangan, dan Zara menerimanya dengan sopan, tapi sebelum Zara sempat memperkenalkan diri, Gaara lebih dulu berkata, "Zara Sanders, istri Erwin Sanders."
Zara mengangguk dan tersenyum. "Kapan kamu kembali ke Indo?"
"Kemarin." Gaara menerawang ke sembarang arah. "Rumah ini selalu kosong seperti biasanya. Kukira dengan adanya anggota keluarga baru, rumah ini akan sedikit lebih ribut."
Zara hanya bisa tersenyum. Dia toh sadar kalau dirinya tidak memberi banyak perubahan saat datang ke rumah ini. Zara bukan seseorang yang suka banyak bicara, dia bukan seorang yang supel juga. Pantas jika orang-orang lebih memilih untuk menghindarinya. "Sudah makan?" Zara beralih ke dapur, membuka kulkas.
"Kak Zara bisa masak?"
Dia menurunkan botol air mineral yang diambilnya dari kulkas, ke atas meja. Kemudian mengambil gelas. "Bisa, mau kumasakkan sesuatu?"
Zara tidak ingat kapan terakhir kali dia menyentuh peralatan masak dan benar-benar memasak sendirii, bukannya membantu pelayan seperti yang dia lakukan di rumah ini dulu. Namun, Zara cukup yakin kalau hal itu tidak akan memengaruhi keahlian memasaknya.
"Boleh." Gaara membalas.
"Kita pergi sekarang." Zara hampir tersedak saat Erwin tiba-tiba datang, langsung meraih pinggangnya, saat Zara sedang minum.
Koper hitamnya tampak teronggok di depan tangga, Zara menebak-nebak apa saja yang dimasukkan Erwin ke sana. Sebagian besar barangnya masih berada di dalam koper sampai terakhir kali Zara tidur di rumah ini. Jadi, tidak ada yang perlu dikemas, dan Erwin juga tidak bertanya padanya apa saja yang perlu dia ambil.
"Barang-barangku di dalam laci nakas sudah diambil?"
"Buku catatan?" Erwin mengangguk. "Sudah semuanya. Ayo pergi."
Zara menghentikan langkah Erwin. Kemudian melepaskan diri perlahan. "Gaara belum makan. Aku akan memasakkan sesuatu untuknya lebih dulu."
Tatapan Erwin beralih ke seberang counter, tempat Gaara tengah duduk di salah satu bar stool. "Ada pelayan yang bisa melakukannya. Di rumahku saja kamu tidak kuperbolehkan memasak. Apalagi di rumah orang lain." Erwin kemudian menarik pinggang Zara hingga perempuan itu terpaksa mengikutinya.
Erwin sedang mengambil koper Zara saat seseorang tiba-tiba muncul dari arah kolam renang, berjalan ke arah mereka dengan handuk kimono menutupi tubuhnya. "Rumah orang lain." Perempuan yang tampak lebih muda dari Gaara itu mendecak sambil menggelengkan kepala. "Tidak heran kenapa Ibu selalu mengatakan untuk cepat pulang. Ternyata anaknya sendiri tidak menganggap rumah ini sebagai rumahnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent (✓)
ChickLitPada malam pertama pernikahannya dengan Erwin, Zara diusir keluar dari kamar. Pernikahan mereka memang berjalan sangat cepat hingga Zara tidak sempat mengenal dengan baik siapa pria yang kini menjadi suaminya itu. Zara harus bersabar menghadapi sif...
