Hola! Tidak terasa setelah berbulan-bulan, akhirnya aku bisa menamatkan satu cerita ini.
Iya, ini adalah part terakhir dari Iridescent.
Aku mau ngucapin terima kasih buat kalian yang masih setia dengan cerita ini.
Semoga kalian suka ending dari kisah kehidupan rumah tangga Erwin dan Zara.
Salam sehat, yeorobun, bahagia selalu! :)
***
Dugaan Erwin ternyata salah. Zara tidak dibawa ke rumah Danta, melainkan ke sebuah kabin di tengah hutan. Tempat yang jauh dari kota dan jalan besar, tempat yang memungkinkannya untuk terhindar dari kehidupan luar.
Bagus sekali, Danta pintar memilih tempat.
Erwin mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Men-dial nomor Danta. "Keluar! Aku di depan."
Sambungan itu dimatikan sebelum Danta sempat mengatakan apa pun. Erwin, Sanji, dan Zeff maju mendekati kabin yang terlihat sudah reyot itu. Pengawal di sana langsung mencegahnya. Namun, Danta datang taklama sebelum Erwin berpikir untuk memaksa masuk.
"Cepat sekali." Danta tersenyum lebar. "Aku bahkan belum memikirkan apa yang kuinginkan sebagai pertukaran untuk istrimu yang manis itu."
"Diamlah, sialan!" jika saja posisinya sekarang memungkinkannya untuk melakukan sesuatu, Erwin akan menembak Danta tanpa pikir dua kali. Namun, Erwin harus ingat kalau Zara berada di genggaman Danta saat ini. "Kembalikan Zara padaku."
"Atau?" tanya Danta menantang.
Erwin memberikan isyarat kepada Sanji. Pria itu pun kembali ke mobil. Membawa seseorang untuk menghadap Danta.
Tidak menduga Erwin akan mengancamnya menggunakan Devi, Danta tersenyum sembari melongo. "Wah ...." Danta kehilangan kata-kata. Danta mengangkat kedua tangan enteng. "Bawa Zara kemari."
Seorang pengawalnya masuk ke dalam kabin. Melaksanakan perintah. Tidak butuh waktu lama, Zara telah sampai di halaman. Melihat keadaan Zara yang sepertinya baik-baik saja, Erwin akhirnya bisa bernapas lega.
Erwin mencengkeram lengan Devi, sementara Danta merangkul bahu Zara dengan santai. "Dalam hitungan ketiga?" Erwin mulai menghitung, "satu, dua, tiga."
Zara dan Devi dilepaskan. Zara berjalan menuju Erwin, sementara Devi mendekat ke arah Danta. Namun, saat keduanya berpapasan, Devi bertindak curang dengan mendorong Zara mundur hingga Zara terhuyung dan hampir saja terjatuh jika Danta tidak menangkapnya, sementara Devi sendiri berlari menjauh. Leher Zara dipinting dari belakang. Sontak saja Erwin dan yang lain pun menjadi waspada.
"Bagaimana sekarang?" tanya Danta, menoleh untuk melihat seperti apa ekspresi Zara sekarang. Karena dia tidak main-main, tentu saja perempuan itu akan merasa sakit. "Aku bisa membunuhnya sekarang, loh." Sambil menengadahkan tangan ke arah samping untuk mendapatkan pistol dari anak buahnya, Danta berbisik, "sekarang waktumu untuk memilih, Zara, anakmu atau Erwin?"
Zara sontak melirik Danta dengan tatapan penuh kebencian.
"Suruh bawahanmu itu pergi." Danta menyinggung keberadaan Zeff dan Sanji. Namun, karena tidak mendapat jawaban, Danta kembali mengancam dengan menodongkan pistol di genggamannya kepada Zara.
Erwin memberikan isyarat pada Sanji dan Zeff untuk pergi. Meski keduanya sempat keberatan, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Mereka pun berjalan cukup jauh, tapi tetap mengawasi.
"Ayo, Zara. Pilih mana yang akan kamu pertahankan?" tanya Danta dengan suara pelan. Cukup untuk didengar Zara seorang.
Tentu saja Zara hanya bisa terdiam. Dia toh tidak mungkin akan membiarkan dirinya sendiri tertembak. Namun, Zara juga tidak mungkin membunuh orang lain. Apa yang bisa dia lakukan sekarang?
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent (✓)
ChickLitPada malam pertama pernikahannya dengan Erwin, Zara diusir keluar dari kamar. Pernikahan mereka memang berjalan sangat cepat hingga Zara tidak sempat mengenal dengan baik siapa pria yang kini menjadi suaminya itu. Zara harus bersabar menghadapi sif...
