3 Gio

2.1K 31 3
                                        

Suara motor jarang terdengar di sekitar tempat itu, hanya ada tawa riang anak-anak kecil yang bermain di halaman dengan pengawasan beberapa suster yang terkadang harus ikut bermain demi menyenangkan anak-anak itu.

Wahana bermain kecil-kecilan yang memenuhi halaman cukup untuk membuat mereka tidak merasa bosan meski setiap hari harus bertemu dengan orang yang sama, tempat yang sama, dan suasana yang serupa.

Terkadang hal itu membuat Zeff berpikir untuk mengadopsi salah satunya. Memberikannya kehidupan yang layak, seperti seorang anak pada umumnya. Mungkin setelah dia memiliki seorang istri dan mendapatkan pekerjaan di kantor yang tidak mengharuskannya bersinggungan dengan segala hal berbahaya. Untuk sekarang, bayangan sebuah rumah minimalis yang nyaman dengan satu pohon besar di depannya, seekor anak anjing yang menggonggong di bawah rimbun dahan dan daun, lalu anak kecil yang berlarian, akan setia mengisi malam-malam singkatnya.

Namun, pertama-tama, Zeff harus membereskan hidupnya terlebih dahulu. Sebelum semuanya beres dan tertata seperti semula, Zeff jelas tidak bisa duduk tenang dan menunggu impiannya akan terwujud dengan sendirinya.

"Mereka baik-baik saja. Aku akan tetap mengawasi sesuai perintah." Zeff berkata di balik teleponnya.

Saat sambungan itu terputus, Zeff kembali memperhatikan anak-anak yang masih asyik bermain meski matahari mulai mengganas.

Sampai hari beranjak siang, suara tawa yang riang masih terdengar, menggema sampai ke jalanan aspal.

***

Piring-piring dan gelas kotor di atas meja makan itu telah selesai dibereskan. Dicuci bersih dan ditata rapi pada tempatnya. Hanya karena Erwin dan Zara sama-sama memiliki waktu senggang, mereka duduk kembali di kursi yang semula ditempati saat sarapan tadi.

Atmosfer di antara keduanya seolah berkata kalau mereka masih mencurigai satu sama lain. Namun, Zara mencoba mengabaikannya. Sejenak melepas kekalutan dalam pikirannya, Zara menghela napas dan akhirnya memberanikan diri untuk menatap Erwin. "Sampai kapan kauakan berada di sini? Danta bisa datang kapan saja."

Mengabaikan pertanyaan yang menurutnya memang tidak perlu diperhatikan itu, Erwin justru menatap ke arah kolam renang dan tampak takpeduli. "Toh dia sudah tahu kalau aku mengunjungimu, apa masalahnya?"

"Bukan begitu." Sadar dirinya terlalu gegabah, Zara mencoba bersikap santai. "Terlepas dari konflik antara kau dan Danta, aku tidak mau Keenan menjadi korban."

Erwin menatap Zara dan tersenyum mendengus. "Lihat siapa yang berbicara. Tidakkah kausadar akar dari semua masalah ini adalah dirimu sendiri, Zara?" tanpa berniat menutupi rona meremehkan yang terpampang jelas di wajahnya, Erwin menunjuk Zara yang tampak tidak terima akan perkataannya. "Kau adalah orang yang bertanggung jawab atas semua ini. Orang yang telah menempatkan Keenan dalam masalah ini adalah kau."

"Aku hanya berusaha melindungi Keenan," sergah Zara.

"Jujur saja, Zara." Suara Erwin terdengar seolah sudah sangat muak. "Demi untuk kabur dariku. Agar bisa lepas dariku, kaumau melakukan apa pun, termasuk membunuhku, benar?"

Percuma saja, apa pun yang Zara katakan, Erwin tidak akan mau susah payah memercayainya. "Aku akan lakukan apa pun demi melindungi Keenan." Akhirnya Zara mengaku kalah. Sekarang tidak ada yang lebih penting baginya ketimbang keselamatan anaknya sendiri. Kalau itu berarti dia harus hidup dalam bayang-bayang Erwin sekali lagi, maka Zara mau tidak mau harus melakukannya.

"Benarkah?" Erwin menggeser kursinya ke belakang. Berdiri dan berjalan menghampiri Zara. "Apa pun?" tanyanya, yang mendapat balasan tatapan yakin dari lawan bicaranya. Erwin menyandarkan tubuh ke meja makan, menarik kursi Zara mendekat.

Kemudian dengan satu tangan, Erwin meraih sebelah kerah baju yang Zara pakai. Pegangannya turun, perlahan, dan saat dia tangannya berhasil menemukan satu kancing paling atas, Erwin melepas kancing itu dengan mudah, lalu menyibak satu sisi baju Zara.

Melihat Zara masih menatapnya tanpa berkedip, Erwin hampir saja menarik dirinya mendekat, tapi dia urungkan saat sadar kalau ini sudah waktunya bagi Erwin untuk pergi. Erwin tersenyum tipis. Berbalik dan berjalan menjauh. "Katakan aku akan kembali nanti malam kalau Danta kemari, aku tidak akan bersembunyi lagi, dan jangan berpikir untuk pergi dari rumah ini, Zara. Aku bersumpah akan membunuhmu jika kausampai berani lari dariku lagi." Erwin mengumpat di dalam hati.

Saat suara langkah kaki menjauh dan perlahan menghilang, Zara mengambil napas dalam. Sesak di dadanya membuat Zara hampir pingsan. Tekanan yang Erwin berikan padanya membuat Zara hampir hilang akal.

Padahal sudah sampai sejauh ini, tapi Zara masih saja tidak bisa menghapus rasa takutnya.

***

Suara gagang pintu memecah keheningan. Tidak lantas membuat Gio tertarik untuk melepaskan perhatiannya pada sepuntung rokok yang terjepit di ujung bibir. Ketika kepulan asap menghalangi bayangan kota Jakarta dari balik kaca transparan di depannya, Gio akhirnya memutar kepala untuk menengok siapa gerangan orang yang datang di jam istirahat siang begini.

Meski sudah bisa menduganya, Gio tetap saja sedikit heran mendapati Devi berjalan menenteng tas yang dengan sekali lihat saja siapa pun akan tahu kalau itu berisi makanan.

Tidak biasanya Devi datang ke kantor. Apalagi hanya untuk membawakan makan siang.

Sebelumnya perempuan itu memang telah menghubunginya dan menanyakan apakah Gio sudah makan siang atau belum. Gio dengan jujur berkata kalau dia tidak berselera. Belum genap 10 menit, Devi sudah datang.

"Apa kantor memang memperbolehkanmu merokok?" Devi meletakkan tas yang dia bawa ke atas meja yang tertata di sisi kanan ruangan bersama sofa-sofa berbentuk letter u.

Setelah mengembuskan asap dari mulutnya, Gio menekan puntung rokok pada asbak. Bergerak dari kursi untuk menghampiri Devi. "Ini kantorku. Aku yang membuat pengaturan."

Mendengar jawaban suaminya itu, Devi hanya menggelengkan kepala. "Kauakan diam saja? Aku mendengar dari Danta kalau Erwin telah kembali."

Tampak takterusik, Gio malah lebih penasaran dengan isi kantung yang dibawa Devi. Bukan sesuatu yang bisa mengejutkannya. Hanya beberapa roll sushi berbagai varian. Tentu saja, apa yang Gio harapkan dari Devi?

"Bagaimana jika Erwin datang untuk balas dendam?"

"Bukankah itu sudah jelas?" Gio menatap Devi dan berkata, "dengarkan aku, kautidak perlu khawatir. Aku akan mengurus segalanya. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi."

"Kau yakin?" dengan wajah tidak percaya yang tidak berusaha dia sembunyikan, Devi balas menatap suaminya itu.

Sembari mengambil sumpit untuk mulai memakan bekalnya, Gio mengangguk. "Tentu saja. Akan kupastikan semuanya baik-baik saja."

"Kalian gagal membunuh Erwin. Kalian sadar tidak? Pria itu sangat berbahaya." Cara Devi mengatakannya membuat Gio hampir saja terbahak. Ingin sekali rasanya melempar Devi dengan kotak sushi ini agar perempuan itu berhenti mengoceh hal-hal yang tidak penting.

"Akan aku urus semuanya."

"Bagaimana?"

Semua orang juga tahu kalau pihak Danta dan Gio sedang di pertaruhkan sekarang. "Kautidak perlu tahu. Percaya saja kepada suamimu ini."

Devi tampak kesal. Namun, memilih untuk mengabaikannya. "Jika sesuatu terjadi, kuharap kau sudah siap."

Yakin, Gio menjawab, "Tentu saja. Erwin itu kakakku, aku tahu betul bagaimana cara menyingkirkannya."

***

Iridescent (✓) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang