3 Suami Pemarah 1

4.5K 131 5
                                        

"Cuih! Teh macam apa ini?"

Cangkir kaca itu pecah setelah sengaja dijatuhkan. Untung saja Zara sigap melompat ke belakang. Jadi, kakinya tidak sampai terkena air panas atau pecahan cangkir.

"Apa yang salah? Itu hanya teh biasa." Sungguh, Zara tidak memasukkan sesuatu selain teh, gula, dan air panas. Apa yang salah dengan teh buatannya?

"Ini adalah teh terburuk yang pernah kuminum." Erwin mendecak. "Berapa sendok gula yang kau masukkan ke dalam teh itu?"

"Dua," jawab Zara jujur. Dia sudah biasa membuatkan ayahnya minuman dulu. Dan dia biasa menambahkan dua sendok gula. Menurut Zara, itu adalah takaran yang pas. Tidak terlalu manis, juga tidak hambar.

"Pantas saja." Erwin berdiri dari duduknya. Menuju counter. Mengambil cangkir dan memasukkan daun teh kering ke dalamnya. "Satu sendok, tidak lebih," tegasnya, sambil menambahkan satu sendok gula. Menuang rebusan air dari teko dan mengaduk teh buatannya. "Minum!"

Serius? Zara harus meminum teh itu?

Zara menurut saja. Menyesap teh buatan Erwin.

"Mulai sekarang, kalau kau membuat teh untukku, rasanya harus seperti itu," pungkas Erwin, langsung meninggalkan ruang makan dan naik ke lantai dua.

Ya Tuhan, hanya satu sendok! Erwin benar-benar keterlaluan. Dia bisa saja meminta Zara untuk membuatkan teh yang baru. Bukannya membuang cangkir itu dan memecahkannya. Untung anggota keluarga yang lain belum turun. Kalau, tidak, mereka akan tahu sifat keras Erwin pada istrinya.

"Biar saya saja yang bereskan." Seorang pelayan lebih dulu berjongkok. Mengambil serpihan kaca dari lantai, sebelum Zara yang turun tangan.

"Terima kasih," ucap Zara, membuat pelayan itu sempat terkejut, kemudian tersenyum.

"Tidak perlu berterima kasih. Ini memang tugas saya."

Tidak lama kemudian, anggota keluarga mulai berkumpul ke meja makan, termasuk Zara. Mama mertuanya celingukan karena tidak mendapati keberadaan anaknya.

"Di mana Erwin? Aku yakin dia sudah pulang tadi," tanyanya pada Zara.

"Ada di atas. Biar kupanggilkan." Baru saja Zara akan melangkah, Erwin terlihat sedang menuruni tangga. Membuat Zara mengurungkan niatnya. "Itu dia."

Erwin langsung duduk di kursinya, di sebelah mamanya. Zara duduk di sebelahnya.

Makan malam berjalan tanpa obrolan penting. Erwin lebih banyak diam. Jadi, Zara juga tidak banyak menyahuti ucapan mertuanya.

Setelah makan malam, semua orang langsung kembali ke kamar masing-masing, kecuali Zara. Perempuan itu duduk di bar stool, depan counter top. Menikmati yoghurt dengan beberapa potongan buah yang tadi disiapkan oleh Nisa, gadis muda yang membantunya membereskan pecahan cangkir tadi.

Kehidupan di keluarga ini mirip kehidupan Zara di rumah ayahnya. Tidak ada kumpul keluarga kecuali saat acara makan. Tidak ada obrolan penting mengenai pekerjaan dan semacamnya. Bahkan, tidak ada yang menanyai Zara dia tadi pergi ke mana.

Mungkin, karena orang-orang terlalu sibuk.

Menghabiskan salad buahnya, Zara menaruh mangkuknya di sink dan beranjak dari dapur. Karena di rumah ini dia tidak dibiarkan melakukan pekerjaan apa pun selain melakukan perintah Erwin, Zara jadi punya banyak waktu luang. Tidak ada pekerjaan rumah. Tidak juga pekerjaan di luar.

Zara berpapasan dengan Gio di ruang depan. Dari baju yang dia kenakan, dan tas yang dibawanya, Zara tahu kalau Gio baru pulang bekerja. Rambutnya kusut, dan sepatunya berdebu. Apa dia pergi ke suatu tempat lebih dulu sebelum pulang? Bekerja di rumah sakit tidak akan membuat sepatunya kotor seperti itu, 'kan?

Iridescent (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang