Meski sudah kembali ke rumah pun, Zara tetap tidak diperbolehkan untuk masuk ke kantor. Jadi, dia hanya bisa diam di kamar seharian penuh, karena Danta masih ada di rumah ini. Zara tidak mau terjebak berdua dengan pria itu lagi.
Seharian ini, pesan-pesan aneh kembali masuk ke ponselnya. Awalnya Zara ingin mengabaikannya saja. Tapi, sungguh, hal ini sangat mengganggu.
Zara mencoba menghubungi nomor asing itu, tapi, tidak tersambung. Lalu, Zara mengirimkan pesan, bertanya siapa sebenarnya pemilik nomor itu?
Lama Zara mondar-mandir menunggu balasan. Namun, bahkan sampai malam tiba pun, Zara tidak mendapatkannya.
Dan Erwin keburu pulang. Zara menyembunyikan ponselnya ke dalam nakas. Berjaga-jaga kalau Erwin sewaktu-waktu memeriksa ponselnya. Zara tidak mau mendapatkan masalah hanya karena menerima pesan tidak jelas seperti itu.
Sama seperti malam sebelumnya, Zara kembali menemukan kejanggalan. Seperti lipstik di dalam saku jas Erwin. Kali ini Zara yakin, Erwin memiliki hubungan dengan wanita lain.
Zara sebenarnya tidak ingin ikut campur dengan urusan Erwin. Tapi, dia merasa penasaran juga. Bagaimanapun, dia ini istrinya. Istri sahnya. Munafik kalau Zara tidak merasakan apa pun atas hal ini. Nyatanya, Zara terluka. Meski dia tidak yakin apakah rasa sakit di hatinya ini dikarenakan cemburu atau hanya karena dia merasa bahwa miliknya mungkin saja bisa direbut orang lain.
"Mau kusiapkan makan malam?"
Erwin mengangguk ringan. "Untuk dua orang."
Zara mengernyit. Dua orang? "Ada yang mau ikut malam dengan Mas?"
"Kamu, Zara. Aku tahu kamu belum makan malam. Seharian ini kamu tidak keluar kamar setelah sarapan, 'kan? Kamu pasti lapar."
Sanji pasti melaporkan segalanya pada Erwin. Zara tahu dia diawasi 24 jam. Di mana pun dia berada. Tapi, tetap saja, rasanya jijik sekali mengetahui ada orang yang akan menatapmu setiap saat hanya untuk mengabari orang lain apa saja yang kau lakukan.
"Aku akan turun." Zara keluar kamar. Sanji yang masih ada di depan pintunya, kemudian bergerak mengikuti langkahnya ke dapur. Mengawasi Zara memasak.
Meski muak, Zara bersyukur juga karena berkat adanya Sanji, Danta tidak akan berani mendekatinya dan melakukan hal aneh seperti terakhir kali saat mereka berpapasan di dapur.
Setelah makanan selesai dihidangkan, Erwin baru turun. Langsung bergabung di meja makan. Karena anggota keluarga yang lain sudah menyantap makan malam mereka, jadi, Zara dan Erwin hanya berdua saja di meja makan kini.
Erwin menyantap masakan Zara dengan lahap. Menciptakan rasa puas tersendiri di hati perempuan itu. Namun, di tengah rasa senang karena masakannya dihargai, Zara malah mengingat isi pesan yang dua hari ini memenuhi galerinya.
Bagaimana Erwin dan Shakira tampak begitu dekat, wangi parfumnya yang selalu berbeda ketika berangkat dan pulang dari kantor, lalu, noda di kemeja dan lipstik di jas.
Haruskah Zara bertanya langsung kepada Erwin? Tapi, Zara terlalu takut. Erwin sering tidak bisa menahan amarahnya sendiri. Erwin bisa bertindak kejam saat ada sesuatu yang mengusiknya.
"Kenapa kamu nggak makan?"
Zara menegakkan kepala, menatap suaminya itu. Lalu, beralih ke piringnya. Baru sadar kalau makanan dalam piringnya bahkan belum kurang satu sendok pun. Zara segera memakan sesuap nasi tanpa lauk. Pikirannya kacau, dan makan bukanlah sesuatu yang dia inginkan sekarang. Zara ingin berdiam diri di tempat yang sepi, kemudian memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk membuat rasa penasarannya menghilang.
Menyelidiki hubungan Erwin dan Shakira tentu saja akan sulit. Apalagi mengingat kalau Erwin memiliki pengawal, penjagaan yang ketat di sekitarnya. Kalau Zara sampai tertangkap basah, Zara tidak tahu lagi apa yang akan Erwin lakukan padanya. Pastinya bukan sesuatu yang mengenangkan.
"Aku ingin kerja lagi, Mas."
Mendengar perkataan Zara, Erwin memandang perempuan yang duduk di depannya itu cukup lama. "Kurasa lebih baik kau di rumah. Pekerjaanmu sudah di-handle orang lain. Di rumah kamu lebih aman."
"Tapi, aku bosan. Aku tidak bisa pergi ke mana pun."
Erwin meletakkan sendoknya. Menyatukan kedua tangan di atas meja. "Tidak ada yang bisa kamu lakukan di kantor, Zara. Harusnya aku memang tidak membiarkanmu mencampuri bisnisku. Kamu fokus saja memikirkan tawaran dariku."
"Tawaran?"
"Berikan aku anak dan aku akan memberikan apa pun yang kamu minta." Erwin mengambil kembali sendoknya.
"Kenapa Mas Erwin sangat ingin sekali memiliki anak?" Zara memberanikan diri bertanya. Sudah sejak lama pertanyaan itu mengganggu pikirannya.
"Kamu tidak perlu tahu alasannya." Pandangan Erwin berpulang pada Zara. "Katakan saja kalau kamu bersedia. Jangan menunda lebih lama lagi. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama."
"Aku tidak pernah bilang aku bersedia. Atau akan bersedia melakukannya."
"Zara." Erwin meletakkan kembali sendoknya. Kali ini benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya pada Zara. "Berhenti bersikap keras kepala. Kamu tidak rugi apa pun. Harusnya kamu senang mendapatkan apa yang selama ini kamu incar."
"Mas Erwin masih berpikir kalau aku menerima pernikahan ini karena uang?" Zara hampir tidak bisa menahan diri untuk tidak menaikkan nada bicaranya. Namun, dia sadar kalau ini sudah larut malam. Anggota keluarga lain mungkin sudah tertidur. "Harus berapa kali kukatakan kalau aku tidak tertarik dengan apa yang Mas punya?"
"Lalu apa yang membuat kamu menerima perjodohan ini?"
Karena Zara ingin menuruti perintah ayahnya untuk yang terakhir kali. Agar dia bisa bebas dari pengawasan ayahnya. "Karena ini adalah permintaan Ayah."
Erwin terkekeh. "Lagi-lagi si tua bangka sialan itu."
Zara tercekat mendengar perkataan suaminya.
"Harusnya kusingkirkan dia sejak awal. Tapi, karena dia malah menawarkanmu sebagai pertukaran, aku jadi mengabaikannya selama ini."
"Pertukaran?"
Erwin berdiri dari duduknya. "Tanya pada ayahmu apa yang dia sembunyikan dari putri kesayangannya soal perjanjian perjdohan ini. Mungkin dia akan memberitahumu hal lain juga."
Saat Erwin pergi meninggalkan ruang makan, Zara mengulang kembali perkataan Erwin barusan. Hal lain yang dimaksud Erwin itu apa?
Apa saja yang dua orang itu sembunyikan dari Zara?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent (✓)
Chick-LitPada malam pertama pernikahannya dengan Erwin, Zara diusir keluar dari kamar. Pernikahan mereka memang berjalan sangat cepat hingga Zara tidak sempat mengenal dengan baik siapa pria yang kini menjadi suaminya itu. Zara harus bersabar menghadapi sif...
