20 Dugaan Zara Benar

4K 124 2
                                        


Hari ini Roselyyn mengajak Zara pergi ke sebuah panti jompo untuk melakukan kegiatan amal. Seperti menyediakan makanan, memasaknya sendiri dan menyajikannya dalam piring-piring prasmanan yang ditata di tanah lapang depan panti. Kegiatan mereka diliput langsung oleh media.

Meski Zara sering membantu panti asuhannya dulu, tapi, dengan banyaknya orang dari kalangan atas yang ikut serta, membuat Zara merasa rendah diri.

Roselyyn mengenalkannya ke beberapa orang yang ikut membantu acara. Ada beberapa yang menerima kehadirannya dengan hangat. Namun, tak jarang juga, Zara merasa seperti tidak dianggap.

Berada di tengah orang seperti itu sangat menguras energi Zara. Badannya sampai lemas sekali saat acara selesai. Padahal, acara berlangsung kurang dari tiga jam. Dan sekarang belum tengah hari. Tapi, rasanya Zara ingin segera pulang dan tidur di kamarnya dengan nyaman.

Namun, dia tidak bisa melakukannya karena Roselyyn memintanya untuk mengirimkan makanan ke kantor Erwin.

Padahal, Erwin sering makan di luar.

Zara menghela napas. Turun dari mobilnya dan masuk ke gedung perkantoran yang sudah beberapa hari ini tidak dia jumpai.

Beberapa karyawan menyapanya, Zara balas mengangguk sopan dan tersenyum. Sampai di depan meja sekretaris, Zara sedikit heran karena meja itu kosong. Namun, memilih mengabaikannya saja.

"Maaf, Nona, Anda tidak boleh masuk." Zeff menghentikannya tepat sebelum Zara memegang gagang pintu.

"Kenapa?"

"Tuan sedang sibuk, dan tidak ingin diganggu," jelas Zeff.

"Aku hanya ingin mengantarkan makanan. Ini dari ibu mertuaku. Dia ingin aku memastikan kalau Mas Erwin memakannya."

Zeff tetap bergeming di depan pintu. "Maaf, Nona, Anda tetap tidak boleh masuk. Serahkan makanan itu kepada saya dan saya akan menyerahkannya kepada Tuan Erwin."

Zara menghela napas. Menyerahkan kotak makan siang di dalam tas kecil itu kepada Zeff. Kemudian berbalik badan. Namun, Zara mengurungkan niatnya. Dia jadi penasaran akan satu hal. Jadi, dia berbalik mengahadap Zeff lagi. "Bisa tolong ambilkan aku air?"

Ada jeda sebelum Zeff menjawab, "Tentu."

Segera setelah Zeff pergi, Zara membuka daun pintu berukuran besar di hadapannya itu. Dan dia kemudian mematung di tempat saat menyaksikan apa yang tersaji di hadapannya.

Erwin duduk di kursi kerjanya, sementara Shakira duduk di atas pahanya dan memeluk pria itu dengan erat.

Ah, jadi ini kesibukan yang Erwin lakukan?

"Mas Erwin."

Dua orang itu langsung saling menjauh begitu mendengar suara Zara. Shakira segera merapikan baju dan rambutnya. Bertingkah seolah tengah tertangkap basah. Dan, ya, Zara yakin sekarang kalau dugaannya tidak salah.

"Jadi, benar kamu berselingkuh?"

Erwin berdiri dari duduknya. Menghampiri Zara. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

"Bukannya lebih tepat menanyakan apa yang sedang Mas Erwin lakukan?" Zara berangsur mundur dan menekankan kata-katanya, "Mas Erwin berselingkuh."

"Bicara apa kamu?" Erwin menoleh ke arah Shakira. "Pergi dari ruangan ini sekarang!" suruhnya.

Perempuan itu berjalan keluar sambil menunduk. Aroma parfumnya saat melewati Zara membuat Zara mual. Semua ini sudah jelas, tapi, Zara masih merasa terkejut melihatnya langsung, dengan matanya sendiri. "Mama ngirim makanan." Untuk menahan air mata yang hampir tumpah, Zara menunduk lemas. "Aku akan pergi agar Mas bisa meneruskan apa yang sedang Mas lakukan."

Sebelum Zara sempat mengambil langkah, tangannya keburu dicekal. "Apa yang kamu lihat itu tidak benar. Kamu bisa mengecek CCTV di ruangan ini untuk memastikannya."

Zara melepaskan tangannya dari genggaman Erwin. "Benar atau tidak, itu bukan urusanku. Aku tidak peduli Mas Erwin memiliki hubungan dengan siapa pun. Toh, dari awal Mas Erwin memang tidak menginginkanku, 'kan?" Zara menatap wajah yang jauh lebih tinggi darinya itu. "Kenapa Mas Erwin tidak meminta anak dari perempuan itu alih-alih merecokiku setiap saat? Mas Erwin pasti akan lebih suka mendapat keturunan dari perempuan yang Mas suka."

"Zara, bicara apa kamu?" Erwin terlihat menghela napas pelan. "Duduklah, kamu lelah. Aku akan meminta sesorang untuk mengambilkan minuman."

"Tidak perlu. Lebih baik aku pulang. Tidak ada gunanya juga aku di sini."

Zara sudah mengambil langkah, namun, tangannya kembali dicekal. "Duduklah, Zara. Aku mohon berhenti bersikap seprti anak kecil. Hanya karena Shakira duduk di pangkuanku, bukan berarti kalau aku memiliki hubungan dengannya. Kamu tidak perlu memikirkan hal aneh seperti itu. Selama kamu masih menjadi istriku, aku tidak akan pernah berhubungan dengan wanita lain."

"Kenyataannya itu yang Mas lakukan. Aku sudah tahu, Mas. Kamu tidak perlu menyembunyikan apa pun lagi. Minta saja wanita itu untuk melahirkan anakmu, dan ceraikan aku."

"Zara!" Erwin menginggikan suaranya. Hal ini selalu membuat Zara ketakutan, tapi, tidak kali ini.

"Perempuan itu pasti akan langsung menerima permintaan Mas Erwin untuk memberikan keturunan. Kalian bisa berhubungan kapan pun dan di mana pun tanpa perlu ragu. Jelas saja, kalian bahkan tidak  tahu malu berhubungan di kantor, di tengah jam kerja seperti ini."

"Kamu keterlaluan, Zara."

Zara menantang mata yang mengkilat marah itu. Kemudian melepaskan diri dan menuju ke pintu. Namun, Erwin mendahuluinya. Erwin mengunci pintu itu dari dalam dan sekonyong-konyong membopong tubuh Zara di atas bahunya.

Perempuan itu menjerit saat sadar badannya telah menyentuh sofa, dan Erwin menopang tubuh di atasnya. Zara menahan tubuh Erwin dengan kedua tangannya, agar tidak terlalu dekat.

"Jika kamu melihatku melakukan hal ini kepada perempuan lain, maka, kamu bisa mengatakan kalau aku berselingkuh." Erwin meraih kedua tangan Zara dan mengalihkannya ke atas kepala perempuan itu. "Kamu terus saja mengatakan hal aneh."

Zara mendelik ketika sesaat kemudian, bibir Erwin menjemput bibirnya. Lembut dan hangat itu membuatnya merasakan gelenyar aneh. Nyaman yang merengkuh erat, membuatnya seolah dibawa ke dunia lain yang hanya diisi berdua. Dunia yang cocok untuk dijadikan rumah.

Namun, bukan ini yang Zara mau.

Sekuat tenaga, Zara mencoba melepaskan tangannya. Tapi, Erwin mencengkeramnya lebih kuat. Dan ciumannya kemudian semakin membuat Zara kewalahan.

Kecupan itu berangsur menyurut dan beralih lebih ke bawah. Zara tidak bisa lagi menahan isakannya. "Mas Erwin, lepas! Aku nggak mau!" Zara berteriak di sela tangisnya.

Erwin tercekat dan menghentikan apa yang sedang dia lakukan. Saat melihat wajah perempuan di bawahnya tengah menangis dengan rona ketakutan jelas tergambar, Erwin sadar apa yang dia lakukan tidaklah benar.

Erwin melepaskan tangan Zara, menangkup pipi perempuan itu. "Zara, aku tidak bermaksud ..."

Zara tidak mau lagi mendengar apa pun. Dengan kedua tangannya, Zara mendorong dada Erwin untuk bisa lepas dari pria itu. Kemudian berlari ke arah pintu. Keluar dari ruangan Erwin dan menuju elevator.

***

Iridescent (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang