61 | Penyesalan Datang Sebagai Pembuktian|

2.3K 246 77
                                        

《All we need just heal》

_I.N_

▪︎ Penyesalan Datang Sebagai Pembuktian ▪︎

===================================

☘☘☘

Lorong menuju ruang tunggu ICU terasa lebih dingin dari biasanya, seolah udara di sana ikut menahan napas bersama orang-orang yang menunggu kabar hidup dan mati. Lampu-lampu putih memantul di lantai mengilap, menciptakan bayangan panjang yang kaku. Di salah satu kursi, Bian duduk membungkuk, siku bertumpu pada lutut, kedua tangan saling menggenggam begitu erat sampai buku-buku jarinya memucat. Rahangnya mengeras. Tatapannya kosong, tapi jelas bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu banyak yang ia tahan sendirian.

Langkah kaki pelan terdengar dari ujung lorong. Bian tidak langsung menoleh, tapi tubuhnya menegang. Ia tahu siapa yang datang bahkan sebelum sosok itu benar-benar muncul di hadapannya.

Mahaka.

Pria itu berjalan dengan langkah berat, seolah setiap inci kakinya ditarik oleh beban yang tak terlihat. Wajahnya kusut, garis lelah tercetak jelas di bawah matanya yang sayu. Rambutnya berantakan, seperti tak pernah sempat disentuh sejak kemarin. Kemeja yang ia kenakan sudah tidak rapi lagi, kusut, sedikit terbuka di bagian kerah, memperlihatkan napasnya yang naik turun tidak teratur. Ia belum tidur. Jelas sekali. Mahaka berhenti beberapa langkah dari Bian.

Sejenak, tidak ada yang bicara. Bian akhirnya mengangkat kepala. Tatapannya langsung mengunci wajah Mahaka dan seketika itu juga, sesuatu dalam dirinya meledak. Bukan sekadar marah. Ini lebih dalam. Lebih pahit. Ia berdiri perlahan, tapi gerakannya kaku, seperti berusaha menahan dirinya agar tidak melakukan sesuatu yang akan ia sesali.

"Dokter nyariin keluarga pasien dari semalam, tapi lo nggak ada," suara Bian rendah, tapi tajam seperti pisau yang diseret di permukaan kaca. "Dan gue nggak boleh masuk."

Mahaka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Bian, mencoba menyusun napasnya yang masih berantakan setelah berjam-jam menemani Nuri di ruang rawat Andaru. Ada sesuatu di matanya, penyesalan, mungkin. Atau kelelahan yang terlalu dalam untuk diberi nama. Bian tertawa kecil, tapi tanpa humor. Lebih seperti ejekan yang tertahan di tenggorokan.

"Keluarga pasien." Dua kata itu ia ucapkan pelan, tapi penuh tekanan, seolah setiap suku katanya adalah beban yang ia lemparkan tepat ke arah Mahaka.

Mahaka mengerjap, sedikit mengalihkan pandangannya. Jelas ia merasakan maksud di balik kalimat itu.

"Cuma karena secara administrasi ada nama lo di atas nama dia, lo langsung disebut keluarga pasien." Kali ini Bian melangkah satu langkah lebih dekat. Jarak di antara mereka menyusut, tapi ketegangan justru semakin menebal. Napasnya mulai tidak teratur. Matanya memerah.

Mahaka membuka mulut, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada kata yang keluar. Untuk pertama kalinya, ia tampak… kalah.

Bian menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah berharap ada sesuatu, apa pun, yang bisa meredakan amarahnya. Tapi yang ia lihat hanya wajah lelah seorang kakak yang terlambat hadir, terlambat peduli, terlambat segalanya. Dan itu justru membuat dadanya semakin sesak.

"Di mana, ruangan dokter?"

Tidak ada nada membela diri. Tidak ada bantahan. Tidak ada kemarahan balik. Hanya pertanyaan sederhana, diucapkan oleh seseorang yang sudah terlalu lelah untuk berdebat.

INCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang