50

1.7K 187 24
                                        

"Selamat pagi Harlan" sapa dokter Salman dengan nada ceria nya, beberapa dokter muda, dokter jaga dan perawat berjalan di belakangnya.

    "Pagi" sahut Harlan, ia menarik ujung bibirnya.

   "Gimana keadaannya Harlan?sudah lebih baik ya" mereka mendekat pada bangkar Harlan.

   "Alhamdulillah dok" sahut harlan.
"Baik, dokter Zikra silahkan" ucap dokter Salman pada dokter jaga yang membawa kumpulan kertas.

   "Dek, tolong di cek tekanan darahnya" ucap dokter Zikra pada dokter muda yang terlihat malu malu.
   Dokter Zikra mengangguk, saat seorang gadis yang ia maksud menunjuk dirinya sendiri.

    Lalu ia menyiapkan dirinya, dan segera melakukan perintah.

    "Gimana dek?" Tanya dokter Zikra, pada gadis itu, yang terlihat bingung.

  Harlan melihat itu berbisik.
Gadis itu terlihat menatap mata indah Harlan, lalu ia melirik pada atasannya.

   Dan memejamkan matanya sembari berfikir.
'ini jawabannya bener ga ya, aduh ya Allah' eluhnnya dalam hati.

   Walaupun ia cukup terampil, namun jika berada di posisi ini dan situasi tegang seakan kini otaknya kosong melompong.

    Setelah memberi jawaban, ia menatap menuh harap pada dokter dokter dihadapannya.

   "Oh iya Harlan, ini ada surat persetujuan pengobatan. Yang udah saya bahas sebelumnya, jika kamu bersedia, silahkan di tandatangani" Harlan menerima, ia melihat surat persetujuan di tangannya.

   "Iya dok" sahut harlan.
"Nafas kamu bagaimana rasanya lan?" Sebenarnya mereka sudah tau lengkapnya dari saturasi oksigen, dan tarikan nafas harlan.

  Tapi mereka tetap harus bertanya.
"Alhamdulillah udah mendingan" dokter Salman mengangguk.

   "Nanti saya resepkan anti nyeri yang baru ya, dan akan saya urus dokter anestesi ke sini." Ucapnya, Harlan mengangguk. Ia tentu paham maksud mereka tanpa di perjelas.

   "Baik jika seperti itu, sampai jumpa Harlan. Selamat beristirahat" dokter tersebut pamit.

"Terima kasih dok" ucap Harlan. Pada dokter Salman, yang ia balas dengan senyuman.

****
   Selama di kantor pikiran Dikta dihantui oleh Harlan, hingga ia pusing.

     Sampai ia berada pada titik terakhir, dan kini ia berdiri di depan rumahnya, setelah cukup lama tidak pulang untuk makan siang dirumah.

   Hari ini ia pulang, selain untuk mengistirahatkan pikiran ia ingin melakukan sebuah tindakan yang telah ia pikir selama Berjam jam.

    "Abang" gina terlihat kaget, saat Dikta berjalan melewatinya ke arah dapur.
    "Tumben bang" ucapnya mengejar langkah lebar Dikta.
   Dikta memegang kepala gina, yang ia balas tepukan.
   "Biasanya Abang ga pulang, ada angin apa bang?" Tanya gina lagi, disisi lain ia bahagia dengan hadirnya Dikta hari ini.

   "Abang lagi hemat" sahut Dikta, didengar oleh salsa yang sedang berjalan membawa lauk dari dapur.

    "Hemat? Abang lagi butuh uang atau gimana?" Tanya salsa ia cukup terkejut mendengar ucapan Dikta.

   "Ga kok ma, Alhamdulillah uang Abang cukup" salsa terlihat tersenyum manis, sudah beberapa bulan ini melihat perubahan pada Dikta.

   Mulai dari ucapannya hingga kebiasaan yang kini menjadi lebih baik. Dan salsa senang akan hal itu.

    "Ayah mana de-" saat ia bertanya orang yang ia maksud datang, dengan wajah letih.

    "Nah udah ada ayah, ayo kita makan" salsa berucap, salsa dan Dikta mulai menyendokkan lauk ke dalam piring. Seperti biasa Johan akan di layani dengan kasih sayang oleh sang istri.

langkah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang