55

825 106 7
                                        

Tatapan kosong Johan terlihat. Ia terduduk lesu di dalam ruangan kantornya.

Ia melamun cukup lama, bahkan sampai lupa pada berkas berkas yang masih ia pegangi.
Hingga suara ketukan pintu terdengar, menghancurkan lamunannya. Lalu mempersilahkan orang tersebut masuk.

Masuklah beberapa orang dengan wajah khas bangsa eropa, dengan beberapa orang yang sudah cukup berusia menuntun mereka masuk.

Para kolega, mempersilahkan orang orang dengan wajah eropa itu masuk, dan Johan segera mempersilahkan mereka untuk duduk, di sofa.

****

Salsa duduk di sofa, yang sedang sibuk dengan laptop. Ia terus terusan mendapatkan telepon entah dari siapa Harlan tidak tau, ia tak melakukan apa apa, sepanjang hari.

Terkadang ia curi curi pandang pada sang ibu yang terlihat fokus pada perkejaannya. Namun tetap memperhatikan Harlan.

Saat ia terbatuk, salsa sontak berdiri dan menghampiri.
"Harlan, kamu ga papa?" Terlihat gurat khawatir di wajah sang ibu, Harlan mendongak. Lalu menggeleng pelan, dan salsa menghela nafas lega.

"Mama khawatir banget, kirain kamu sesak. Kalo ada apa apa bilang ya, nak" salsa menyentuh pundak Harlan, dan mengelusnya lembut.

Harlan hanya mengangguk, ia sesungguhnya sangat senang mendengar dan mendapatkan perhatian yang selama ini ia impikan.

Salsa tentu sangat khawatir apalagi ia mendapatkan kabar tidak mengenakkan setibanya di ruangan Harlan, oleh Johan.
Tatapannya sontak beralih pada Harlan yang memejamkan mata, dengan masker oksigen yang menutupi sebagian wajah tampannya.

untungnya penjelasan dari dokter visit yang datang tepat sesaat setelah penanganan berhasil menenangkan sepasang orang tua dari pemuda itu.

"Dada kamu kerasa sakit ga? Posisi kamu nyaman? Dingin ya? Mau mama naiking suhunya?" Senyum tipis diwajah Harlan tercipta.

"Aku ga papa, Alhamdulillah" salsa menarik garis senyumnya.
"Mama lanjut dulu ya" izinnya, lalu kembali duduk di sofa. Ia sangat sering melirik ke arah bangkar, yang terkadang Harlan menaikkan posisinya, ia mengubah posisinya sesuka hati. Terkadang duduk mengarah ke jendela.

"Assalamualaikum" pintu terbuka gina segera berlari pada Harlan, ia sampai lupa melihat salsa di sofa.

"Wa Alaikum salam" sahut keduanya.

"Kakak, ta daaa" gina dengan riang gina menunjukkan hasil dari kerja kerasnya dalam merevisi tugasnya beberapa hari yang lalu.

Harlan terlihat terkejut, dan menatap handphone canggih milik gina, yang tertera nilai disana.

"Pinter banget adek kakak" ia mengusap rambut panjang gina, mata gina memejamkan dengan senyum senang.

"Makasih kakak" ia lalu memeluk Harlan, yang terkekeh.
"Sama sama adek" gina mengeratkan pelukan, dan memekik kesenangan.

"Sana tunjukin dulu nilainya ke mama" bisik Harlan, gina sontak melepas pelukan dan melebarkan matanya.

Lalu berbalik melihat ke arah sofa, di mana salsa sedang memperhatikan tingkah hangat kakak beradik itu.

"Eh mama" gina turun dari bangkar Harlan, ia dengan wajah cengengesan mencium tangan dan pipi salsa, seperti kebiasaan mereka.

"Ma. Nilai gina udah keluar ni" ia juga menunjukkan hal yang sama pada gina.
Yang memberi apresiasi padanya juga, seperti Harlan.

"Bener ya ma, apa yang kakak bilang" salsa mengangguk, ia mengembalikan ponsel gina pada pemiliknya.

"Emang kakak panutan" ia mengacungkan kedua jempolnya. Yang mendapat gaya sombong dari Harlan, yang menepuk bangga dadanya.

langkah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang