Baru saja ia menginjakkan kaki di pekarangan rusun, ia telah disambut oleh tetangganya.
"Lan, udah sehat lu?"
"Ya ampun lan, Alhamdulillah lu udah baekan"
"Gua Ampe kepikiran lu lan tiap hari"
Ucap tetangganya yang sangat menghawatirkan pria sebatang kara itu. Apa lagi semenjak nyak Imah meninggal.
Dikta membuka pintu dengan sedikit mengangkat, karna Harlan tidak sempat memperbaiki pintu.
"Masuk, ma" ucap Dikta melihat sang ibu yang mematung di tempat.
Tak lama langkah kaki terdengar mendekat.
"Lan" pekik seseorang lansung memeluk Harlan.
"Mak kangen ya?" Harlan terkekeh saat ibu dari Cecep memeluknya erat.
"Cape tau Mak minta Cecep nelepon. Katanya lu ga aktip" cengiran Harlan membuat nya sedikit lega.
"Maaf ya Mak, bikin khawatir. Hp Harlan rusak, udah dibeli baru sama Abang tapi Harlan lupa mindahin kartunya" jelas Harlan.
Di sisi lain, salsa hanya dapat melihat dengan miris. Harlan berpelukan dengan seseorang yang yang disebut 'mak'. Yang bahkan ia tidak mendapat perilaku yang sama seperti wanita itu dapat dari Harlan.
"Eh maaf, saya ga liat liat. Saya tetangganya Harlan" ibu Cecep itu memperkenalkan diri pada salsa yang kini memberi senyum ramah.
"Ga papa, saya mamanya Harlan" salsa ikut memperkenalkan diri.
"Oh mamanya. Maaf ya Bu tingkah saya berlebihan sama anak ibu" ia merasa tak enak.
"Eh saya ga masalah kok buk, yang ada saya malah seneng ada yang sayang sama Harlan" salsa mampu menepis rasa cemburunya lalu menonjolkan sisi positif dari peristiwa itu.
"Duduk dulu Bu. Biar saya bikinin teh" salsa mengangguk. Ia duduk di atas sofa lapuk yang mengarah ke dapur dan jendela yang dipenuhi tanaman Harlan.
Harlan membereskan barang barangnya, ia cukup terkejut saat melihat. Kasur tipisnya kini terlah berganti dengan kasur empuk. Ac di dinding. Dan air purifier di sudut ruangan. Tentu ini ulah Dikta.
"Makasih ya bang" ucap Harlan saat Dikta memasukkan pakaian Harlan ke dalam lemari usang itu.
"Sama sama, sorry gua ga minta izin sama lu. Gua kira lu bakal marah" itu benar adanya Dikta sempat berfikir Harlan akan kesal karna barang barang miliknya ia ganti.
"Enggak lah bang, yang ada gua bersyukur" Harlan mendudukan diri di kasur yang saat itu juga ia merasa keempukan jauh di banding miliknya dulu.
"Ini Bu, maaf seadanya" ibu Cecep menyajikan teh yang telah ia buat.
"Terimakasih" ucap salsa lalu menyesap pelan teh hangat dalam di gelas itu.
"Sama sama Bu, eumm" ia terlihat bingung ingin memulai obrolan.
"Ibu tinggal di samping?" Tanya salsa. Ia cukup penasaran dengan kehidupan anaknya.
"Ah enggak buk, saya di lantai bawah" jelasnya.
"Dulunya awal Harlan pindah ke sini saya ga akrab sama dia. Trus sampe suatu hari dia nyelamatin anak saya di gang sempit abis di kroyok sama orang orang perkara kalah taruhan" lanjutnya. Salsa terlihat tertarik dengan cerita itu.
"Trus Cecep cerita ke saya, besoknya saya ke sini bawain rendang. Karna itu satu satunya makanan yang menurut saya paling layak untuk berterima kasih" senyum di wajahnya saat mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Jadi gitu deh Bu" ia mengakhiri ceritanya dan melihat raut wajah salsa yang terlihat menahan sedih.
Harlan dan Dikta yang berada di dalam kamar sempit yang hanya dibatasi oleh triplek tipis dapat mendengar dengan jelas cerita itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
langkah
AcakMemperbaiki hubungan yang telah lama memudah, berusaha agar kembali berwarna seperti sedia kala.
