"ya udah dek ga papa, nanti Abang bantuin ya" Dikta menenangkan gina yang menangis karna lelah mengerjakan tugas, namun tidak diterima karna sedikit kesalahan.
"Sini coba kakak liat" gina membawa tugas yang sudah ia garap.
"Bukan tugasnya, tapi kamunya" gina lansung masuk ke pelukan Harlan.
"Adek kesel tau kak" Harlan terkekeh dan mengelus lembut kepala gadis itu.
"Tadi gimana gurunya ngomong" Harlan menyelipkan rambut gina ke belakang telinga.
Gina memperagakan gerak guru itu dengan rasa menyebalkan.
"Gini 'masa kesalahan gini aja kamu ga sadar, ibu ga mau tau revisi! Besok harus udah ada. Karna telah lewat satu hari nilai kamu ibu kurangi' gitu kak" harlan menanggapi, mengikuti energi gina. Gina duduk di bangkar Harlan.
"Masa begitu, ga bener tu guru. Besok pas kakak keluar dari sini kakak labrak tu guru, berani beraninya dia. Ganggu adek kakak ga tau aja kakak siapa. Pake kurangi nilai segala." Gina terlihat lebih baik mendengar itu, ia mengangguk dengan semangat. Setuju akan pembelaan Harlan terhadapnya.
"Cape tau kak, awas aja nanti aku buktiin kalo nilai aku paling tinggi" ucapnya dengan pede. Harlan memberi jempol.
"Gitu dong, balas dengan hal positif. Alamat gurunya, jangan lupa dek" Harlan mengedipkan matanya. Lalu tawa gina terdengar, ia mengusap air matanya.
"Biar kakak yang urus" ucapnya menepuk dada dengan percaya diri.
"Makasih kakak" gina memeluk harlan, senyum Harlan berubah menyendu. Ia memejamkan matanya. Merasakan pelukan hangat.
"Ayo kak bantu gina revisi" ucap gina dengan semangat, senyum konyol Harlan terlihat.
"Waduh kalo yang itu kakak angkat tangan." Harlan mengangkat tangannya.
"Kan kamu tau sendiri nilai kakak dulu gimana. Sampe rapornya aja masih di sekolah ga ada yang ngambil" ia tertawa, gina awalnya ikut tertawa lalu ia tersadar.
Dikta dan Johan yang mendengar di sofa, dengan laptop meja sontak mendongak. Johan menatap jarinya yang sudah tidak lagi mengetik.
Salsa yang mendengar itu tepat saat ia masuk, terdiam di tempat.
Melirik ke arah suaminya dan Dikta di sofa. Ia juga melihat Harlan dan gina, di balik sela sela pembatas.
Sadar akan keheningan, Harlan segera mengubah topik.
"Adek malu banget pasti tadi" ucapnya, gina lansung teringat saat ia di marahi di depan kelasnya.
Gina kembali merasa kesal.
"Ihhh kesel" Harlan lalu teringat sesuatu.
"Sini kakak bisikin sesuatu"gina mendekatkan telinganya.
"Ayo" terlihat mata berbinarnya yang bersemangat.
Gina segera berjalan menuju kulkas. Ia mengambil 2 eskrim. Lalu kembali pada Harlan yang sudah menunggu.
Dikta tentu penasaran, melihat mereka hendak keluar.
"Mau kemana?" Tanya nya, masih dengan nada datar. Tak sengaja matanya bertemu dengan salsa.
"Ada deh. Abang kepo ih" gina mengeratkan rangkulannya pada lengan kekar Harlan.
Lalu kembali berjalan, dan mereka berpapasan dengan salsa. Yang lansung mengembangkan senyumnya.
"Mau kemana?" Tanyanya dengan suara halusnya.
"Mau jalan jalan ma" ucap gina sedikit berbisik, lalu salsa mengangguk.
Gina hendak menarik kembali lengan Harlan.
"Adek, tunggu" gina berbalik. Tidak dengan Harlan.
Salsa mengeluarkan sesuatu dari ras Dior-nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
langkah
AcakMemperbaiki hubungan yang telah lama memudah, berusaha agar kembali berwarna seperti sedia kala.
