Disini mereka berada, Harlan yang makan sarapan di temani salsa.
Wajah cerah salsa setia menghiasi pagi harlan, ia merasa sangat canggung. Hingga terasa seperti ia yang dingin, yang sebenarnya itu bukan lah hal yang ia inginkan.
Meskipun seperti itu, salsa tetap berusaha membuat suasana lebih hidup. Harlan terus melanjutkan suapan demi suapan, hingga habis.
"Sudah habis? Sini biar mama beresin" Harlan segera membereskan sendiri, ia menyusun mangkuk, mengumpulkan plastik wrap.
Salsa tak jadi melakukannya, saat Harlan segera berdiri dengan tangan kiri memegang mangkuk, dan tangan kanan mendorong tiang infus.
Senyum tipis salsa terlihat, ia berusaha meyakinkan diri. Jika perlahan lahan ia pasti akan bisa mengembalikan putranya dahulu, yang hangat, manis, periang, dan penyayang.
Dulu, ia bahkan tidak terlalu sadar jika ia memiliki seorang putra, dengan sifat yang sangat baik. Kini ia teringat hal itu, disaat putranya sudah berubah.
Didalam hatinya Harlan menggurutuki dirinya sendiri, ia sebenarnya tak ingin seperti ini. Namun mau bagaimana lagi.
"Kak. Mama sebentar lagi mau pulang sebentar, nanti ada ayah yang gantikan mama, kamu mau titip sesuatu?" Harlan berdiri menghadap ke jendela, menatap gedung gedung tinggi, dan langit cerah.
"Ga ada. ma" ia sangat ingin kembali terbiasa mengucapkan panggilan itu.
Senyum salsa kembali terbit. Hanya satu kata sederhana yang membuat perasaannya menjadi lebih baik.
"Mama ga pulang sekarang kok, mama nungguin ayah datang dulu" jelas salsa, Harlan mengangguk. Ia sesekali menatap dalam mata salsa, namun beralih saat ia rasa canggung.
Tak lama suara pintu terdengar, Johan muncul di balik sekat.
"Kamu lansung pulang kan." Johan berdiri di hadapan salsa, salsa mengangguk.
"Tolong jaga kakak ya mas, ga lama kok. Nanti aku langsung kesini lagi" Johan kembali mengiyakan, padahal istrinya sudah mengulangi hal itu 3 kali sedari masih di ponsel.
"Oh iya mas, nanti ada dokter visit." Lalu Johan melihat ke arah pergelangan tangannya.
"Iya, udah jadwalnya. 30 menit lagi" salsa segera pamit. Dan mencium tangannya sebelum pergi.
"Mama pergi ya kak" tak lupa ia berpamitan pada Harlan yang sedari tadi berusaha tidak melihat dan tidak mendengar percakapan sepasang kekasih itu.
Lalu ia berbalik saat merasa di panggil, dan mengangguk.
'mampus gua' batinnya, saat Johan menarik kursi di sampingnya.
"Dokter jaga udah kasi obat?" Johan menemukan pengawalan dari topik.
Karna saat di rumah sakit, jadwal minum obat, dan jumlahnya sudah di atur oleh para dokter dan perawat.
"Udah" sahutnya singkat, Johan juga melihat bungkusan khas obat di rumah sakitnya.
Johan berdiri, mendekati nakas bagian kiri Harlan.
Ia melihat barang barang yang ia tau pasti dibawakan oleh Dikta,salsa dan gina.
Bagaimana tidak, dipenuhi oleh bunga segar dari gina. air purifier salsa dan banyak jenis multivitamin dengan merek terkenal.
Ia melihat lihat ingredient list di belakang tabung vitamin itu.
"Ini udah diminum?" Tanya Johan membalikkan badannya, dan menunjukkan barang yang ia maksud.
Harlan terlihat berfikir.
"u...dah" terdapat keraguan disana, karna memang ia lupa.
Johan kembali berbalik, dan tak sengaja melihat kertas kertas yang di satukan, ia temukan dalam laci.
Kata demi kata ia baca, awalnya ia sudah menduga dari tampilan yang khas. Lalu memastikan hingga lembaran terakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
langkah
AcakMemperbaiki hubungan yang telah lama memudah, berusaha agar kembali berwarna seperti sedia kala.
