Dikta sudah meminta cecep dan orang tuanya untuk menyiapkan tempat di rumah Harlan. Ia juga telah mengirim beberapa peralatan baru untuk memudahkan kehidupan Harlan.
"Terimakasih" ucap Harlan manis pada dokter berambut pendek itu.
"Sama sama mas" ia lalu merapikan kembali alat alat dan keluar.
"Eum.. Fitria" tepat sebelum pintu tertutup.
"Ya? Ada keluhan lain?" Tanya Fitria yang melangkah masuk.
"Ah enggak, saya mau bilang semangat ya." Ucap Harlan, Fitria lansung tersenyum manis. Dan mengangguk.
Tak lama Dikta dan salsa masuk. Mereka sudah siap membawa Harlan pulang.
"Lan, hp lu mana?" Tanya Dikta saat membereskan barang barang Harlan.
"Ni" sahutnya mengeluarkan ponsel lama yang sudah ia karetkan.
"Ya ampun lan, yang baru gua beli?" Harlan lansung ingat.
Ia segera mencari dalam nakas di antara kertas kertas.
"Ini bang" ia terlihat lega dan sumringah. Cukup takut saat pemberian sang Abang hilang karna keteledorannya.
"Usahakan hp selalu di genggaman, kalo ada apa apa kan mudah" Harlan mengangguk patuh.
"Nak, bekas infusnya sakit ga?" Terlihat salsa menyentuh agak jauh dari bekas itu.
"Ga sakit kok ma" itu cukup menenangkan salsa. Karna beberapa waktu lalu Gina mengeluhkan sakit pada bekas infusnya.
"Oke udah siap kan? Ayo" salsa dan Harlan mengangguk.
"Tunggu, mama ambil kursi roda dulu ya" salsa hendak mengambil kursi roda di sudut ruangan.
Namun Harlan menolak.
"Ma. Ga usaha, Harlan kuat kok" tangan salsa pun melepaskan kursi roda itu, meski khawatir pada anaknya yang terlihat belum cukup sehat.
Dikta memiliki ide cemerlang.
Ia mengambil alih semua barang untuknya.
Bahkan ia meminta tas ibunya.
"Biar mama aja bang, bawaan kamu sebanyak itu." Dikta malah mengedipkan matanya.
"Yaudah kalo ga mau kursi rodanya. Kakak pegangan aja sama mama" untungnya salsa menangkap maksud si sulung dengan cepat.
Harlan sangat ingin berteriak kepada dunia, "Alhamdulillah woi mama masih sayang" meski hanya di dalam batinnya.
Harlan mengangguk setuju. Senyum salsa terlihat sangat manis. Ia lansung menggandeng lengan sang anak yang jauh lebih tinggi.
"Tas nya biar Harlan bawa aja bang." Dikta menolak dengan halus, ia berjalan lebih dulu meninggalkan anak dan ibu itu di belakang.
Suasananya terasa sangat canggung.
Ia merasakan kasih sang ibu sangat erat di lengannya.
Salsa juga merasakan tiap otot di lengan sang anak yang terasa sangat keras.
"Kakak kita pulang ke rumah aja ya, mama udah masak makanan kesukaan kakak." Suara lembut salsa mengalun di telinganya.
"Harlan pulang ke rusun ma" hanya itu yang salsa dengar. Kalimat tegas namun masih terasa lembut, meski hatinya teriris.
"Kamar kakak udah mama beresin tau." Salsa masih berusaha tapi tak ingin terkesan memaksa.
"Iya ma" hanya itu, ia tak mengucapkan kalimat tegas itu lagi. Hanya mengiyakan karna gak ada ajakan dalam kalimat sang ibu.
Salsa semakin sedih karna Harlan terlihat hanya diam saat ia masih berharap sang anak mengiyakan.
"Yaudah kalo gitu, mama mau tinggal sama kakak aja" pernyataan itu membuat Harlan agak pusing.
KAMU SEDANG MEMBACA
langkah
AcakMemperbaiki hubungan yang telah lama memudah, berusaha agar kembali berwarna seperti sedia kala.
