56

902 103 3
                                        

     Pintu rumah Harlan terbuka, ia perlahan masuk dan membuka jendela yang terdapat beberapa sayur yang Harlan tanam. Masih terlihat sehat karna ia rutin menyiramnya selama Harlan tidak ada.

     Tak lupa ia juga membersihkan rumah Harlan, tak banyak hanya menyapu, mengepel, dan lainnya. Karna Harlan tergolong pria yang rapi dan bersih.

   Sebenarnya ada rasa penasaran dan resah di hatinya. Ia sangat ingin mengunjungi Harlan, dan ingin tau bagaimana keadaan anak itu saat ini.

   Tapi ia tak tau harus menghubungi siapa, handphone Harlan tidak aktif semenjak hari itu.

    Di sisi lain juga ia cukup lega. Karna  kini sudah ada keluarga di sisi Harlan.

    
   "Yang bener aja bang, ih Abang mah" Dikta menatapnya serius.
   Ia menceritakan pada gina kejadian hari dimana Harlan membawanya pada sekumpulan wanita paruh baya. Yang lalu meraba raba tubuhnya.

     "Ga percaya tanya aja sama kakak, ia kan lan" Harlan mengangguk ia tertawa melihat wajah shock gina.

   "Kok gitu sih, geli tau" gina merinding mendengar pembenaran dari Harlan.

    "Eh jangan mikir aneh aneh kamu dek" tegur Dikta, "mereka baik tau aslinya. Iyakan lan?" Lagi lagi Harlan mengangguk.

    "Nanti deh kakak cerita" kini Harlan bangun dari kursi panjang di tengah lalu lalangnya orang yang beraktivitas di rumah sakit.

"Kak mau kemana?, ikut" Dikta juga mengikuti langkah gina di samping Harlan.

    "Kok kesini bang?" Meski heran akan tingkah Harlan yang tiba tiba gina tetap mengikuti.

    Harlan mengetuk sebuah ruang dan seseorang dengan wajah kelelahan keluar.

    "Bang" ucap orang tersebut dengan nada yang sontak ceria.

  Dikta dan gina tentu bingung.
Pria tersebut melakukan tos dengan Harlan dan memeluknya.

     "Lama ga ketemu bang, gua juga dapat kabar lu di rawat di sini" putra melepas pelukan dan menatap Harlan yang tersenyum merekah.

    "Lu kangen pasti kan" Harlan tertawa. Lalu dari pintu sebelahnya keluar seorang wanita. Rambutnya masih acak acakan akibat hanya dapat beristirahat sebentar karna jaga malam.

    "Bang Harlan" panggilnya riang.
"Eh Nadia, apa kabar" Nadia bahkan tak sempat memakai sepatunya saking bersemangat mendengar suara Harlan.

    "Alhamdulillah ga jelas bang" Nadia tersenyum tipis.

   "Nasib dokter itu mah" Harlan mengode penampilan Nadia dengan dagunya.

    Nadia sontak tersadar, ia melihat putra yang menahan tawa dan memegang wajah putra agak menatapnya. Ia melihat pantulan bayangan dirinya di kaca mata putra.

    Tak Nadia ketahui perasaan putra saat ini, jantungnya berdetak kencang. Saat Nadia memperbaiki penampilannya secara asal asalan.

    Namun hal itu dapat Harlan sadari sebagai pria dengan rasa peka yang cukup tinggi.

    Setelah merapikan rambutnya dan mengucek matanya Nadia kini tersenyum pada putra.

   "Oke thanks" putra hanya mengangguk canggung.
   "Eh bang tau ga?," ucap Nadia singkat.
"Kaga, kaga tau. Buruan kasi tau penasaran ni" Harlan segera memotong, karna tau Nadia akan bertele tele.

   "Tadi malam kan gua jaga malam tu, ketemu sama pasien yang kita bantu dulu bang, Abang ingat ga yang bapak bapak Aritmia takut istri?" Harlan lansung ingat, ia mengangguk Nadia kembali bercerita.

langkah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang