51

1.5K 194 13
                                        

   Pintu kamar tertutup, langkah Johan ia bawa menuju istrinya yang menangis di ranjang.

    "Sayang..." Panggil nya ia duduk di samping salsa yang tersedu sedu.
Lalu tangannya melingkar dari belakang tubuh salsa.
Johan memberi rengkuhan hangat.

    Dengan sabar Johan menunggu istrinya lebih tenang tanpa mengucapkan sepatah katapun, khawatir jika ucapannya semakin memperburuk keadaan.

   "Ini bukan hal sepele mas" disela tangisnya salsa berucap dengan rasa kesal menyuak di dadanya.

   "Mas anggap aku ini apa sih?" Ia menatap mata suaminya, tersirat rasa bersalah yang mendalam.

    "Selama ini aku diam mas, bukan berarti aku ga peduli, bukan" ia merasakan usapan lembut di lengan atasnya.

   "Mas ga tau perasaan aku selama ini gimana? Mas tau? Sebagai seorang ibu aku merasa gagal total. Dan aku juga bodoh ga berusaha, aku dulu milih diam cuma biar rumah tangga kita ga hancur. Ternyata cinta aku yang terlalu dalam, ga berarti untuk kamu mas" ucapnya penuh kesedihan.
Mendengar itu Johan segera mendekapnya erat, ia tak membiarkan salsa melepaskan diri dengan memukul dada bidangnya.

    "Shttt.. mas ga bermaksud gitu sayang.." saat ia tak lagi mendengar unek unek salsa, kini ia menenangkan salsa. Dengan ucapannya yang lembut disertai kecupan di dahinya.
   Begitu pula dengan bahu dan punggung yang setia ia usap.

    "Mas jahat.." tangisnya semakin pecah, Johan tak menahan tangan salsa yang memukul dadanya, ia menerima dengan lapang dada salah satu dari akibat, yang telah ia perbuat.

     Gina masih terdiam dikamar, Dikta berdiri di depan kamar gina, ia setia berdiri disana takut terjadi sesuatu dan ia harus sigap.

   Gina duduk di kasurnya, menatap ke arah ke dua tangannya. Lalu ia kepalkan.

    Dan tangis kembali terdengar, ia menahan sekuat tenaga. Karna ia tau jika Dikta pasti berada di dekatnya.

    "Adek... Abang tunggu di depan ya" Dikta mengetuk pintu, berucap. Dan menunggu di tempat yang ia maksud.

   Di teras rumah ia duduk di kursi, memikirkan apa yang telah ia lakukan dan apa yang akan terjadi.

    Dalam lamunannya ia sampai tak sadar jika gina sudah berdiri di samping.

   "Bang" gina menepuk bahu Dikta pelan yang terlihat agak terkejut.
   Dikta memberi senyum manisnya pada sang adik yang telah mengganti pakaiannya, dan berpenampilan lebih baik. Setelah ia bujuk. Dengan kata kata.
   "Masa adek mau keliatan kucel gini di depan kakak, sana dandan yang cantik. Biar kakak terpesona" ia berbisik dengan nada bergurau di akhir kalimat.

    "Ayo" ajak Dikta, gina mengangguk dan berjalan di belakangnya.

    "Abang udah lama tau?" Tanya gina, Dikta terlihat memikirkan jawaban yang cocok.

    "Udah, hampir setahun yang lalu Abang tau" ucapnya, ia tak ingin lagi membohongi orang lain.

   "Kenapa Abang ga bilang?" Tatapan gina terlihat lurus kedepan.

   "Kakak pernah minta Abang janji, ga bilang tentang penyakit dia kesiapapun, mau ga mau Abang turuti. Karna di posisi itu abang takut banget kakak pergi, atau menjauh dari abang" jelasnya, gina mengusap matanya.

   Dengan peka Dikta memberi tisu.
"Jadi Abang hari ini ingkar janji sama kakak?" Tanya gina lagi, ia kini menatap wajah Dikta dari samping.

   Dikta mengangguk.
"Iya, tapi setidaknya Abang udah minta maaf sebelumnya ingkar janji." Gina terlihat bingung, lalu mulutnya berbentuk huruf o.
  "Jadi itu maksudnya Abang di rumah sakit" kini gina paham maksud Dikta yang meminta maaf pada Harlan tanpa sebab, sesaat sebelum pulang ke rumah.

langkah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang