Tiba waktu subuh, Harlan seperti biasa bangun untuk sholat.
Tanpa melihat ke sekeliling. Ia memilih khusyuk.
Tak lama, Dikta terbangun melihat Harlan yang sedang menunaikan ibadah sholat. Ia segera berwudhu.
Setelah selesai, Harlan berdoa cukup lama, kemudian berzikir.
Tepat setelah ia selesai berzikir, Dikta selesai sholat dan berdoa.
Dikta segera melipat sajadah, ia mengikuti langkah Harlan, yang mendorong tiang infus keluar.
Mengetahui Harlan melakukan kebiasaannya, Dikta pun ikut.
Ia berjalan disamping Harlan yang hanya diam sedari tadi.
"Dokter jaga udah ganti shift kayanya" ucap Dikta saat melewati nurse station. Ia tak terlalu mengenal dokter atau perawat disana, berbeda dengan Harlan.
Harlan melihat ke arah jam.
"Belum, 21 menit lagi" ucapnya lalu melanjutkan langkah.
Dikta terlihat bingung, ia terlihat berfikir. Hingga sadar Harlan sudah menjauh.
"Lan, tunggu" ia berlari mengejar Harlan yang untungnya belum terlalu jauh.
Harlan berbelok ke kiri, dan masuk ke salah satu lift. Ia menunggu Dikta masuk, dan menekan tombol.
"Lu ngapain ke sana?" Lalu Dikta tersadar, ia ingat pada kebiasaan Harlan yang satu ini.
Harlan tak menjawab ia keluar saat lift sudah berada di lantai yang ia tuju.
Namun kini kebiasaan Harlan yang ia duga, salah. Namun ada benarnya.
"Harlan" panggil seorang wanita tua, dengan pakaian khas ibu ibu berolahraga. Energi positif beliau yang melambai dengan semangat dari kejauhan, membuat Harlan ikut merasakan semangat.
Lalu senyum manis Harlan terbit, matanya berbentuk bulan sabit.
Tak lupa membalas lambaian lebih terasa Santai.
Saat ibu ibu lain mendengar mereka ikut mendekat.
"Kasep" pekik salah satu dari kumpulan wanita paruh baya disana.
Mereka berebutan merangkul Harlan. Dikta terkejut sekaligus panik.
"Eh eh buk" mereka tidak menghiraukan Dikta.
"Yuk ikut" mereka menuntun harlan ke posisi mereka.
Harlan hanya mengangguk, ia ikut serta dalam keseruan wanita tua disana yang mulai kembali melanjutkan senam dengan gembira.
Dikta tak tinggal diam, ia ikut. Ikut mengawasi Harlan, ia sangat siaga agar wanita wanita tersebut tidak berlebihan kepada harlan. Yang bersikap sangat santai.
Harlan terlihat sangat menikmati lagu dan suasana menyenangkan disana, wanita paruh baya tadi, mengapit tangan Harlan yang terbebas dari infus, dan menuntun Harlan untuk ikut mengikuti ritme musik yang awalnya musik senam Normal kini berubah jadi musik DJ.
Dikta sangat panik awalnya, tapi melihat wajah berseri Harlan yang terlihat lebih berwarna dari sebelumnya, maka ia biarkan saja.
Untungnya Harlan tau diri, ia tidak bertingkah berlebihan. Dikta juga paham, bagaimana perasaan Harlan. Mungkin dengan itu Harlan dapat merasa senang seperti saat ia bersama nyak Imah dulu.
"Mang udah mang" pekik wanita yang menarik pelan tangan Harlan tadi.
Musik DJ itupun berakhir, ia membawa Harlan kepinggir, dimana cahaya matahari di halangi oleh pohon besar. Wanita tua lainnya ikut, duduk di beton yang biasa di gunakan sebagai tempat duduk, bahkan rebahan oleh mereka.
"Ni minum lan" salah satu dari mereka memberikan sebotol air mineral kemasan.
"Alhamdulillah, makasih buk" ucapnya dengan manis. Melihat itu wanita tersebut mencubit gemas pipi Harlan.
KAMU SEDANG MEMBACA
langkah
De TodoMemperbaiki hubungan yang telah lama memudah, berusaha agar kembali berwarna seperti sedia kala.
