Mata Dikta perlahan terbuka, ia mendengar kericuhan di lingkungan sekitar, dari suara anak anak, ibu ibu sedang memasak, menyapu, dan lainnya.
Dimana Susana seperti itu tidak pernah ia rasakan selama ini, lalu ia mencium aroma makanan yang sangat wangi, lalu ia bangun membuka jendela, terlihat warga yang berinteraksi dengan sesama.
Suara percakapan ibu ibu yang sedang membeli sayur, bapak bapak dengan burung di dalam sangkar.
Anak kecil yang disuapi ibunya nasi, juga remaja yang memakai sepatu hendak pergi sekolah.
Dikta terlihat sangat menikmati suasana khas itu, lalu pintu kamar terbuka.
"Bang yuk makan" ucap Harlan, Dikta mengangguk, lalu ikut di belakang Harlan berjalan ke meja makan sederhana.
"Udah bangun ya, makan yang banyak ya jangan malu malu" ucap nyak Imah ramah.
"Nyak mah gitu, sama yang ganteng ngomongnya manis bener, sama Harlan boro boro" sahut Harlan, nyak mengubah ekspresi nya dari ramah canggung menjadi seperti biasa pada Harlan.
"Banyak ngomong lu" nyak Imah mengecek suhu tubuh Harlan.
Harlan hanya diam tak bergerak.
"Lu ngapain sih seharian, sampe anget badan lu?" Tanya nyak Imah, Harlan melirik Dikta yang terlihat menunggu jawaban juga.
"Biasa lah nyak anak muda" ujar Harlan tak memberi jawaban.
"Anak muda apaan, lu udah kaya bapak anak tiga" nyak Imah menunjukkan ketiga jarinya.
"Ya Allah nyak" lirih Harlan berpura pura kecewa.
"Ah banyak bacot lu, buru makan, yang banyak kaga usah belaga diet lu, kaya perawan aja." Nyak menutup mulut Harlan yang hendak menjawab seperti biasanya.
"Iya nyak iya" Harlan mengalahkan tangannya sesaat membaca doa, lalu menyantap masakan nyak Imah.
Dikta hanya melihat.
"Makan nak, maaf ya seadanya" ucap nyak Imah, melihat Dikta yang diam.
"Eh ga papa buk, saya suka makan terong balado" Dikta segera menyendokkan terong balado, sebenarnya ia tidak suka terong balado, saat ia makan dirumahnya ia merasa kurang cocok.
Tapi saat ia menyendokkan nasi dengan terong balado kedalam mulutnya, seketika rasa nikmat seakan meledak, ia terbelalak.
"Napa bang?" Tanya Harlan melihat Dikta seperti terkejut, lalu ia melanjutkan.
"Gua tebak pasti lu kaget, terong nya enak kan?" Tebak Harlan yang di angguki Dikta, lalu melihat nyak Imah yang tersenyum.
"Gua bilang juga apa, nyak gua emang paling best" lengan Kana Harlan merangkul nyak Imah, lalu nyak Imah menepuk pelan Harlan karna malu.
"Serius ini enak banget" Dikta seakan tak percaya, ia menyendokkan kembali, ie terlihat memejamkan matanya menikmati terong balado yang seakan lumer dengan rasa nikmat.
****
Semenjak kejadian dimana siswa pindahan yang membuat kericuhan di kantin sekolah, Gina sekarang jarang makan di kantin, ia meminta salsa dan irt untuk membuatkan bekal.
Beralasan ingin hemat.
Tentu salsa dan Johan mendukung, tanpa rasa curiga.
"Lauk lu apa gin?" Kila duduk di sebelah gina, setelah kembali dari kantin, ia dengan cepat pergi ke kantin dan berlari kembali ke kelas hanya karna tak ingin gina sendirian.
"Chiken teriyaki, sama kari" ucap gina membuka tempat bekalnya, Kila melihat isi dalam tempat makan itu.
Lalu tersenyum pada gina, seakan paham gina memotong chiken teriyaki, menyendokkan dengan nasi dan kuah kari lalu menyuapi Kila, yang lansung melahap.
Lalu mereka makan bersama di kelas, sampai jam istirahat berakhir.
Gina dan Kila, menulis catatan dengan serius, namun tetap jiwa extrovert Kila tak dapat di tahan, ia mengobrol dengan Gina sesekali.
"Ya emang gitu kalo udah redup gin, kalo ga lepas hijab ya, lu tau lah" Kila membicarakan seseorang.
"Padahal kalo diliat liat di orangnya pendiem ya" sahut gina, di angguki Kila.
"Ihhh lu ga tau aja-" suara kita terpotong.
"Itu siapa yang ngomong" tegur Bu guru, seketika mereka berdua terdiam, saling menatap lalu terkekeh.
****
Salsa di ranjang melihat ke arah suaminya yang mengenakan jas.
"Mas" panggil nya, Johan berbalik lalu tersenyum.
"Ga lama ya sayang, abis meeting mas pulang" ucapnya lalu maju dan mencium kening istrinya.
"Istirahat aja, bentar lagi mas pulang ya" Johan mengusap rambut salsa, yang mengangguk.
"Mas pamit" salsa mencium tangan suaminya, lalu membalas lambaian tangan dari Johan.
"Bi, tolong bawa Teh Da-Hong Pao ya kekamar ibu" pinta Johan pada IRT yang segera dibuatkan.
Lalu ia masuk ke dalam mobil dan berangkat ke kantor, gedung yang tinggi menjulang ke atas, dengan arsitektur bangunan yang indah.
Ia masuk ke dalam gedung tersebut, di sambut oleh karyawan dan asistennya, membawa berkas berkas untuk meeting.
Lalu ia naik menggunakan lift khusus, sesampainya di lantai 12 ia mamasuki ke dalam satu ruangan dengan pintu besar yang dibuka oleh karyawannya.
Saat ia masuk semua orang disana berdiri, dan ikut duduk setelah Johan duduk.
Aura kepemimpinan Johan sangat kental, ia memulai meeting dan melanjutkan dengan serius.
Dikta yang ke kantor sudah di tunggu oleh Zaki.
"Ada apa Ki?" Tanya Dikta ia duduk di sofa seberang Zaki.
"Lu bisa tolong gantiin gua bentar ga ta? Ibu gua sakit barusan di bawa ke rumah sakit" ucap Zaki, tersirat rawut khawatir disana.
"Bisa Ki, titip selama gua buat mama lu, semoga cepat sembuh" Zaki mengangguk mantap lalu berterima kasih dan keluar dari sana lari menuju parkiran, segera mengunjungi sang ibu.
****
"Permisi pak, lantainya mau saya pel, bapak boleh menunggu di sana" ucap Harlan mengarahkan ke lima jarinya ke tempat yang ia maksud.
"Oh iya mas, maaf" sahut bapak tersebut segera pintah.
"Ga masalah pak" sahut Harlan mulai mengepel.
"Bang Harlan" suara putra terdengar, ia berlari kecil ke arah Harlan, tidak sampai terkena ke bagian lantai yang basah.
"Pagi bang" ucap putra.
"Pagi tra, gimana lu?" Tanya Harlan sembari mengepel.
"Aman bang, tau ga yang lagi viral?" Tanya putra yang mulai gosip.
Harlan tersenyum saat mendengar acara gosip akan di mulai.
"Kemaren kan bang, ada dokter UGD, dokter muda bang, nah dia kemaren ngerawat ibu ibu, trus tau ga lanjutannya?" Ucap putra, yang di balas gelengan oleh Harlan.
"Gajinya di naikin" ucap putra lebay, Harlan melihat putra, yang membuat raut meyakinkan.
"Tau ga siapa ibu ibu itu? Istrinya direktur rumah sakit bang" putra menepuk tangannya, Harlan terlihat menikmati cerita dari putra.
"Padahal ibu itu ga luka parah atau gimana gitu, ada yang bilang sih beliau shock gitu ga tau kenapa" putra kembali bercerita, ia memang sering menceritakan keseharian nya pada Harlan, juga masalah yang tak dapat ia selesaikan pasti ia tanyakan pada Harlan.
Lalu Harlan menyemprotkan cairan pel kelantai, putra tak sengaja melihat sesuatu.
"Eh ini kenapa bang" ia melihat telapak tangan Harlan yang di perban.
"Ohh ini, biasa lah gua kan petarung handal" ucapnya dengan gaya sok sombongnya.
"Helleh gaya lu bang, ga kalah kan lu?" Putra tertawa.
"Bukannya nanya lukanya malah nanya menang atau kalah" wanita dengan Cepot asal menyahut di belakang putra, itu teman seangkatannya yang juga sangat akrab dengan Harlan.
"Iyakan Nadia, temen lu ini emang harus di rukyah, astagfirullah" ucap Harlan dramatis, menggelengkan kepalanya seolah tak percaya akan ucapan putra.
"Loh kok nyerang gua sih" ucap putra tak terima.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
langkah
AcakMemperbaiki hubungan yang telah lama memudah, berusaha agar kembali berwarna seperti sedia kala.
