57

337 50 2
                                        

"Eh kamu" Harlan membalikkan badan saat berpapasan dengan seorang wanita berpakaian khas dokter koas.

"Saya?" Tanya wanita berwajah feminim itu. Harlan mengangguk, Dikta dan gina ikut berhenti.

"Lagi ada pasien?" Tanya Harlan.
"Ada mas, masnya perlu sesuatu?" Wanita itu terlihat memperhatikan Harlan. Senyum Harlan mengembang dan matanya terlihat menyipit indah.

"Enggak saya aman kok, nanya aja siapa tau ada pasien kejang lagi. Semoga udah bisa nanganinya ya" ucap Harlan lalu pergi dan meninggalkan wanita itu yang ingat masa awal awal ia koas di rumah sakit itu.

"Ahhh.. ternyata dia orangnya" saat itu ia terlalu panik dan kalut sekaligus takut karna dokter residen sedang sibuk. Beruntung Harlan sigap membantunya. Ia juga Ingan Harlan beberapa kali membantunya saat pertanyaan sulit dilontarkan dokter senior kala memeriksa Harlan di ruang rawat.

"Kakak kenal?" Tanya gina ia masih melihat senyum manis tersisa di wajah sang kakak.

"Kenal, dulu kakak pernah bantu dia nanganin orang kejang." Jelas Harlan secara singkat. Ia ingat saat wanita itu kelabakan, namun masih berusaha membantu walau terlihat kebingungan.

Dikta tak menyahut apapun, ia cukup tau jika Harlan sering membantu orang orang. Namun kali ini wajahnya terlihat lebih cerah saat berpapasan dengan orang itu.

Tak lama kaki mereka berhenti di depan kamar rawat Harlan. Mereka membuka pintu, Johan sudah menunggu. Ia berdiri membelakangi pintu, tangannya bergerak gusar dalam saku. Harlan menyadari itu, ia lalu mengajak Gina duduk di ranjangnya untuk mengobrol.

Tak lama hembusan nafas berat terdengar. Johan menghadap pada mereka yang sedang mengobrol hal hal yang tak Johan dengar dengan jelas.

"Harlan, besok dokter Salman bilang kamu sudah boleh pulang." Harlan menatapnya, lalu mengangguk.

Lalu terlihat Johan kembali bingung untuk berucap, melihat Harlan menunggu ia lansung melanjutkan.

"Mama udah siapin kamar kamu, besok siang kita pulang" terlihat sedikit beban dihatinya mulai luruh setelah kata terucap.

"Ah, ga usah. Harlan pulang ke rusun aja" tolaknya dengan halus, terdengar penolakan dengan nada santai.

Johan memutai otak mencari kata kata.

"Pindah aja lan. Biar bareng bareng lagi. Jangan tinggal sendiri" Harlan menoleh pada Dikta. Gina hanya menyimak, menurutnya situasi cukup canggung dan tidak mengenakkan.

"Harlan di rusun aja" sahutnya singkat. Ia masih bertahan dengan keputusannya.

Dikta lalu menyenggol gina.
Gina menggeleng tidak berani berbicara. Tapi Dikta seolah berkata akan baik baik saja.

"Kakak" suara gina terdengar mengalun, Harlan terlihat berusaha memberi senyuman pada sang adik.

"Ayo pulang" dua kata lolos dengan rengekan, kata yang bertahun-tahun ia idam idamkan untuk ia ucap. Akhirnya tersampaikan meski dalam keadaan seperti ini.

"Iyaa. Besok Abang pulang" gina lansung tersenyum cerah, ia mengusap matanya yang berkaca-kaca.

"Adek kangen banget makan mie malam malam sama kakak" ia memeluk Harlan erat.

"Iyaa, nanti kamu kapan kapan ke rusun kakak ya" pelukannya seketika melonggar.

Gina bingung. Bukan kah kakaknya berkata akan pulang. Lalu ia sadar, ia meminta kakaknya pulang, benar. Karena besok sudah waktunya. Namun Harlan tidak pernah berkata pulang ke rumah bersama mereka.

langkah Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang