Bagian Delapan

135 7 0
                                        

Yuni melirik tajam Hasbi.

Dalam hati Yuni berucap kesal,

"Aku yang akan menikah dengan Rizky. Aku yang harusnya ada di dalam sana sekarang. Kenapa malah Kayla! Ini lagi, adiknya Kayla, ngeselin banget!"

Mendapat lirikan tajam dari Yuni tak membuat nyali Hasbi menciut. Hasbi justru menanggapinya dengan santai dan tersenyum.

"Kita lihat nanti, apa yang akan terjadi setelah Rizky sadar." Lagi, Hasbi berbisik.

Entah kenapa hari ini Hasbi sungguh berbeda dari biasanya. Selain lebih banyak berbicara dengan Kayla, ia juga hari ini sudah beberapa kali mengucapkan kata demi kata sindiran dan ejekan pada lawan bicaranya.

Yuni semakin kesal dibuatnya, ia mengepalkan kedua tangannya. Rasa amarah dan tidak terima dengan apa yang dikatakan Hasbi membuat darah Yuni mendidih.

Hasbi menangkap mimik wajah Yuni yang terlihat begitu kesal padanya, ia justru membalasnya dengan kedipan mata. Lalu, memilih duduk kembali.

***

Di dalam ruang rawat.

Dokter Hasan mempersilakan Kayla untuk duduk di dekat Rizky terbaring tak berdaya saat ini. Beberapa selang infus menempel di tubuh Rizky. Ada balutan juga di kepalanya, hal ini tentu menunjukan betapa kerasnya benturan yang terjadi pada kepala Rizky, hingga membuat kepalanya harus mendapat perawatan lebih dan balutan setebal itu.

"Mbak Kayla bisa dengar dan lihat sendiri sekarang, Mas Rizky sejak tadi seperti ini, Mbak. Dia menyebut nama Mbak Kayla tanpa henti. Dia seperti benar-benar ingin bertemu dengan Mbak Kayla. Mungkin ada sesuatu hal yang ingin dia katakan pada Mbak Kayla. Dia juga terlihat seperti sedang menyesali sesuatu, saya bisa melihat itu dari mimik wajah dan suara yang keluar dari mulutnya, Mbak." Ujar Dokter Hasan detail.

Kayla mendengarkan dengan seksama setiap perkataan dari Dokter Hasan. Ia tidak menyangka kalau Rizky akan mengalami kejadian naas seperti ini.

"Sus, kamu ikut saya keluar sebentar ya. Biar Mbak Kayla saja yang ada di sini menemani Mas Rizky." Ajak Dokter Hasan pada perawat bernama Riyana.

Suster Riyana mengangguk. Ia menyetujui perintah sekaligus ajakan Dokter Hasan, yang tak lain masih saudara sepupunya.

"Baik, Dok." Sahut Suster Riyana.

"Mbak Kayla, silakan kalau Mbak mau berbincang dengan Mas Rizky. Saya rasa Mas Rizky masih bisa mendengar dengan baik kalau Mbak Kayla yang melakukannya. Permisi, Mbak." Ujar Dokter Hasan kemudian sebelum pergi keluar dari ruangan dan meninggalkan Kayla bersama Rizky yang tengah terbaring lemah.

"Terima kasih, Dok, Sus." Balas Kayla.

Kayla menatap Rizky iba. Bibir Rizky memang sejak tadi terus menyebut namanya tanpa henti. Setiap kata yang terucap dari bibirnya terdengar bergetar. Benar apa yang dikatakan oleh Dokter Hasan barusan, Kayla pun bisa menangkap sinyal kalau Rizky seperti sedang menyesal akan sesuatu. Mungkinkah?

"Ky, di luar ada Yuni, calon istri kamu. Aku nggak tahu apa yang sekarang kamu rasain, Ky. Tapi, tolong jangan buat posisiku seolah jadi penyebab atas hancurnya hubungan kalian. Aku nggak mau menjadi orang yang sama seperti Yuni, yang sudah jadi orang ketiga di hubungan kita sebelum ini."

"Aku datang ke sini bukan karena aku mau merebut hati kamu lagi dengan seolah-olah masih peduli, Ky. Aku datang ke sini karena permintaan Om Hansen dan Hasbi. Aku sedih lihat kamu seperti ini, Ky. Tapi, aku nggak akan terlalu jauh, aku hanya sebatas menghargai Om Hansen, Hasbi, dan kamu yang masih temanku, Ky."

"Aku sudah datang ke sini nemuin kamu, aku harap setelah ini kamu sadar dan segera pulih. Supaya kamu bisa segera mengurus semua yang kamu dan Yuni butuhkan untuk persyaratan pernikahan kalian nanti."

BACKGROUND BIRUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang