Hasbi menepikan motor yang dikemudikan olehnya ke sebuah toko pakaian.
"Kita mau apa ke sini?" Tanya Kayla tak mengerti.
Hasbi tak menyahut. Ia menarik tangan Kayla agak kasar. Tanpa meminta persetujuan Kayla sama sekali, Hasbi mengajak Kayla masuk ke dalam toko pakaian tersebut.
Kayla bertanya-tanya dalam hati atas sikap yang ditunjukan oleh Hasbi padanya.
"Mbak, tolong pilihkan pakaian terbaik yang ada di sini." Titah Hasbi pada seorang pelayan muda yang datang menyambut keduanya dengan ramah.
"Baik, Mas." Ucap pelayan bernama Maira tersebut.
"Bi, kamu itu ngapain sih? Pakaian buat apa? Aku masih ada banyak pakaian baru di lemari, Bi. Astagaaa." Ujar Kayla.
Sama seperti sebelumnya, Hasbi tak menanggapi ucapan Kayla.
"Mari, Mbak. Ikut saya ke dalam untuk mencobanya." Maira mengajak Kayla masuk ke dalam ruang ganti, mencoba pakaian yang sudah dipilihkan olehnya sebagai pakaian yang direkomendasikan.
Kayla melirik Hasbi sekilas, ia masih belum mengerti maksud Hasbi mengajaknya ke toko pakaian ini dan memintanya mencoba pakaian terbaik di toko ini.
Namun, Hasbi justru memalingkan wajahnya dari Kayla. Ia pura-pura tak memperhatikan Kayla yang menatapnya.
Kayla mengikuti Maira ke ruang ganti.
Tak berapa lama kemudian, Maira menghampiri Hasbi yang masih setia menunggu di ruang tunggu.
"Mas, sudah." Ucap Maira sopan.
Hasbi mengangguk, "Oh iya, mana?"
Kayla keluar dengan anggunnya. Dress berwarna peach setinggi lutut dengan bagian bahu terbuka sebatas dada membuat Kayla terlihat semakin cute, anggun dan menggemaskan.
Hasbi bahkan sampai tak berkedip melihatnya. Kayla benar-benar mempesona dengan dress yang pilihkan oleh Maira.
"Bagaimana, Mas, cantik kan Mbaknya?"
Pertanyaan dari Maira membuat Hasbi kembali pada kesadarannya.
"I-iya, cantik, cocok. Terima kasih ya, Mbak Ma-i-ra sudah memilihkan dress yang bagus untuk..."
"Pacarnya ya, Mas?" Sela Maira.
Hasbi menelan salivanya, kalimat tanya dari Maira membuatnya kikuk dan canggung.
"Bagaimana bisa dia mengira aku pacar dari perempuan cerewet itu? Tapi.. apakah aku seserasi itu dengan Kayla?" Tanya Hasbi dalam hati.
"Bi? Hasbi?" Kayla menepuk bahu Hasbi hingga dua kali barulah Hasbi tersadar dari lamunannya.
"Eh? Iya? Kenapa Kay?" Tanya Hasbi gelagapan.
"Dih, dasar orang nggak jelas!" Dengus Kayla.
Hasbi tersenyum canggung, ia menggaruk rambut kepalanya yang jelas-jelas tidak gatal sebenarnya.
"Mbak, terima kasih ya." Ucap Hasbi pada Maira.
"Bi, ini harganya mahal banget loh bajunya. Yakin kamu mau beli ini buatku?" Tanya Kayla setengah berbisik.
Hasbi melirik Kayla datar, sedetik kemudian dia meninggalkan Kayla dan berjalan menuju kasir tanpa memberi jawaban terlebih dahulu atas pertanyaan yang Kayla ajukan padanya.
"Pacarnya ganteng, Mbak. Cocok dengan Mbak, cantik. Pasangan serasi." Celetuk Maira tersenyum ramah pada Kayla.
Kayla tertegun, "Pacar?" Ucap Kayla dalam hati. Kayla tak menyahut ucapan Maira. Ia memilih menampilkan senyum seramah mungkin pada Maira.
"Permisi, Mbak, saya harus kembali ke tempat saya." Pamit Maira.
Kayla mengangguk.
"Hasbi bilang apa saja ke pelayan tadi, kenapa dia mengira kalau aku pacarnya Hasbi. Awas ya kamu, Hasbi." Gerutu Kayla.
Hasbi nampak sudah selesai dengan urusan pembayaran, ia tengah berjalan ke arah Kayla. Ingin rasanya bagi Kayla bertanya tentang ucapan Maira, namun, Kayla memilih untuk mengurungkannya sejenak.
"Ayo, pulang." Ajak Hasbi datar.
"Iya." Sahut Kayla singkat.
Hasbi berjalan lebih dulu, diikuti Kayla yang mengekor di belakangnya.
"Dasar orang aneh, tadi di rumah sakit cerewet banget. Sekarang jadi diem lagi, ngomong sesukanya tanpa nunggu respon dari lawan bicaranya. Hadehh Hasbi Hasbi. Manusia susah ditebak!" Lirih Kayla yang berjalan agak berjarak dari Hasbi.
***
Yuni menunggu dengan sabar di ruang tunggu bersama dengan Om Hansen dan Om Juan. Om Sendy sudah pulang lebih dulu beberapa saat lalu. Ada urusan mendadak.
Sesekali Yuni melirik ponselnya, sudah semakin sore. Yuni belum bisa pulang sekarang. Ia masih ingin di sini menunggu waktu untuk bisa masuk ke dalam ruang rawat Rizky. Namun, sejak tadi tatapan sinis Om Hansen membuat Yuni urung.
"Sudah sore, pulang saja. Tidak ada yang bisa mengantarmu pulang." Ujar Om Hansen memecah keheningan.
Yuni menoleh, tatapannya heran. Yuni seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ceng?" Lirih Om Juan.
"Om, aku..."
Om Hansen memotong kalimat Yuni.
"Tunggu nanti saja kalau Rizky sudah sadar. Sekarang ini lebih baik kamu hubungi adik atau saudaramu untuk menjemput kamu. Aku dan Juan benar-benar tidak bisa untuk mengantarmu pulang. Atau pulang saja naik angkot, rumahmu tidak jauh kan dari sini?" Tukas Om Hansen dingin.
Benar-benar tak sehangat caranya ketika memperlakukan Kayla.
"Ceng? Aku bisa loh mengantarnya." Om Juan berbisik pada Om Hansen.
Om Hansen tak menggubrisnya.
"Mumpung belum terlalu sore, angkot ke arah desamu masih ada kan jam segini? Pulanglah. Rizky biarkan kami yang jaga."
Yuni tak menyahut, ia tahu betul menyahut pun pasti akan tetap mendapat respon tak baik dan tak hangat.
Om Hansen melirik ke arah Yuni, dingin.
"Iya, aku pulang sekarang. Titip Rizky." Pamit Yuni.
"Ya, pulanglah." Balas Om Hansen.
"Hati-hati ya di jalan." Timpal Om Juan.
Yuni mengangguk, ia juga menampilkan senyum canggung. Senyum terpaksa yang Yuni tampilkan guna menutupi rasa ketidaknyamanan yang ia rasakan selama ada di rumah sakit.
***
Kayla dan Hasbi saling diam selama perjalanan menuju ke rumah. Tidak ada obrolan yang keluar dari keduanya.
Suasana yang sebenarnya sudah biasa bagi keduanya. Namun, entah kenapa bagi Kayla keheningan kali ini terasa begitu berbeda.
"Bi?" Kayla mencoba memecah keheningan.
"Hmm." Sahut Hasbi.
"Nggak jadi deh." Ucap Kayla.
CITTTTTT
Kayla reflek memeluk Hasbi erat.
"Apaan sih Bi, tiba-tiba ngerem hish!" Dengus Kayla kesal.
Hasbi menoleh, menatap lekat manik mata gelap Kayla.
"Kalau nggak niat ngomong itu nggak usah ngajak ngomong, Kayla!" Tegur Hasbi.
"Maaf.. nanti saja di rumah aku tanyanya."
"Lepas!" Titah Hasbi.
Kayla gegas melepas pelukannya.
Hasbi kembali menyalakan mesin motor yang dikemudikannya. Kali ini ia menambah kecepatan tak sepelan sebelumnya.
"Astaga, perasaan apa ini, kenapa jantung rasanya berdetak lebih cepat?" Tanya Hasbi dalam hati.
***
