Arifin menyesap kopi hitam buatan Rizky. Keduanya duduk bersebelahan dibatas dipan di teras samping rumah.
Keadaan rumah cukup sepi. Ibu dan ayah mereka sedang pergi ke apotek. Seperti biasanya, membeli obat untuk ibu mereka.
"Udah dicoba saranku?" Tanya Arifin memecah keheningan.
Rizky menoleh.
"Takut, Mas." Jawabnya.
Arifin meletakkan gelas kopinya ke atas nampan.
"Takut hasilnya gak sesuai apa yang kamu harapkan? Atau takut kamu gak bisa terima jawaban dari do'amu sendiri?"
Rizky terdiam sejenak.
Terdengar hembusan nafas berat.
"Aku rasa, aku masih mencintai Kayla, Mas."
"Terus?"
"Aku menyesal sudah sejauh ini berjalan sama Yuni. Aku merasa bersalah sama Yuni, tapi aku juga merasa bersalah karena terus membohongi hatiku sendiri, Mas." Ungkap Rizky, tertunduk lesu.
Arifin menepuk bahu adiknya.
"Jadi, adik mas lagi dilema memilih lanjut sama Yuni atau memperjuangkan cintanya ke Kayla?" Tukas Arifin.
"Bisa dibilang begitu, Mas."
"Aku harus apa Mas sekarang?" Lanjutnya.
Arifin tampak berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban untuk Rizky.
"Coba dekati Kayla lagi. Tanyain ke dia, apa dia juga sebenarnya masih ada rasa sama kamu atau gak. Kamu sama Yuni belum resmi menikah, kamu masih ada waktu buat meyakinkan hati kamu dulu. Supaya nanti, kamu gak salah ambil keputusan. Ngerti?"
"Kalau ibu tau soal ini, apa ibu gak akan marah dan malah nyamperin Kayla ke rumahnya, Mas?"
"Loh, kenapa ibu harus marah dan nyamperin Kayla di rumahnya?"
"Karena ibu gak suka aku dekat-dekat sama Kayla lagi, Mas. Kalau ibu tau aku deketin Kayla lagi, nanti ibu malah salah paham dan nuduh Kayla yang gak-gak." Jelas Rizky.
"Nanti mas yang kasih pengertian ke ibu." Janji Arifin meyakinkan Rizky.
"Apa mas yakin?" Rizky tampak ragu.
Arifin mengangguk mantap.
"Ibu itu selalu dengerin apa kata mas. Kamu lihat sendiri kan, selama ini ibu selalu ikutin apa kata mas, jadi, mas akan jamin kalau ibu gak akan lakuin apa yang kamu takutin tadi. Kamu harus buktikan cinta kamu ke Kayla, kamu juga harus bisa tegas sama hidupmu. Jangan ikut apa kata orang, meskipun itu ibu kamu sendiri. Kamu berhak menentukan jalan hidup kamu, Ky. Apalagi ini soal nikah. Jangan asal nikahin perempuan, kamu harus bisa memilih yang tepat dan sesuai sama apa yang kamu butuhkan." Arifin memberikan wejangan pada adik laki-laki bungsunya.
Rizky menimbang-nimbang saran dari Arifin, kakak sulungnya. Mungkinkah akan semudah perkataan yang diucapkan Arifin. Atau justru akan rumit dan tidak sesuai apa yang ada dalam bayangannya?
Rizky tampak gusar. —Kayla dan Yuni kini benar-benar membuatnya dilema!
"Inget, Ky. Jadi laki-laki harus tegas, punya tujuan, dan bisa jaga ucapan. Jangan ambil keputusan secara asal. Jangan juga kamu merusak kepercayaan orang. Soal Yuni, mas gak bisa bilang saran mas bener, tapi untuk kebaikan ke depannya, kamu perlu lakuin sesuatu sebelum kamu mutusin sesuatu."
Arifin kemudian berlalu dari teras. Kopi hitam miliknya juga sudah habis. Arifin masuk ke dalam rumah melalui pintu samping. Rizky masih larut dengan isi kepalanya sendiri. Memikirkan Kayla, bersamaan juga dengan Yuni yang kini sedang berada di negeri seberang.
—malaysia.
"Apa mungkin ini bentuk ujian buatku sama Yuni? Atau memang ini sebuah petunjuk dari Allah, buat aku sama Yuni? Kalau dari awal kami memang salah dalam menjalin hubungan? Dan aku memang harus memperjuangkan cinta sejatiku?"
Rizky bermonolog.
"Kayla, beberapa hari ini aku keinget kamu dan kenangan kita. Apa kamu disana juga ngerasain hal yang sama?"
