Yuni menjadi tidak tenang sejak kali terakhir Hasbi berbicara padanya. Ia benar-benar takut dan was-was saat ini. Takut Hasbi benar-benar akan membalas perbuatannya andai Yuni mengusik kehidupan Kayla.
Sesekali Yuni melirik ke arah Hasbi, namun Hasbi tidak menggubrisnya sama sekali. Entahlah, Hasbi yang sejak tadi terkesan menantangnya, kini tiba-tiba kembali menjadi Hasbi yang dingin dan mengatupkan rapat bibirnya.
"Bi, mau ikut nggak?" Tanya Om Hansen tiba-tiba.
Hasbi menoleh, "Kemana Om?"
"Beli kopi atau apalah gitu di luar."
Hasbi tidak langsung menjawab, ia justru melirik ke arah Yuni tajam.
"Nggak deh, Om. Aku mau di sini saja menunggu Kayla keluar dari ruang rawat Rizky." Tolak Hasbi sopan.
"Ya sudah, nanti tak belikan saja ya. Sekalian buat Kayla juga." Pungkas Om Hansen.
"Perempuan itu nggak ditawari sekalian Ceng?" Bisik Om Juan.
Om Hansen melirik Yuni sekilas,
"Nggak usah, gampang nanti saja kalau ingat."
"Ya sudah, ayok." Kata Om Juan sudah tidak sabaran.
"Bi, Om tinggal dulu ya." Pamit Om Hansen berlalu.
Di depan ruang rawat Rizky hanya ada Hasbi dan Yuni saja saat ini. Yuni masih larut dengan berbagai tebakan yang ada di benaknya. Sementara itu Hasbi memilih mengalihkan fokusnya pada ponsel miliknya.
***
Di dalam ruang rawat Rizky, Kayla menatap iba Rizky. Tidak ada mantan terindah memang, karena kalau indah mana mungkin menjadi mantan, iya kan?
Namun, bukan berarti kebencian dan dendam juga harus menggantikan tahta cinta yang pernah tumbuh di dalam dada.
Kayla duduk di kursi dekat ranjang Rizky terbaring. Lamat Kayla menatap Rizky yang kini sudah mulai terdiam dan juga tenang.
"Ky, kamu jangan mikirin aku lagi ya. Aku nggak mau terjebak di hubungan yang salah lagi untuk kedua kalinya." Gumam Kayla.
"Aku yakin kamu bisa dengar apa yang aku ucapin, Ky. Jadi, tolong kamu jangan mengikutsertakan aku lagi di kehidupan kamu. Keputusan kamu memilih mengakhiri hubungan kita sudah tepat, Ky." Lagi, Kayla membenarkan apa yang sudah Rizky putuskan, mengakhiri hubungan dari keduanya.
Jangan lama-lama di dalam, aku sudah muak sekali duduk berdua dengan perempuan ini.
Kayla membuka pesan singkat yang baru saja masuk ke nomor WhatsApp miliknya, tertera di sana nama Hasbi.
"Hari ini dia beda banget, lebih banyak bicara dan protes ini itu." Gumam Kayla.
Kayla membalas pesan Hasbi tak lama kemudian.
Apa katamu? Nikmati?! Ini sudah hampir saja muntah aku di sini. Cepat selesaikan urusanmu dan Rizky, setelah itu ayo kita pulang!
Kayla tersenyum membaca pesan dari Hasbi, kini giliran Kayla yang puas melihat Hasbi kalang kabut karena harus berlama-lama dengan Yuni di ruang tunggu.
Kayla berpamitan pada Rizky yang belum sadarkan diri. Ia sempat juga mencium takzim tapak tangan Rizky sebelum keluar dari ruangan.
"Aku pamit, Ky. Kamu lekas membaik ya, hari pernikahan kamu dan Yuni sudah nggak lama lagi. Kamu harus sehat supaya bisa merealisasikan impian kamu menikah dengan Yuni."
Kayla membuka pintu, terlihat Yuni menatap dirinya sinis. Sementara Hasbi menatap dirinya dengan tatapan tak nyaman. Kayla bisa melihat dengan baik kalau Hasbi sudah benar-benar ingin segera pergi dari tempatnya duduk sekarang.
"Lama banget, ngapain saja kamu di dalam sana? Bujuk-bujuk Rizky supaya nanti sewaktu dia sadar lebih milih kamu dan ninggalin aku ya? Dasar perempuan ganjen!" Ucap Yuni ketus. Ia berbicara tanpa jeda, Yuni menuduh Kayla ba-bi-bu. Namun, Kayla tak membalasnya. Ia memilih mendekati Hasbi, lalu menarik tangannya dan pergi meninggalkan Yuni di ruang tunggu di depan ruang rawat Rizky.
Hasbi menatap tajam Yuni saat matanya tidak sengaja beradu pandang dengan Yuni.
"Perempuan ganjen ngatain ganjen, minimal ngaca mbak." Cibir Hasbi tepat di depan wajah Yuni.
Hasbi kemudian melengos, mengikuti Kayla yang sudah melangkah lebih dulu darinya.
"Kay, tunggu." Seru Hasbi.
"Makanya cepat kalau jalan!" Balas Kayla tanpa menoleh.
