Waktu terus berjalan, bulan demi bulan berganti. Dari musim hujan hingga bertemu musim hujan kembali.
Yuni duduk termenung di sudut ruang tamu. Dia baru saja pulang dari Malaysia, pulang lebih awal dari yang seharusnya.
Majikan Yuni meninggal dunia, anak dari majikannya tidak membutuhkan asisten rumah tangga, hal ini membuat mereka membantu Yuni untuk pulang ke Indonesia lebih cepat.
"Yun, kamu nggak ada niatan pergi ke rumah Rizky? Kalian udah lama nggak komunikasi kan?" Ibu Yuni duduk di seberang Yuni, menatap iba putrinya.
Yuni menoleh, "Bingung, Bu."
"Kenapa bingung? Kalian bisa kan perbaiki hubungan yang kemarin? Bicarakan dengan baik-baik apa yang terjadi kemarin, kalian bisa kan balikan dan lanjutin rencana buat nikah? Ibu pengen punya cucu dari kalian."
"Bu, Rizky nggak pernah bener-bener cinta sama aku. Aku nggak mau datang ke rumah dia kalau bukan dia yang coba datang ke sini dan minta aku perbaiki semuanya." Tolak Yuni, dia masih merasa kesal dengan sikap yang ditunjukkan Rizky selama ini.
"Biasanya juga kamu yang datang duluan ke sana. Kalian bisa sampai dekat kemarin juga kan karena kamu yang datang duluan ke rumah dia." Ujar Ibu Yuni.
Yuni terdiam, apa yang dikatakan ibunya memang benar. Dia yang memulai adanya kedekatan antara dirinya dan Rizky, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan sampai berencana akan menikah.
"Ibu cuma kasih saran, kalau kamu mau lakuin itu bagus, nggak juga nggak apa." Pungkas Ibu Yuni sebelum berlalu begitu saja meninggalkan Yuni di ruang tamu.
Yuni membuka ponselnya, memandang foto dirinya dan Rizky. Beberapa foto yang sempat diabadikan dalam kamera ponsel miliknya.
"Aku kangen sama kamu, tapi, aku punya misi khusus, Ky." Gumam Yuni.
Andi diam-diam memperhatikan Yuni dari dalam kamarnya.
"Misi? Misi apa yang kamu rencanakan kali ini, Mbak? Kamu mau lakuin apa sekarang? Aku nggak mau kamu lakuin sesuatu yang nantinya akan merugikan kamu, Mbak."
