Kayla baru saja kehilangan ibu kandungnya sendiri. Orang yang sudah puluhan tahun terpaksa meninggalkannya dan baru dia temui dalam sebulan saja.
Kini, Kayla tinggal seorang diri. Tanpa saudara, tanpa ayah. Tanpa siapapun.
Tidak ada foto keluarga yang bisa Kayla kenang dari keluarga kandungnya sendiri. Kosong. Hanya ada foto masa kecil Kayla saat masih digendong almarhumah ibunya. Bisa dikatakan itu adalah satu-satunya foto yang ada antara Kayla dan ibunya, sebelum Kayla dititipkan pada orang tua Hasbi, dan ibunya pergi ke luar negeri menjadi seorang TKW di Arab Saudi.
Ibu kandung Kayla hanya meninggalkan sebuah rumah dan sebuah toko sembako yang dibuat atas nama Kayla. Semua itu didapat dari hasil menjadi TKW di Arab Saudi, ibu kandung Kayla memberikan seluruhnya untuk Kayla sebagai bentuk tanggung jawab dan penebusan dosa masa lalu karena telah meninggalkan Kayla.
"Bu, Kayla kangen sama ibu. Kayla pengen peluk ibu lagi seperti kemarin, Bu." Kayla menangis memeluk pakaian milik ibunya.
Meski hanya sebentar, namun Kayla tidak bisa semudah itu melupakan ibunya, tidak ada kenangan sebanyak bersama Mama dan Papa angkatnya, namun tetap berkesan bagi Kayla. Ibunya tidak sepenuhnya bersalah, Kayla memaklumi keputusan berat itu.
"Bu, apa ayah masih hidup? Kalau iya, ayah ada di mana sekarang? Apakah ayah mau mengakui aku sebagai anaknya, Bu?"
Kayla bertanya pada foto muda ibunya yang masih terpajang rapih di dalam kamar tidur ibunya. Kayla akan tidur di kamar ibunya saat dia merasa rindu pada ibunya, seperti malam ini. Malam ketujuh setelah kepergian ibu kandungnya.
"Aku gak marah sama ibu, walau ibu meninggalkan aku di rumah Mama."
Kayla menyeka airmatanya yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.
"Kayla tau, ibu lakuin itu terpaksa, Bu. Kayla tau ibu sayang banget sama Kayla, makanya ibu gak mau Kayla hidup serba kurang, iya kan Bu? Ibu mau Kayla hidup nyaman dan Mama bisa lakuin itu, kasih itu buat aku."
Kayla merebahkan dirinya ke atas ranjang, sambil memeluk pakaian terakhir yang dipakai ibunya dan sebuah foto masa muda milik ibunya. Tak berselang lama, kedua mata cantik Kayla terpejam sempurna.
Kayak tidur sambil memeluk rindu pada sang ibu.
***
Rizky menatap langit-langit kamarnya, sebuah bayangan wajah seseorang yang dalam beberapa terakhir terus mengganggu tidurnya, kini hadir kembali. Dalam bayangan Rizky, sosok itu tersenyum.
Senyuman yang tidak akan pernah bisa dilupakan walau sudah bertahun-tahun lamanya tidak berbagi senyum semanja serta semanis itu dengannya.
"Kayla, aku benar-benar gak bisa pungkiri semuanya. Aku masih mencintai kamu."
Rizky teringat tiga tahun silam, saat dirinya berdebat dengan Kayla di samping rumah Seno. Tengah malam, setelah selesai acara halal bihalal yang diadakan pemuda dan pemudi di desanya.
"Aku salah, Kay. Aku gugup. Sekarang, aku terjebak di situasi yang sulit. Aku dan Yuni, orang-orang sudah tau kalau aku dan Yuni akan menikah setelah lebaran nanti. Tapi, jauh di dalam lubuk hatiku, aku masih mencintai kamu, aku masih berharap ada keajaiban yang bisa buat kita bersatu lagi seperti dulu. Aku butuh kamu, Kay. Aku kehilangan kamu. Aku menyesal..."
Rizky memejam kedua matanya, menarik nafas dalam, menghembusnya perlahan. Bayang-bayang wajah Kayla terus hadir di dalam benaknya. Saat Kayla memohon padanya untuk mempertimbangkan keputusan yang dia buat saat itu, semuanya membuat Kayla hancur dan Rizky menyesal sudah melakukan semua itu pada Kayla.
—perempuan yang tak pernah gengsi untuk meminta maaf, entah dia salah, entah tidak. Perempuan yang rela melakukan apapun untuk membuktikan besarnya cinta yang dimiliki untuknya, semua hal yang Rizky ragukan, dan Kayla buktikan. Rizky menyesali semuanya—dia yang selalu saja melukai hati Kayla, kini dia kehilangan sosok perempuan setulus Kayla dari hidupnya.
"Kay, aku harap kamu masih menyimpan rasa yang sama untukku. Aku akan sangat bahagia andai kamu masih mencintaiku. Sekarang, aku tau gimana rasanya jadi kamu, saat aku udah lakuin apapun untuk membuktikan cintaku ke kamu dan kamu malah meragukan semua yang aku lakuin, sebaliknya kamu mengabaikan aku dan bersikap acuh ke aku. Aku sekarang tau rasanya, Kay. Dulu, aku yang ninggalin kamu, sekarang, aku kehilangan kamu."
Rizky mengusap wajahnya kasar.
"Apa aku lakuin saran mas Arifin ya? Coba buat bicara sama Kayla dan nanyain isi hati dia gimana ke aku sekarang. Tapi, apa aku siap menerima jawaban apapun yang bakal keluar dari Kayla?"
Rizky terjebak dalam dilema dan tanya. Situasi rumit yang dia ciptakan sendiri.
