Bagian Duabelas

95 4 0
                                        

Hasbi berusaha mengatur hembus nafasnya yang dirasanya terasa lebih berat kali ini. Degup jantungnya masih belum teratur, Hasbi merasa gugup saat Kayla tiba-tiba memeluknya tadi.

Perasaan aneh yang sudah Hasbi rasakan dalam setahun belakangan ini setiap kali berada di dekat Kayla atau Kayla yang suka tiba-tiba menyentuhnya.

"Kayla itu kakak kamu, Hasbi. Perasaan aneh macam apa yang kiranya tumbuh di hati seorang adik ke kakaknya sendiri? Astaga, yang benar saja." Ucap Hasbi dalam hati. Meski isi pikiran berjalan ke sana ke mari, namun Hasbi tetap berusaha fokus mengemudikan motor Kayla.

Di sisi lain, Kayla juga merasakan sikap Hasbi dalam beberapa waktu terakhir ini memang berbeda. Lebih sulit diterka olehnya.

"Hasbi kenapa ya? Akhir-akhir ini aku merasa dia berbeda deh. Ada yang aneh." Pikir Kayla dalam hati.

***

Yuni menunggu di depan halte rumah sakit, ia nampak gusar. Sesekali ia juga menilik ke ponselnya. Belum ada juga tanda-tanda dari adiknya akan menjemputnya.

"Kemana dia? Tumben sekali lama merespon pesan yang ku kirim padanya." Gerutu Yuni.

Hari mulai petang, lalu kendaraan pribadi semakin ramai. Hiruk pikuk kendaraan tak selaras dengan suasana hati Yuni yang tengah sepi.

Respon yang diberikan orang-orang di sekitar Rizky padanya, kedatangan Kayla dan adiknya yang disambut begitu hangat di rumah sakit, membuat Yuni bertanya-tanya. Mungkinkah, benar apa yang dikatakan oleh adik Kayla, kalau Rizky masih mencintai Kayla? Kalau iya, lalu kenapa Rizky setuju dengan rencana pernikahan mereka?

Yuni mengepalkan tangannya, kesal.

Tak berapa lama kemudian, deru motor yang begitu Yuni kenal mendekat ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan adiknya.

"Lama sekali." Keluh Yuni.

"Ada urusan tadi." Sahut adiknya.

Adik Yuni mengulurkan helmet pada Yuni. Yuni menerimanya dengan mimik wajah yang masih nampak sangat kesal.

"Kenapa mukamu ditekuk begitu?" Tanya adiknya yang ternyata memperhatikannya.

"Nggak ada apa-apa." Kilah Yuni.

"Oh. Ok. Cepat naik." Titah adiknya.

Yuni gegas naik ke boncengan. Dalam hitungan detik kemudian, sang adik sudah melakukan motornya menembus jalanan yang ramai.

***

Hasbi dan Kayla akhirnya sampai juga di rumah. Keadaan rumah masih nampak sepi. Kedua orang tua mereka seperti belum pulang.

Kayla turun dari boncengan, melepaskan helmet, lalu menaruhnya di atas nakas.

"Kuncinya mana?" Tanya Hasbi datar.

Kayla menyerahkan kunci cadangan yang ada padanya ke Hasbi.

Hasbi memutar knop pintu, tak lama ia berlalu meninggalkan Kayla di teras rumah mereka.

Tidak ada obrolan lain di antara keduanya. Hening, seperti biasanya.

"Hari ini cukup melelahkan. Harus ke rumah sakit menemui Rizky, harus bertemu kekasih Rizky yang rupanya tak selembut dan sehangat awal dia menemui aku saat di taman, harus menghadapi tingkah random dari Hasbi yang cepat sekali berubahnya. Hadehhh, sabar ya Kayla." Gumam Kayla sembari melepaskan sepatu yang dikenakan olehnya dan menaruhnya ke rak sepatu tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.

Kayla menarik nafas dalam, lalu menghembusnya perlahan.

TING!

'Sudah sampai rumah belum, Kay?'

BACKGROUND BIRUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang