Seminggu berlalu, Kayla menemani Ibu kandungnya di rumah sakit.
Benar apa kata Mama angkatnya kalau Ibu kandungnya sedang sakit keras sekarang.
"Bu, Kayla sayang banget sama Ibu." Ungkap Kayla mencium punggung tangan ibunya yang sudah terlelap.
Bulir bening menerobos jatuh melalui dua sudut mata Kayla. Matanya memerah. Dadanya terasa sangat sesak melihat Ibunya terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
Hasbi tak berniat mendekati Kayla, Hasbi memilih berdiri dan bersandar di ambang pintu. Tangannya bersedekap.
Pemuda berjaket kulit itu memandang iba dua orang yang sedang dalam kelemahan. Satu lemah pada fisiknya, satu lainnya lemah pada hatinya.
"Semoga kamu tetap menjadi Kayla yang kuat seperti Kayla yang selama ini seorang Hasbi kenal." Hasbi bergumam.
***
Rizky tengah duduk termenung di teras rumah. Secangkir kopi hitam yang dibuat olehnya satu jam lalu masih tampak utuh.
"Kenapa?"
Rizky menoleh ke asal suara, — Arifin, kakaknya.
Arifin tersenyum ramah pada Rizky.
"Dari kapan ada di sini Mas?" Tanya Rizky, sembari menggeser cangkir kopi miliknya.
Arifin duduk tepat di sisi kiri Rizky, dekat dengan tiang penyanggah emper rumah.
"Kamu loh belum jawab pertanyaan dari Mas, kok malah balik nanya." Arifin terkekeh, melirik sekilas adiknya—Rizky.
"Lagi nggak tau juga Mas, bingung." Ungkap Rizky dengan wajah gusarnya.
"Cerita sama Mas, apa yang buat adik laki-laki bungsu Mas Arifin ini sampai kelihatan gusar dan bingung begitu."
Rizky semula ragu untuk bercerita, akan tetapi tidak ada salahnya juga untuk berbagi keluh kesah. Apalagi Arifin bukan orang lain dan daripada menjadi beban pikiran, lebih baik memang meminta pendapat dan masukan dari orang yang lebih paham.
Setidaknya, Arifin sudah lebih berpengalaman dibanding Rizky.
"Oh gitu, oke Mas paham." Tukas Arifin.
Rizky mengangguk lesu.
"Sekarang Mas tanya, kamu sayang nggak sama Yuni?" Tanya Arifin memulai misi interogasinya sekaligus ingin tau sejauh mana kedekatan Rizky dengan Yuni dan bagaimana perasaan Rizky ke Kayla sebenarnya saat ini.
"Aku peduli sama dia, aku empati Mas. Aku kasihan lihat dia rela perjalanan jauh kesini demi bertemu sama aku. Tapi, jujur aku belum bisa sayang sama dia Mas."
"Jadi, kamu sebatas peduli? Bukan karena kamu ada rasa lebih ke Yuni?"
Rizky menggeleng.
"Aku awalnya mau nyoba membuka hatiku buat Yuni secara penuh Mas, buat gantiin Kayla. Tapi ternyata, aku nggak bisa. Aku gagal Mas. Aku nggak bisa maksain hatiku yang sepenuhnya masih terisi nama Kayla."
Arifin manggut-manggut mendengarkan penuturan Rizky. Arifin bisa melihat adanya ketulusan dan kejujuran dari mata Rizky saat dia berkata hatinya masih penuh dengan nama Kayla, — mantan kekasihnya.
"Kamu masih mencintai Kayla? Kamu mau berjuang buat dapetin hati Kayla lagi?"
Rizky mengangguk yakin. Ada keyakinan namun ada juga keraguan. Yakin akan keputusannya untuk memperjuangkan kembali Kayla, namun ragu apakah Kayla masih mau memberinya kesempatan dan mau untuk menjalin hubungan kembali. Apalagi melihat respon Kayla setelah Rizky sudah kembali pulih sudah beda jauh.—dia berubah menjadi Kayla yang dingin sekali.
"Kamu kayaknya ragu gitu, kenapa? Nggak yakin sama keputusan yang kamu ambil kalau kamu masih akan perjuangin Kayla?"
"Enggak gitu Mas. Aku cuma ragu apa kiranya mungkin."
"Mungkin apa?" Sela Arifin penasaran.
Arifin terlihat begitu antusias menunggu jawaban dari Rizky.
Rizky memandang jauh ke kumpulan anak-anak kecil yang sedang asyik bermain di kebun kosong dekat rumah Lik Mariani.
"Apa mungkin Kayla masih mau kembali sama aku Mas? Setelah aku menorehkan luka sebegitu dalam buat dia? Aku udah buat Kayla kecewa Mas. Aku udah buat Kayla sakit dan terluka." Ungkap Rizky.
Arifin menatap iba Rizky, kini dia terjebak dalam kebimbangan yang dia ciptakan sendiri. — melepaskan, lalu ingin kembali mendapatkan. Rumit.
"Ini yang dulu Mas sempat takutkan akan terjadi di kemudian hari, Ky. Kamu akan menyesal melepaskan Kayla dan suatu hari kamu akan kesulitan buat dapetin dia lagi."
Rizky menoleh, menatap serius Arifin.
"Kayla baik, dia tulus mencintai dan dia juga serius menjalin hubungan sama kamu. Tapi, kamu justru mengambil keputusan yang gegabah. Kamu nggak mikirin konsekuensi apa yang akan kamu dapatkan. Sekarang, kamu cuma bisa pasrah dan apapun yang nantinya Kayla putuskan, kamu harus bisa buat terima itu dengan lapangdada. Seperti kemarin saat kamu memaksa Kayla buat terima keputusan kamu lebih milih Yuni dan ninggalin dia." Sambung Arifin.
Arifin bangkit, hendak pergi.
"Tapi, kalau kamu penasaran dan mau nyoba, coba Ky. Urusan hasilnya, kamu pasrahin semua ke Allah. Allah yang Maha membolak-balikkan hati hamba-Nya. Kamu yakinkan hatimu, minta Allah buat bantu kamu, dan apapun yang nanti Allah putuskan atas do'a-do'amu, kamu harus terima. Jangan ada penghakiman apapun." Ucap Arif sebelum pamit pergi.
***
