Yuni melahap nasi di atas piring asal, antara lapar dan tidak lapar, namun Yuni juga sadar ia harus tetap mengisi perutnya agar tidak kosong. Karena ia tau, sekarang sakit pun tidak akan ada yang datang menjenguk dirinya. Rizky sedang amnesia, sama sekali tidak mengenali dirinya siapa.
"Sudah Yun?" Tanya Ibunya saat Yuni bersiap bangkit dari kursi di ruang makan.
"Sudah, Bu. Sudah habis juga itu." Jawab Yuni datar, menunjuk piringnya yang memang sudah tak tersisa makanan di atasnya.
"Biasanya nambah." Sela Bapaknya.
"Nggak Pak, segitu sudah cukup." Tandas Yuni, mengakhiri obrolannya.
Andi hanya menyimak, tak memberi respon apapun. Andi fokus melahap makanannya.
"Tumben ya Pak, Yuni makannya sedikit sekali. Biasanya juga banyak, sampai nambah-nambah." Kata Ibu Yuni.
"Mungkin lagi nggak selera, Bu." Pungkas Bapak Yuni.
"Sakit maksud Bapak?" Tebak Ibh Yuni.
"Nggak tau juga, mungkin iya mungkin juga enggak Bu." Pungkas Bapak Yuni.
"Bapak gimana sih!" Dengus Ibu Yuni kesal.
Andi melahap habis sisa makanan di atas piringnya. Tak lama, Andi menyusul Yuni.
"Mbak, tunggu." Seru Andi pada Yuni yang hampir saja menutup pintu kamarnya.
Yuni menoleh ke asal suara. Tatapan tajam yang biasanya terpancar dari manik mata Yuni, kini berganti tatapan kosong.
"Aku mau bicara sama kamu, Mbak." Sambung Andi.
Yuni tak menyahut, namun ia memberi ruang pada Andi untuk berbicara dengannya.
Andi duduk di tepi ranjang. Sementara Yuni duduk di kursi dekat jendela. Memandang jauh ke jalanan yang terlihat cukup ramai.
"Mbak, sementara ini aku minta kamu jangan minta diantar ke rumah Mas Rizky dulu ya. Tunggu sampai dia sembuh dan ingat kamu lagi. Kalau kamu datang ke sana sekarang ini, yang ada kamu malah semakin terluka Mbak melihat Mas Rizky menolak kamu terus-menerus dan justru menyambut hangat mantan kekasihnya."
Yuni hanya diam, bibirnya benar-benar memilih untuk terkatup rapat saat ini.
"Tolong banget Mbak, aku cuma nggak mau melihat kamu terus berdebat dan mendapat penolakan dari Mas Rizky. Aku tau itu bikin kamu sakit, apa kamu juga tau Mbak kalau itu juga bikin aku sakit? Aku peduli Mbak sama kamu, gimanapun kamu itu Mbakku, aku sayang Mbak sama kamu, aku nggak mau lihat kamu terus sedih, terluka begini. Mau ya kali ini kamu dengerin apa kataku?"
Yuni menoleh, tatapan kosong dan nanar dari kedua matanya membuat Andi semakin terenyuh dan sedih melihatnya.
"Mbak, kamu harus bisa mengontrol hati dan diri kamu. Jangan mau dikuasai ego, ada kalanya kamu harus paham juga dengan situasi dan kondisi orang lain. Jangan maksain sesuatu yang nggak bisa kita atur dan kontrol. Mas Rizky itu bukan boneka kamu yang bisa kamu atur sesuai mau kamu, kamu nggak bisa mengontrol dia, biarin dia menjalani takdirnya. Kalau memang kamu bagian dari takdirnya, percaya sama aku, dia bakalan balik sama kamu Mbak, kamu cuma perlu sabar dan lebih sabar lagi. Aku juga yakin kok, kalau Kayla memang sudah melupakan Mas Rizky, dia nggak akan merebut Mas Rizky dari kamu Mbak. Percaya sama aku."
Andi bangkit, ia berjalan mendekati Yuni.
"Mbak, kita hadapi sama-sama ya? Aku akan temani dan pastikan kamu mendapatkan apa yang memang pantas kamu dapatkan. Tapi, tolong jangan bertindak gegabah yang justru akan merugikan kamu sendiri." Janji Andi pada Yuni.
Yuni bergeming, ia hanya menatap lurus, kosong pada Andi, adiknya.
Andi bisa merasakan luka yang Yuni rasakan saat ini, namun Andi juga paham betul kalau apa yang saat ini terjadi juga bukan atas kemauan siapapun.
"Mbak, percaya sama aku, aku nggak akan ninggalin kamu apapun yang terjadi." Tandas Andi meyakinkan Yuni.
Andi meraih tubuh Yuni ke dalam pelukannya. Tak ada penolakan.
Hikss hikss hikss hiksss
Andi bisa merasakan kaosnya basah oleh airmata Yuni. Yuni menangis tergugu di dalam dekapan Andi.
"Menangislah Mbak, kalau memang itu bisa membuat kamu merasa lega." Lirih Andi.
"Kayla, aku memang belum mengenal kamu, aku juga nggak tau pasti apa yang terjadi sebelumnya di antara kamu, Mas Rizky, dan pada akhirnya hadir Mbak Yuni. Tapi, aku bisa menebak, kamu juga pasti pernah ada di posisi Mbak Yuni. Bahkan mungkin, apa yang kamu rasakan lebih menyakitkan dibanding apa yang Mbak Yuni rasakan sekarang. Bisa jadi, apa yang Mbak Yuni rasakan sekarang juga bagian dari karma yang harus dia dapatkan karena sudah hadir di antara kamu dan Mas Rizky." Ucap Andi dalam hati menebak situasi masa lalu antara Kayla dan Rizky.
"Kalian bertiga saling menyakiti satu sama lain, sayangnya kalian sama-sama nggak bisa mengakui dan merasakan itu. Kalian larut dengan ego masing-masing."
