Yuni akhirnya tetap memutuskan untuk berangkat ke Malaysia menjadi seorang TKW.— sementara rencana pernikahan dirinya dan Rizky resmi batal.
Edi tidak bisa berbuat banyak atas apa yang sudah menjadi keputusan dari Rizky dan Yuni, — menurut Edi itu hak keduanya.
Sementara itu, Rini merasa kegagalan yang terjadi diakibatkan oleh Kayla. Di mata Rini, Kayla adalah penyebab Rizky goyah dan memilih memutuskan hubungan dengan Yuni dan membatalkan rencana pernikahan keduanya yang seharusnya dilaksanakan sehabis lebaran haji.
— Kayla memang selalu salah di mata Rini, sejak dirinya bahkan masih berstatus kekasih dari Rizky.
"Sudah Bu, ini bukan salah Kayla. Jangan menyalahkan dia terus." Tegur Edi.
Rini tak menggubris, baginya tetap Kayla yang salah. Rini sudah sangat berharap Yuni dan Rizky akan menikah— wajar jika dia marah dan kecewa, namun tak seharusnya Rini melimpahkan kegagalan itu pada Kayla yang tidak tahu-menahu.
"Kayla itu nggak tau apa-apa Bu, Ibu ini kenapa masih saja selalu menyudutkan Kayla atas apa yang nggak dia lakuin?"
Edi kali ini buka suara menilik sikap Rini yang terkesan kurang baik pada Kayla. — sangat berbeda dengan sikap yang Rini tunjukkan pada Yuni.
"Kalau saja dia nggak datang lagi ke hidup Rizky, anak kita, pasti pernikahan Yuni dan Rizky akan tetap berlangsung kemarin Pak. Bapak juga kenapa selalu belain Kayla??" Balas Rini ketus.
Edi geleng-geleng kepala, kali ini dirinya yang tak ingin menggubris dan meladeni ucapan Rini.— karena jika sudah begini, perdebatan panjang tanpa ujung tentu akan terjadi. Untuk itu, Edi memilih menepi dan mengalah agar perdebatan dengan Rini bisa terelakkan.
"Bapak mau ke rumah Kasno dulu." Pamit Edi sebelum berlalu meninggalkan Rini seorang diri di ruang tamu.
Rini tak menyahut, wajahnya ditekuk. Rini sepertinya benar-benar sedang tidak baik moodnya hari ini. Terlebih saat dirinya mendapat kabar dari mantan calon besan, orang tua Yuni kalau pagi tadi Yuni sudah berangkat ke Malaysia.
— Rini terus menyalahkan Kayla atas berakhirnya hubungan Rizky dan Yuni. Bahkan Rini juga menyalahkan Kayla atas kepergian Yuni dari Indonesia ke Malaysia.
"Awas kamu Kayla!" Wajah Rini merah padam, jelas sekali saat ini Rini tengah dikuasai amarah yang begitu besar.
Sayangnya, Rini marah pada orang yang tidak bersalah.
***
Rizky hari ini sedang ada acara dengan para pemuda di desanya. Kebetulan, Rizky mendapat mandat sebagai wakil ketua.
Kondisinya sudah pulih sepenuhnya, — dan kini Rizky juga sudah beraktivitas dengan normal seperti sebelumnya.
"Oke, sepakat ya semuanya?" Tanya Ketua pemuda pada seluruh anggotanya.
Semua menyahut dengan kompak, menyetujui hasil rapat yang baru saja mereka lakukan.
"Berhubung semua sudah sepakat dan keputusan juga sudah final, rapat sore ini kita tutup dengan bacaan Hamdallah."
"Alhamdulillah" Ucap mereka semua kompak.
Rizky menepi sejenak di sebuah gubuk di dekat rumah Wili. Sore ini rapat diadakan di rumah Wili. — bendahara pemuda.
"Akhirnya Lo sehat dan bisa balik lagi seperti yang sebelumnya ya, Bro." Ucap Haidar, salah seorang anggota pemuda yang kini duduk bersebelahan dengan Rizky.
"Alhamdulillah." Ucap Rizky penuh syukur.
Mereka berbincang santai sambil menunggu yang lain membubarkan diri dari rumah Wili yang letaknya tak begitu jauh dari rumah Rizky sendiri.
— setelah satu persatu anggota perlahan meninggalkan rumah Wili, kini Rizky tak hanya berdua dengan Haidar. Idham, Daffa, dan beberapa yang lain juga ikut dalam obrolan santai dengan Rizky dan Haidar.
"Ini seriusan ya Ky, kabar yang Gue denger soal Lo sama si siapa itu calon Lo kemarin yang orang selatan?" Tanya Daffa ikut menimbrung obrolan.
"Yunita." Sahut Idham mewakili Rizky yang terlihat enggan untuk menyebut nama Yuni.
"Ahh iya, si Yunita. Kenapa? Sorry nih kalau Gue kepo." Sambung Daffa.
"Nggak jodoh." Sahut Rizky singkat dan datar. Tampak jelas dari ekspresi wajah Rizky kalau dirinya sangat enggan untuk membahas lebih jauh tentang Yuni.
Erwin yang peka dengan ekspresi wajah Rizky, menyenggol teman di sampingnya. Memberi kode agar mereka tidak meneruskan pembahasan Yuni.
"Sorry ya Ky." Tukas Erwin mewakili teman-temannya yang lain.
Rizky mengangguk.
Di tengah obrolan seru mereka, siapa sangka tiba-tiba saja Kayla yang baru saja pulang kerja lewat di depan mereka. Tentu saja lewatnya Kayla di depan mereka, sempat membuat mereka alih fokus.
— terdengar kasak-kusuk di antara mereka.
Rizky tak membiarkan matanya melepas sosok Kayla dari pandangan. Dia terus mengikuti dan memandang sejauh Kayla dan kotor matic Vario Newnya berjalan menyusuri gang Rafflesia 2.
Tempat di mana saat ini mereka sedang berkumpul. — di gubuk dekat rumah Wili.
"Udah, jangan diliatin terus. Nanti kebawa mimpi. Nggak lama lagi juga kalian bakalan ketemu di acara yang sama. Tenang aja." Bisik Idham yang melihat Rizky begitu fokus menatap Kayla hingga sosoknya benar-benar hilang dari pandangan.
Rizky menoleh ke asal suara.
"Lo tau isi hati Gue?" Tanya Rizky setengah berbisik. Terkesiap mendengar Idham berbisik di telinganya yang mana itu seusia dengan apa yang sebenarnya. — Rizky masih menaruh fokus pada Kayla, mantan kekasihnya.
"Gue bukan cenayang, Ky. Tapi, dari kacamata seorang Idham yang udah malang melintang soal percintaan, Gue tau kalau Lo itu masih nggak bisa lepasin fokus Lo dari Kayla. Lo masih mencintai Kayla kan?"
Idham berbicara tanpa jeda dengan setengah berbisik.— Idham terus mencecar Rizky dengan berbagai kalimat tanya dan tebak demi tebakan.
"Pilih mana yang sesuai kata hati Lo,yang lebih bisa buat Lo ngerasa nyaman dan selalu mau nerima dia apapun yang dia lakuin. Termasuk dia yang nggak pernah pergi disaat Lo nunjukin sisi buruk Lo di depan dia, itu aja sih." Tukas Idham memberi wejangan. Kebetulan Idham memang sudah menikah, meskipun belum terlalu senior atau lama, — tapi, setidaknya dia sudah selangkah lebih punya pengalaman dibanding Rizky.
"Kayla?"
