Hasbi menyipitkan kedua matanya, tatapan matanya seolah meminta penjelasan dari Kayla yang menatapnya dengan tatapan aneh, menurutnya.
"Apa? Apa yang kamu pikirkan tentangku?" Tanya Hasbi penuh selidik.
Kayla berusaha menghindari tatapan mata Hasbi. Jujur, saat ini Kayla tiba-tiba berubah menjadi begitu gugup mendapat tatapan intens dari Hasbi.
"Kay, jangan menghindar. Jawab pertanyaan dariku. Apa yang ada dipikiranmu, Kay?" Ulang Hasbi dengan tatapan penuh tanya.
"I-itu, Bi.. aku...." Kayla berbicara dengan terbata-bata.
"Aku? Aku kenapa? Bicara yang jelas Kay?" Tukas Habis penuh penekanan.
"Ehm.. sudahlah Bi, lupakan saja. Aku nggak berpikir aneh-aneh tentangmu." Kilah Kayla berusaha mematikan pembicaraan.
Namun, sigap Hasbi mencegah Kayla yang hendak berlalu meninggalkannya.
"Tunggu, mau kemana kamu, Kay? Kita belum selesai bicara." Hasbi menahan lengan Kayla.
Kayla menoleh, ia menelan Saliva dengan susah payah.
"Bi, aku nggak berpikir apapun tentangmu. Sudahlah, lupakan saja." Ucap Kayla berusaha tenang.
"Nggak. Aku yakin tadi aku nggak salah dengar kok. Kamu mengira aku kenapa?" Sanggah Hasbi tak semudah itu percaya dengan Kayla yang sedang berusaha menghindarinya.
"Astaga, dia benar-benar sepenasaran itu." Ucap Kayla dalam hati.
PIPPPPPP
Suara klakson motor sontak membuat Kayla terlonjak kaget dan refleks memeluk tubuh tegap Hasbi.
"Dasar! Bikin orang kaget saja!" Umpat Kayla pada pengendara motor tersebut.
Sementara Hasbi sendiri cukup terkejut dan gugup dengan refleks yang Kayla tunjukan.
"Huuuufff... Menyebalkan!" Oceh Kayla kesal. Bibirnya mengerucut.
"Untung saja ada....." Kalimat Kayla seketika terpotong saat dirinya sadar siapa orang yang saat ini ada di hadapannya, menolong dirinya tidak terjatuh karena terkejut tadi.
Hasbi menautkan alisnya, keningnya berkerut. Sorot matanya tajam menatap manik mata Kayla.
"Bi, bisa tolong lepaskan tangan kamu nggak?" Pinta Kayla kikuk.
Hasbi menggeleng, "Jawab pertanyaanku dulu, Kay. Baru aku akan melepaskanmu."
Kayla semakin gugup dan canggung.
"Bi, jangan begini. Lepas, Bi. Nggak enak dilihat orang, nanti dikira ngapain loh." Bujuk Kayla.
"Biarkan saja. Apa peduliku dengan omongan mereka?" Tantang Hasbi, ia benar-benar tidak peduli. Ya, begitulah Hasbi. Dia memang tidak terlalu ambil pusing dengan pendapat orang lain tentang hidupnya, dia memilih cuek dan acuh.
"Duh, aku lupa. Hasbi kan memang orangnya bodoamatan. Dia mana peduli apa yang orang katakan tentangnya. Huft!" Kayla merutuki dirinya sendiri dalam hati.
"Oke, oke. Aku akan jawab pertanyaan kamu, Bi. Tapi, lepaskan aku dulu. Aku benar-benar nggak nyaman seperti ini." Rengek Kayla memohon.
Hasbi menuruti perkataan Kayla.
"Meluk sendiri kok nggak nyaman, aneh." Tukas Hasbi dingin.
"Ya.. kan kaget!" Kilah Kayla membela diri.
"Ya sudah, cepat katakan. Sebelumnya kamu berpikir apa tentangku? Jangan-jangan aku apa? Mikir apa kamu tentangku? Jawab!" Hasbi memberondong tanya pada Kayla.
"Satu-satu kenapa nanyanya." Dengus Kayla.
"Kayla, katakan padaku apa yang kamu pikirkan tentangku?" Ulang Hasbi.
"Aku... Aku hanya berpikir kamu belakangan ini agak aneh, Bi. Itu saja kok." Ucap Kayla.
"Aneh? Aneh gimana, Kay?" Tanya Hasbi bingung.
"Ya aneh, masa sih nggak sadar?" Balas Kayla.
Hasbi mencoba mencerna perkataan Kayla. Sikapnya yang bagaimana yang menurut Kayla itu aneh. Hasbi berpikir keras.
"Sudah ku jawab kan? Awas, aku mau beli minum dulu, aku haus." Kayla berjalan begitu saja melewati Hasbi yang masih berdiri mematung mencerna perkataan Kayla barusan.
Kayla menarik nafas panjang, lalu menghembusnya perlahan. Kayla melakukannya berulangkali untuk mengatasi kegugupan yang sejak tadi dirasakan olehnya saat berada di dekat Hasbi, adiknya.
"Aneh sekali, bagaimana bisa aku segugup ini di depan Hasbi? Sadar Kayla, Hasbi itu adik kamu. Masa kamu...? Aishh..." Kayla bergumam sembari berjalan menuju penjual minuman yang tak jauh dari tempatnya dan Hasbi tadi menepi.
