Bagian Sepuluh

133 6 0
                                        

Hasbi dan Kayla berpapasan dengan Om Hansen di lobby, ia menenteng dua buah plastik berisi dua cup es dan makanan siap saji.

"Loh, kalian mau kemana?" Tanya Om Juan.

Kayla dan Hasbi menghentikan langkahnya.

"Mau pulang, Om." Jawab Kayla sopan.

"Itu Om kalian sudah belikan kalian minum dan makan, kok malah mau pulang?" Sambung Om Sendy.

"Ada urusan mendadak Om." Pungkas Hasbi bersuara.

"Ini bawa pulang, makan di rumah nggak apa-apa." Titah Om Hansen menyerahkan kantong plastik di tangannya kepada Kayla.

Kayla menerimanya, "Terima kasih, Om. Maaf, kita berdua membuat Om Hansen dan yang lain repot."

"Nggak Kay, kami nggak merasa direpotkan sama kamu dan Hasbi." Bantah Om Juan.

"Iya, Kay. Benar apa kata Om Juan." Timpal Om Hansen.

Kayla mengangguk, senyum manis terukir di wajah Kayla.

"Bi, dia masih di sana?" Tanya Om Hansen pada Hasbi.

Kayla paham siapa yang Om Hansen maksud.

"Masih, Om." Jawab Hasbi.

Om Hansen manggut-manggut,

"Oh iya, ya sudah kalian hati-hati." Pesan Om Hansen.

"Iya, Om. Kita berdua pamit pulang dulu ya. Assalamu'alaikum." Kayla mewakili Hasbi berpamitan pada ketiganya.

Kayla dan Hasbi mencium takzim tangan Om Hansen, Om Juan, dan Om Sendy bergantian.

"Jangan ngebut, Bi. Kayla takut kalau dibonceng ngebut itu." Pesan Om Hansen.

"Kok Om tahu?" Tanya Kayla.

"Rizky yang cerita." Jawab Om Hansen.

Kayla menghembus nafas berat.

"Sudah, nggak usah diingat lagi moment sama laki-laki itu. Dia mau nikah, tuh tadi sudah ada calon istrinya di sana. Ayoo buruan!" Hasbi berbisik tepat di telinga Kayla.

Hasbi menarik lengan Kayla, berjalan meninggalkan lobby menuju ke parkiran rumah sakit.

"Padahal, Rizky cocok sekali kalau sama ponakanmu, Ceng." Celetuk Om Sendy.

"Benar. Kayla orangnya ramah, sopan, dan menyenangkan." Dukung Om Juan.

"Aku tahu, tapi mau bagaimana lagi, sebentar lagi Rizky mau menikah dengan perempuan tadi." Tukas Om Hansen.

"Andai aku punya ponakan laki-laki, aku akan jodohkan dia dengan ponakanmu, Ceng." Ide Om Juan.

"Sudah, sudah. Itu biar menjadi urusan mereka bertiga. Kita tim hore saja, jangan ikut campur." Sela Om Hansen, berjalan lebih dulu meninggalkan Om Juan dan Om Sendy di lobby.

***

Yuni berniat masuk ke dalam ruang rawat Rizky, namun belum sempat membuka pintu ruang rawat Rizky, Om Hansen dan yang lainnya sudah kembali.

Yuni mengurungkan niatnya, ia hanya berdiri saja di depan pintu. Tak jadi melangkah masuk.

"Mau apa?" Tanya Om Hansen dingin.

"Eng-enggak, Om." Jawab Yuni terbata-bata.

"Jangan masuk ke ruang rawat Rizky dulu, dia butuh waktu istirahat." Tukas Om Hansen.

Yuni mengangguk, "Iya, Om."

Om Juan, Om Sendy, dan Om Hansen duduk di tempat semula. Sementara Yuni masih berdiri di depan pintu.

"Mau sampai kapan berdiri di situ?" Tanya Om Sendy.

Tak kalah dinginnya dengan Om Hansen, Om Sendy juga berbicara begitu dingin pada Yuni.

Yuni kemudian duduk tak jauh dari ketiga laki-laki tersebut, ia memilih duduk sedikit jauh karena merasa tidak nyaman. Yuni merasa kalau ketiganya sama seperti Hasbi yang tidak menyukai keberadaannya di dalam hidup Rizky.

"Kenapa semua orang di sekitar Rizky rasanya tidak ada yang menyambutku hangat, sehangat mereka menyambut Kayla? Apa salahku sih?" Tanya Yuni dalam hati.

***

BACKGROUND BIRUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang