Bagian 44

26 1 0
                                        

Yuni mengetuk pintu rumah Rizky. Melihat ke sekeliling rumah yang nampak sepi. Tak ada motor milik Edi, calon mertuanya. Yuni hanya melihat ada mobil antik milik Rizky.

Sementara itu, Andi duduk di atas jok motor. Memperhatikan Yuni yang sejak tadi berdiri di depan pintu utama, mengetuk pintu. Tapi tidak kunjung ada yang keluar menyambut kedatangannya.

"Nggak tau kenapa, feelingku bilang Mas Rizky sengaja mau menjauhi kamu, Mbak." Gumam Andi memandang iba Yuni.

Andi memandang sekitar, ke jalanan yang ada di seberang pekarangan rumah Rizky.

"Apa kamu bisa Mbak tinggal di tempat ini. Di lingkungan yang bahkan kamu sendiri nggak tau pasti sifat orang-orangnya seperti apa. Aku takut kamu mudah tersulut emosi."

Yuni menoleh ke arah Andi, tatapannya penuh dengan kebingungan. Andi paham. Andi lalu berjalan menghampiri Yuni.

"Coba kamu chat Mas Rizky, Mbak. Biar aku coba cek di pintu samping dan belakang." Saran Andi.

Yuni setuju, gegas Yuni membuka ponsel miliknya. Mencari nomor ponsel Rizky, lalu mengirim beberapa pesan melalui aplikasi whatsapp.

"Assalamu'alaikum?" Ucap Andi hingga tiga kali di pintu belakang rumah Rizky. Pintu itu berada tepat di ruang makan, barangkali ada orang yang sedang makan atau mengambil minum di kulkas, pasti akan mendengarnya.

Andi mengetuk dan mengucap salam sambil menilik lewat balik jendela, Andi memicing melihat ke dalam ruang makan. Tidak ada bayangan orang di ruangan tersebut. Andi berpikir mungkin memang rumah sedang kosong sekarang.

"Gimana Mbak, Mas Rizky balas pesan kamu nggak?" Tanya Andi sekembalinya dia arah pintu belakang rumah Rizky.

Yuni menggeleng. Tatapan matanya sayu dan sendu. Andi semakin yakin kalau Rizky memang sengaja memangkas komunikasi dengan Yuni, kakaknya. Sikap Rizky terlalu kentara di mata Andi.

"Ada orang yang nyahut nggak Ndi di pintu belakang?" Tanya Yuni.

"Nggak ada, Mbak. Mungkin mereka lagi nggak ada di rumah. Kosong." Jawab Andi.

Yuni memasukkan benda pipih berwarna abu-abu terang itu ke dalam tas selempang miliknya.

"Mbak, kita pulang aja yuk. Gampang besok kita balik ke sini lagi. Langitnya mendung banget tuh, takutnya nanti malah hujan." Ajak Andi berharap Yuni setuju untuk pulang, daripada terus menunggu tanpa tau pasti kapan ada orang keluar dari rumah Rizky untuk menyambut mereka berdua.

Yuni mengangguk. Andi terhenyak, tumben sekali Yuni tidak melakukan penolakan dan mendebat usulan Andi. Apalagi berkaitan dengan Rizky.

Dari balik jendela, Rizky mengintip Yuni dan juga Andi. Ada perasaan bersalah di hati Rizky, tapi Rizky juga tak bisa terus menipu hati dan dirinya sendiri. Rizky masih sangat mencintai dan menginginkan Kayla.

"Maafin aku, Yun. Maaf, Ndi. Mas nggak ada niat buat bikin kamu sama Mbakmu kecewa. Tapi, Mas juga nggak bisa terus-terusan bohongin hati Mas begini." Lirih Rizky tak enak hati, Rizky menatap iba Yuni.

"Aku akan temui orang tua kamu, Yun. Aku akan bilang ke mereka, kalau apa yang kita rencanakan kemarin harus aku batalkan." Sambung Rizky, mengintai dari balik jendela sampai Yuni dan Andi benar-benar pergi dari rumahnya.

Tanpa Rizky tahu, sebenarnya Andi menyadari keberadaan Rizky di balik jendela ruang tamu meski hanya melihat dari ekor matanya.

"Aku tau kamu ada di ruang tamu, Mas. Aku juga tau kalau kamu sengaja nggak mau buat ketemu sama Mbak Yuni." Ucap Andi dalam hati, Andi sengaja tak memberitahu Yuni agar Yuni tak perlu berdebat dengan Rizky.

"Aku akan pastikan kamu menikahi Mbak Yuni, Mas." Andi bermonolog.

BACKGROUND BIRUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang