Rizky menghubungi nomor WhatsApp Kayla dengan nomor baru.
"Untungnya aku tau, kalau nomor kamu masih sama, Kay." Gumamnya.
Jemari Rizky lincah mengetik pesan singkat untuk dikirim ke nomor WhatsApp Kayla.
Send. Pesan terkirim.
"Semoga kamu baca pesan dari aku, Kay. Semoga kamu juga mau balas pesanku."
Rizky menerawang jauh, mengingat kenangan bersama Kayla. Saat itu, mereka begitu bahagia. Rizky hampir setiap hari berkunjung ke rumah Kayla. Menikmati malam berdua, diselingi canda, tawa, dan lainnya. Mereka bahagia sekali setiap harinya, bisa menghabiskan waktu bersama.
Kini, semua hanya tinggal kenangan. Mereka sudah seperti dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal satu sama lainnya. Padahal dulu begitu dekat seperti lem dan perangko, menempel.
"Ky, mau ikut mas gak?" Tanya Arifin.
"Kemana mas? Rapih gini." Balas Rizky.
"Ke rumah Kayla." Arifin menjawab asal.
"Serius mas, mau kemana?" Ulang Rizky.
"Ke rumah Kayla, Ky." Goda Arifin.
"Mass..."
Arifin terkekeh, "Kalau kamu gak percaya, ayo ikut. Mas beneran mau ke rumah Kayla, Rizkyyyyy..." Tegas Arifin.
Rizky tidak tau harus percaya atau tidak dengan ucapan kakaknya, karena setau dia selama ini Arifin tidak pernah ada urusan dengan keluarga Kayla.
"Gimana? Mau ikut gak? Kalau mau ikut, ayo. Mas tungguin di depan." Ucap Arifin sebelum berlalu.
Rizky berpikir sejenak.
"Rif, jadi?" Tanya Edi, ayahnya.
"Jadi, Pak." Jawab Arifin.
Edi manggut-manggut.
"Jangan lupa dibawa." Pesan Edi.
"Siap, Pak. Udah aku taruh itu di jok motor. Mudah-mudahan diterima dengan baik." Pungkas Arifin.
"Aamiin, semoga saja." Balas Edi.
Dari dalam rumah, keluar Rizky yang sudah berganti pakaian.
Arifin menoleh saat Edi, ayahnya memberi kode untuk menengok ke belakangnya.
Arifin tersenyum, "Ikut?" Tanyanya pada Rizky, memastikan.
"Iya, mas. Aku ikut." Sahutnya.
"Ya udah ayo, naik." Titah Arifin.
Rizky penasaran, apakah ucapan kakaknya ini benar atau hanya menggodanya saja.
"Ternyata mas Arifin beneran pergi ke rumah Kayla? Tapi, mau ngapain?"
