Hasbi merapihkan beberapa pakaian miliknya, lalu memasukkannya ke lemari. Dibanding dengan Kayla, memang Hasbi lebih suka kerapihan. Hasbi paling tidak suka melihat kamar yang berantakan.
"Bi, sabtu depan ada acara nikahannya Tegar sama Kristy. Kamu sama Kayla ikut ya nanti. Mama sama Papa pengen ngenalin kalian ke kolega Om Teddy." Ujar Mama Hasbi dari ambang pintu kamar Hasbi.
Hasbi menoleh, mengangguk paham.
"Nanti bilangin ke Kayla ya, kalau di sudah pulang dari kerjaannya." Sambung Mama Hasbi dan Kayla sebelum berlalu pergi.
Hasbi kembali melanjutkan aktivitasnya. Merapihkan dan memasukkan satu demi satu pakaian miliknya yang sudah selesai disetrika ke dalam lemari di sudut kamar.
'Bi, jemput aku ya satu jam lagi.'
Hasbi membaca pesan singkat yang dikirim Kayla untuknya. Hasbi tak membalas pesan dari Kayla, hanya membacanya saja, lalu kembali memasukkan benda pipih tersebut ke dalam saku celananya.
***
Andi merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Merentangkan lengannya yang kekar ke sisi kanan dan kiri tubuhnya. Matanya perlahan memejam. Andi tertidur.
Di dalam mimpi Andi.
"Kamu mau kemana Kay?" Tanya Andi penasaran.
Kayla hanya tersenyum, tak menyahut.
"Kay?" Panggil Andi.
Namun, Kayla justru semakin jauh berjalan meninggalkan Andi seorang diri di taman.
"Kaylaaaaa, kamu mau kemanaaa?!" Seru Andi memanggil-manggil nama Kayla.
Namun, yang dipanggil justru seolah tak peduli. Kayla tak menggubris teriakan Andi.
"Kaylaaaa!!" Pekik Andi tanpa henti menyeru nama Kayla yang kian hilang dari pandangan mata Andi.
"Kaylaaaaaaa!!" Andi terbangun dari tidur siangnya, wajahnya pucat, Andi meraup wajahnya kasar. Keringat bercucuran di tubuhnya yang cukup atletis. Sixpack.
Andi memang senang ke gym, beberapa jenis olahraga juga Andi tekuni, seperti jogging, futsal, badminton, hingga sepakbola, dan juga renang.
Andi bekerja dari rumah, melalui laptop dan ponsel. Perkara gaji tiap bulannya tentu saja menyesuaikan dengan jam tayang dan jumlah orang yang membagikan postingan miliknya di sosial media. Termasuk mengirim gift dan sebagainya.
Sementara itu, Yuni kakaknya, menjalani aktivitas utamanya sebagai seorang penjual es di tepi jalan, selain es, Yuni juga menjual aneka jenis gorengan seperti tahu aci/isi cireng, martabak telur, dan molen pisang.
Yuni berjualan dari jam tujuh pagi hingga tiga sore. Setelah itu, Yuni membantu Ibunya menjaga warung mie ayam yang ada di pekarangan rumah Pamannya.
Tugas rumah diserahkan pada Andi yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Andi tidak merasa keberatan sama sekali dengan tugas yang diberikan oleh Ibu dan Ayahnya. Karena memang dialah yang lebih banyak memiliki waktu di rumah.
Hosss hosss hoss
Nafas Andi terdengar ngos-ngosan. Padahal hanya mimpi, bukan nyata. Tapi, rasa lelah yang dirasakan oleh Andi ikut terbawa ke alam nyata. Ini aneh. Apalagi mimpi yang dia alami itu tentang Kayla, perempuan yang sama sekali tidak terlalu dekat dengan dirinya selama ini. Hanya bertemu sambil lalu dan belum lama.
"Kenapa tiba-tiba mimpiin Kayla? Aneh banget lagi mimpinya." Gumam Andi, menyeka keringat yang menetes dari keningnya.
"Oh iya, Kayla kan rumahnya nggak jauh dari rumah Mas Rizky. Apa aku samperin Kayla aja ya? Mastiin kalau dia nggak apa-apa, daripada aku jadi gelisah gini." Entah darimana ide itu muncul, Andi tiba-tiba saja berkeinginan menemui Kayla.
Andi bangkit dari ranjang, meraih jaket di gantungan baju, tak lupa Andi menyemprot minyak wangi ke jaket dan kaos yang dia kenakan. Minyak wangi kesukaannya. Aroma kopi yang menenangkan.
"Semoga kamu nggak kenapa-kenapa ya Kay. Aku gelisah dan cemas, takut terjadi apa-apa sama kamu di sana." Ucap Andi, menutup pintu kamarnya.
Andi gegas mengambil kunci motor dari atas nakas, berjalan dengan terburu-buru.
"Aku harus pastikan sendiri." Gumamnya sembari menyalakan mesin motor.
"Feelingku nggak enak." Tandas Andi.
