"Aku harus mencari cara untuk membuat Kayla nggak diterima lagi di keluarga Rizky. Aku nggak mau Kayla merasa bangga bisa merebut hati keluarga Rizky dari aku!"
Yuni terlihat uring-uringan, gelagatnya tersebut membuat sang adik penasaran.
"Kenapa sih mbak? Kayaknya gelisah banget begitu? Ada masalah?" Tanya Andi.
"Ndi, menurut kamu mbak harus apa sekarang?" Yuni bertanya balik.
Andi mengernyitkan keningnya,
"Harus apa, apanya mbak?" Tanya Andi bingung.
"Mantan pacar Rizky muncul lagi sekarang, Ndi. Bahkan, kemarin dia datang ke rumah sakit. Dia juga masih dapat tempat yang baik di hati orang-orang sekitar Rizky." Ungkap Yuni, mimik wajahnya nampak kesal dan tak suka teringat saat di rumah sakit kemarin.
"Maksudnya dapat tempat?"
"Ya dia masih disambut hangat sama orang-orang yang ada disekitar Rizky. Teman kerja Rizky, teman nongkrong, bahkan Bapak juga masih menyambut hangat dia, Ndi." Tandas Yuni.
Andi terdiam sejenak, mencerna kalimat yang disampaikan oleh Yuni, kakaknya.
"Mungkin karena mereka memang kenal sudah lama dan mereka juga kan tinggal satu desa, wajar kalau saling menyambut hangat, mbak." Andi memberi pendapatnya.
"Ishh, kamu tuh gimana sih Andi, mbak itu lagi kesal dan gusar begini itu karena perempuan itu muncul lagi setelah dua tahun ini dia menjauh dari Rizky!" Tukas Yuni ketus.
"Ya terus gimana, mbak? Kamu mau melarang mereka berteman sama dia? Kamu mau melarang mereka supaya nggak menyambut hangat dia lagi? Kamu siapa?" Pungkas Andi.
"Omongan Andi ada benarnya, aku nggak ada hak melarang mereka. Tapi, kesal sekali rasanya melihat Kayla itu dekat dan masih diterima dengan baik sama mereka!" Ucap Yuni dalam hati.
"Lebih baik kamu fokus ke diri kamu sendiri, mbak. Apa yang sekiranya masih kurang sama kamu. Aku juga laki-laki, aku juga kadang tetap menilai perempuan yang baik buat dijadikan istri dan juga ibu buat anak-anakku nanti itu yang seperti apa, tetap ada penilaiannya." Pesan Andi sebelum berlalu ke kamarnya.
Belum sempat Yuni menanggapi, Andi sudah tidak ada di kursi. Ia sudah hilang dari pandangan mata Yuni.
***
Hari ini Hasbi kebetulan pulang lebih cepat. Tidak ada jadwal lembur untuknya. Sekitar pukul 14.30 wib, Hasbi bersiap menuju ke tempat kerja Kayla menggunakan motor gede miliknya.
Si Merah, motor kesayangannya yang ia beli menggunakan uang hasil kerja kerasnya dan menabung selama masih sekolah.
Hanya butuh waktu lima menit untuk Hasbi sampai ke tempat Kayla bekerja dengan kecepatan cukup tinggi.
Dari kejauhan, Kayla sudah menunggu kedatangan Hasbi di depan pintu gerbang.
'Satu jam sebelumnya'
Aku pulang lebih awal juga hari ini, sekitar jam dua siang jemput aku. Jangan terlambat.
"Setengah jam!" Gerutu Kayla, bibirnya mengerucut, cemberut.
"Aku harus ke tempat foto copy dulu tadi sebelum berangkat ke sini." Jelas Hasbi.
"Nyenyenyenye." Oceh Kayla.
"Jadi mau pulang atau nggak?" Tanya Hasbi.
"Jadilah! Masa mau nginep! Gimana sih!" Jawab Kayla ketus.
"Dih, kenapa tuh nada bicaranya ketus begitu. Nggak, jangan naik kamu, Kay!" Larang Hasbi tak suka dengan respon dari Kayla.
"Jadi, Hasbi. Ayo pulang, hmm." Ulang Kayla, kali ini dengan mimik wajah dibuat seramah mungkin.
"Ya sudah, cepat naik." Titah Hasbi.
"Iya, sebentar. Ketinggian ini." Gerutu Kayla.
"Kamu yang kependekan, Kay. Tadi pagi juga bisa naik, masa sekarang nggak bisa." Ledek Hasbi.
Dengan susah payah, Kayla akhirnya berhasil naik ke atas motor gede Hasbi.
"Jangan ngebut-ngebut! Awas!" Pesan Kayla.
Hasbi tak menanggapi, ia gegas menyalakan mesin motornya, melaju membelah jalanan yang super sibuk siang jelang sore itu.
***
Dokter yang merawat Rizky menemui Om Hansen dan Tante Ika di ruang tunggu. Kebetulan hari ini Om Hansen dan Tante Ika yang menawarkan diri untuk menjaga Rizky, sementara Ibu dan Bapak Rizky sedang menemani adik Rizky melahirkan putri keduanya.
"Bisa saya bicara dengan perwakilan dari keluarga pasien atas nama Rizky Alfian?" Tanya Dokter.
Om Hansen dan Tante Ika bangkit dari kursi, keduanya saling pandang sesaat. Keduanya lalu mengikuti langkah kaki Dokter tersebut ke dalam ruangannya.
"Silakan duduk, Pak, Bu." Titah Dokter mempersilakan tamunya duduk di kursi di depannya.
"Ada apa ini dok? Apa ada hal penting yang berkaitan dengan pasien?" Tanya Tante Ika tak sabaran.
Dokter mengangguk ragu, lalu menyerahkan selembar berkas.
"Ini apa dok?" Tanya Om Hansen tak mengerti.
"Hasil pemeriksaan lebih lanjut dari pasien atas nama Rizky Alfian, Pak." Sahut Dokter bernama Dokter Tirta.
Om Hansen dan istrinya, Tante Ika membuka pelan amplop tersebut.
Om Hansen dan istrinya cukup terkejut membaca hasil pemeriksaan lanjutan dari Rizky.
Keduanya sejenak saling pandang, ada kebingungan yang tampak dari wajah keduanya saat ini.
"Jadi, apa yang harus kami lakukan?" Tanya Om Hansen.
Dokter Tirta memberikan penjelasan yang harus dilakukan untuk membantu proses pemulihan Rizky pada Om Hansen dan Tante Ika.
Keduanya menyimak dengan baik poin demi poin yang disampaikan Dokter Tirta.
"Apa dia mau membantu Rizky?" Tanya Tante Ika setengah berbisik.
