Sepanjang jalan, Rizky sibuk menerka-nerka.
"Kamu pasti ngiranya mas bercanda ya?" Tebak Arifin tiba-tiba, membuyarkan lamunan Rizky.
"Eh, gimana mas?" Tanya Rizky gelagapan.
Arifin menahan tawa, dari kaca spion dia bisa melihat ekspresi Rizky yang saat ini sedang salah tingkah.
"Enggak, gak apa-apa. Lupain aja."
Kini, keduanya tiba di halaman rumah keluarga angkat Kayla. Di rumah Hasbi.
Keduanya turun dari motor vario merah keluaran tahun 2000an awal silam.
Rizky sedikit gugup, karena ini adalah pertama kalinya untuk Rizky kembali menginjakkan kakinya di rumah Kayla.
"Udah siap ketemu Kayla?" Goda Arifin.
Rizky tersenyum canggung.
TOK TOK TOK
Arifin mengetuk pintu. Kebetulan gerbang rumah terbuka, jadi, keduanya langsung memarkirkan motor mereka di halaman rumah Kayla—lebih tepatnya rumah keluarga Hasbi.
Sepi. Tidak ada yang menyahut salam mereka berdua.
Rizky celingukan, memandang sekeliling.
"Kayaknya gak ada orang, mas." Celetuk Rizky mengingat situasi rumah yang tampak sangat sepi.
"Siapa tau mereka di belakang, kan rumah ini panjang dan besar banget, Ky, siapa tau gak denger suara kita." Arifin berusaha berpikir positif.
Rizky mengangguk.
Arifin kembali mengetuk pintu dan mengucap salam. Hingga tiga kali.
"Mas udah ngasih tau orang rumah Kayla, kalau mas mau datang ke sini?" Tanya Rizky.
"Ngapain? Datang tinggal datang kok. Kamu ini, ngapain dibuat repot sih Rizky." Sela Arifin santai.
"Ya gak gitu maksudnya, mas. Cuma kan, kalau gak ada janji mau bertamu jadinya kan gini. Gak lucu banget kalau kita udah bela-belain datang ke sini, tapi ternyata gak ada orangnya di rumah." Celoteh Rizky.
Arifin hanya tersenyum mendengar ocehan adik laki-laki bungsunya ini, Rizky.
"Udah, ngomongnya?" Tutur Arifin santai.
Rizky menghentikan bicaranya yang tanpa rem sejak tadi.
"Serius ini, mas. Kalau belum janjian ya bisa aja mereka lagi pada keluar dan gak ada di rumah." Pungkas Rizky.
"Ketukan keempat, Hasbi keluar buat bukain kita pintu. Percaya gak?" Ujar Arifin.
Rizky menggelengkan kepalanya, tanda tak percaya dengan tebakan Airin, kakaknya.
"Oke, kamu lihat ini ya. Mas akan ketuk pintu ini buat yang keempat kalinya. Kamu lihat nanti apa yang akan terjadi di depan kamu." Tantang Arifin yakin dengan tebakannya soal Hasbi yang akan membukakan pintu untuk mereka.
"Silakan, mas coba." Ucap Rizky mengalah.
TOK TOK TOK
Arifin benar-benar kembali mengetuk pintu rumah Kayla (atau Hasbi), dan saat ketukan itu baru saja selesai. Terdengar derap kaki mendekat ke arah pintu utama.
"See? Ada langkah kaki mendekat!" Bisik Airin merasa menang.
"Tap, itu belum tentu Hasbi, mas." Sela Rizky masih tak percaya.
"Lihat aja, dalam hitungan ketiga, Hasbi akan berdiri di balik pintu ini, dan dia bakal bilang.... Eh mas Arifin, akhirnya datang juga. Bapak udah nunggu di dalam. "
Rizky ragu, tak tau harus percaya atau tidak dengan ucapan kakaknya—Arifin.
"Satu... Dua... Ti..."
Belum selesai Arifin menghitung, pintu terbuka.
Mata Rizky terbelalak, melihat seseorang di balik pintu yang terbuka saat ini.
