Bagian Duapuluh

62 1 0
                                        

Sepulang dari rumah sakit, Andi tanpa sadar tersenyum mengingat sosok Kayla.

Yuni yang sejak tadi memperhatikan gelagat Andi merasa curiga.

"Ndi, Andi?" Yuni mengibaskan tapak kanan tangannya di depan wajah Andi, adiknya. Namun, Andi sepertinya tak menyadarinya.

"Dia melamun? Tapi, apa coba yang buat dia sampai melamun begitu?" Tanya Yuni lirih.

Tatapan matanya penuh selidik. Karena tak biasanya Yuni melihat Andi melamun begini apalagi sampai senyum-senyum sendiri.

"Andiiiiii!" Seru Yuni.

Andi terkejut hingga dirinya harus berucap istighfar berulangkali.

"Astaghfirullah, Mbak Yuni. Ada apaan sih Mbak? Ngagetin saja kamu ini!" Protes Andi.

"Kamu yang ada apa? Tumben banget kamu melamun sampai senyum-senyum begitu! Sudah seperti orang nggak waras saja!" Ujar Yuni sedikit kesal.

Andi tersenyum canggung, "Lah memang nggak boleh aku melamun? Aku juga manusia biasa kali Mbak, wajar sesekali melamun." Ucap Andi membela diri.

"Halahhh! Paling juga kamu mikirin cewek. Iya kan? Ngaku kamu!" Terka Yuni.

"Ng-nggak! Apaan cewek, nggak mikirin cewek aku, Mbak. Jangan asal nebak begitu kamu. Fitnah nanti!" Kilah Andi sedikit gugup.

"Tau darimana dia kalau aku melamun tentang cewek? Dih, gawat. Cenayang apa ya dia, hmmm harus waspada aku!" Ucap Andi dalam hati.

Yuni menatap tajam Andi, mencoba membaca pikiran adik bungsunya ini.

"Apa sih Mbak Yuni, ngapain kamu melihat aku seperti itu hah?! Mau hipnotis aku ya?!" Andi berusaha berbicara dengan tenang.

"Awas ya, kalau kamu main rahasia-rahasia dari Mbak! Awasss!" Yuni melenggang masuk setelah memberi peringatan pada Andi, adik bungsunya.

"Mbak Yuni, kamu ini bahaya juga ternyata. Tebakanmu itu benar sekali, aku sedang memikirkan perempuan. Perempuan yang tadi baru saja kamu tampar, hmmm!" Andi bermonolog.

Andi meraup wajahnya sendiri kasar, ada perasaan lega namun juga khawatir.

***

Hasbi masih mencoba mencerna perkataan Kayla tadi di trotoar. Sementara Kayla sibuk melahap batagor yang baru saja ia beli dari penjual keliling langganannya.

"Bi, Mama sama Papa kirim pesan ke kamu nggak?" Tanya Kayla di sela-sela ia makan.

"Nggak ada, Kay. Kenapa?" Sahut Hasbi.

"Tumben, biasanya mereka selalu mengirim pesan kalau ada keperluan di luar." Tukas Kayla heran.

"Mungkin sedang di jalan atau memang nggak sempat buka ponsel." Pungkas Hasbi.

"Bisa jadi, meskipun nggak biasanya begini sih. Agak aneh saja menurutku, Bi." Tandas Kayla.

"Sudahlah, kamu teruskan saja itu makan batagor Mang Azis. Nggak usah banyak bicara sambil makan, nanti tersedak!"

Hasbi bangkit dari sofa, melenggang masuk ke dalam kamar meninggalkan Kayla di ruang tamu seorang diri.

"Dihhh apaan sih, nggak ya!" Sanggah Kayla.

"Kan siapa tau, kalau nggak ya syukur!" Balas Hasbi dari dalam kamarnya.

Tokkk tokk tokkk

"Permisi." Terdengar seseorang mengucap salam. Suara seorang perempuan.

Kayla bangkit dari sofa, berjalan ke arah pintu utama.

"Iya, tunggu sebentar." Seru Kayla.

Kayla memutar knop pintu.

BACKGROUND BIRUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang