Bagian 47

29 1 0
                                        

Kayla merasa sudah lebih lega setelah mengutarakan semuanya ke Rizky. Meskipun sempat ada penolakan dari Rizky. Namun, Kayla tetap kekeuh dengan apa yang sudah diputuskannya dan kali ini Rizky yang harus menerima keputusan Kayla.

"Gimana? Udah lega?" Tanya Hasbi di sela acara tv yang sedang menayangkan iklan sebuah produk oleh talent mereka.

Kayla menoleh, menatap Hasbi. Mengangguk.

"Syukurlah." Ucap Hasbi ikut lega.

"Bi." Desis Kayla.

"Iya, ada apa?" Tanya Hasbi ingin tahu.

Kayla memegang tangan Hasbi, menatap serius Hasbi. — Hasbi terkejut.

"Astaga, Kayla ini apa-apaan. Ngapain dia pegang-pegang tanganku segala. Nggak tau apa dia ya kalau aku jdi grogi gini." Hasbi mencoba menenangkan dirinya, mengatur nafas dan menahan gejolak di hatinya akibat sentuhan tangan Kayla.

"Sekarang, saatnya kita cari tau tentang keluarga kita sendiri. Aku ngerasain sesuatu yang beda dari Mama dan Papa, kamu juga kan? Entahlah tapi ngerasa Mama dan Papa seperti menyembunyikan sesuatu dari kita loh Bi, iya nggak sih?" Tukas Kayla.

Mimik wajahnya sangat serius sekali sekarang.

"Oke, mau mulai menyelidiki kapan?"

***

Rizky pulang dengan perasaan gelisah. Entah kenapa ucapan Yuni yang berkata akan pergi ke Malaysia membuatnya menjadi cemas. — mungkinkah?

"Kenapa Mas? Mukanya kok ditekuk begitu?" Tanya Alim yang kebetulan sedang pulang kampung, kali ini tanpa Dinda.

"Nggak ada apa-apa, Lim." Jawab Rizky berbohong.

"Mas, aku ini sudah jadi bagian dari keluarga mas dan Dinda. Aku bukan baru kemarin kenal Mas Rizky. Aku juga laki-laki, aku tau kok orang yang lagi ada masalah sama enggak ada apa-apa. Kita juga udah sama-sama dewasa kan?" Alim berbicara panjang lebar.

Rizky menoleh sekilas.

"Yuni, Lim." Lirihnya memandang jauh ke arah jalan raya di depan rumahnya.

"Mbak Yuni kenapa Mas?" Tanya Alim tertarik mencari tahu.

"Dia mau pergi ke Malaysia, Lim." Rizky tertunduk lesu.

"Mas Rizky sedih mau ditinggal Mbak Yuni ke Malaysia?"

Rizky menggeleng, "Bukan itu, Lim."

"Terus?" Alim memperhatikan mimik wajah Rizky, — ada kegelisahan di sana.

"Aku cuma takut dia salah ikut orang, Lim. Apalagi katanya Mbak Anin nggak ikut." Tukas Rizky menjelaskan.

Alim manggut-manggut.

"Aku rasa Mas Rizky mulai timbul rasa peduli ke Mbak Yuni. Baguslah." Ucap Alim dalam hati.

"Oh iya, Lim. Aku mau menemui Kayla. Aku harus bicara sama dia. Tolong jaga rumah ya, aku agak lama." Tandas Rizky sebelum terburu-buru pergi.

Alim mendesah, baru saja merasa lega karena melihat ada kegelisahan di wajah Kakak iparnya itu pada Yuni, belum sampai satu menit sudah beralih tuju— Kayla.

"Mas Rizky, Mas Rizky. Kamu ini nggak peka atau pura-pura nggak peka. Mbak Yuni sangat mencintai kamu, dia mau kamu jadi suaminya. Kamu malah masih sibuk sama Kayla, yang jelas-jelas udah kamu putusin karena kamu milih Mbak Yuni. Aku jadi penasaran, sebenernya kamu ada tujuan apa dulu sewaktu milih Mbak Yuni dan milih buat ninggalin Kayla." Alim bermonolog.

BACKGROUND BIRUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang