Bagian 27

32 3 0
                                        

Desta dan Eza turut pamit pulang pada keluarga Rizky tak lama setelah Arifin beserta keluarga kecilnya pamit pulang.

"Hati-hati di jalan ya kalian." Pesan Edi pada Desta dan Eza.

Keduanya mengangguk, tak lupa mereka pamit, mencium takzim tapak tangan Edi beserta Rini, Ika, dan Hansen.

"Jen, duluan ya." Ucap Eza, Jenita mengangguk.

"Jen, hati-hati nanti pulangnya." Pesan Desta.

"Kalian juga hati-hati ya." Balas Jenita.

Di dalam ruang rawat Rizky, Kayla masih tetap terjaga. Kayla sibuk berbalas pesan singkat dengan Hasbi.

'Sudah larut malam, Rizky juga pasti sudah tidur kan? Aku jemput sekarang. Nggak mungkin aku biarin kalian berdua pulang malam-malam begini lewat jalan raya gini.'

"Hasbi, Hasbi, secemas ini kamu sekarang ke aku hmmmm... Aneh banget asli sikapmu akhir-akhir ini, Bi." Gumam Kayla.

'Aku otw ke rumah sakit. Jangan pulang dulu. Awas kalau ngeyel!' Tegas Hasbi di pesan singkat yang ia kirimkan.

"Ya sudahlah, biar saja dia datang ke sini. Bagus malahan, aku dan Jenita juga takut kalau harus pulang larut malam begini berduaan doang, mana jalanan sini sepi."

Kayla meletakkan ponselnya di atas nakas.

"Ky, aku nggak tau apa yang buat kamu sampai begini, kenapa juga aku yang menjadi alasan kamu bisa sembuh."

Kayla menatap lamat Rizky yang terlelap.

"Sudah hampir jam sepuluh, aku harus pulang dulu Ky. Besok kalau memang waktuku senggang, aku usahakan berkunjung ke sini lagi." Janji Kayla.

Pelan Kayla melepaskan genggaman tangan Rizky, ia juga membantu menyelimuti tubuh Rizky. Sejenak Kayla memandangi wajah Rizky, wajah yang dulu selalu ia rindukan.

"Andai dulu kamu nggak ninggalin aku demi perempuan itu, andai saja dulu kamu nggak ingkar janji, andai dulu kamu nggak pergi dengan alasan aku nggak bisa hargai kamu, dan ternyata diam-diam kamu menjalin komunikasi dengan perempuan itu, aku mungkin masih bisa maafin kamu dan memperbaiki hubungan kita lagi, Ky."

Bulir bening tiba-tiba menerobos jatuh melalui ujung mata indah Kayla, ada perasaan yang tak bisa Kayla jelaskan.

"Aku harap apa yang aku rasain sekarang ke Hasbi, itu cuma sebatas rasa nyaman kakak ke adik yang punya rasa peduli tinggi. Tapi, aku juga berharap aku nggak lagi punya perasaan lebih ke kamu, Ky. Aku mau kita benar-benar selesai, seperti apa kata kamu sewaktu kamu mencampakkan aku, dulu."

Kayla menyeka air matanya yang jatuh tanpa persetujuan darinya.

"Aku minta maaf kalau aku banyak salah sama kamu dan keluarga kamu ya. Aku sekarang ada di sini cuma sebatas aku berharap bisa bantu kamu pulih dan kembali sehat, Ky."

Kayla menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya pelan.

"Sekarang bukan saatnya buat aku atau kamu menaruh harap yang sama, kamu akan segera menikah. Tugasku cuma buat bantuin kamu, bukan harapin kamu lagi."
Kayla bermonolog.

Di sela-sela setiap kata yang ia ucapkan pada Rizky, Kayla tersenyum getir teringat semua hal yang ia rencanakan bersama Rizky pada dua tahun lalu.

"Kamu memang akan menikah di tahun depan, tapi bukan menikah denganku."

Kayla bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan menuju pintu dengan perasaan campur aduk. Sesak, sesal, kesal, juga perasaan kecewa dan sakit yang ia dapat ketika Rizky memilih mengakhiri hubungan.

Sejenak Kayla melirik ke arah Rizky, seulas senyum merekah di wajah cantik dan manis Kayla.

"Ky, aku pamit ya. Semoga tidurmu lelap."

***

Kriettt

Semua mata tertuju pada Kayla. Om Hansen dan Tante Ika buru-buru berdiri, mereka menghampiri Kayla.

"Kay, gimana kondisi Rizky?" Tanya Om Hansen antusias.

"Alhamdulillah Om, sudah bisa diajak bicara banyak. Dia juga sudah bisa merespon dengan baik. Dia sedang tidur sekarang."
Ungkap Kayla detail.

Om Hansen manggut-manggut, "Syukur alhamdulillah kalau begitu, Kay." Ucapnya.

"Kamu mau langsung pulang, Kay?" Tanya Tante Ika.

"Iya Tante, sudah malam." Jawab Kayla lembut dan sopan.

"Jen, ayo." Ajak Kayla.

Jenita bangkit dari tempatnya duduk, ia meraih sweater miliknya, mengenakannya kembali seperti awal datang ke rumah sakit.

"Ayo." Ucap Jenita setuju.

"Om, Tante, pamit ya." Ucap Kayla sembari mencium takzim tapak tangan Om Hansen dan Tante Ika, diikuti oleh Jenita.

Kayla berjalan mendekati Rini dan Edi, orang tua Rizky. Langkahnya terlihat ragu, mimik wajah Kayla juga nampak takut dan grogi. Kayla mengulurkan tangannya pada Rini dan Edi.

"Bu, Pak, Kayla pamit pulang ya." Ucap Kayla dengan wajah tertunduk.

"Kay, hati-hati ya, Nduk." Balas Edi hangat, ia bahkan membagikan senyum pada Kayla.

Kayla tersenyum canggung, "Nggih, Pak."

(Iya, Pak.)

"Bu, itu Kayla mau pamit pulang." Edi berbisik pada Rini, ia juga menyenggol lengan Rini memberi kode.

Kayla terlihat cukup cemas menanti respon dari Rini padanya.

"Hati-hati pulangnya, sudah malam." Ucap Rini datar.

Kayla menyambutnya dengan senyuman, ia juga gegas mencium takzim tapak tangan Rini. Kayla tak menyangka kalau Rini masih mau meresponnya dengan sebaik itu, meski nada bicaranya tadi datar dan tanpa adanya ekspresi di wajah Rini.

"Nggih, Bu. Matur nuwun, ngapunten menawi Kayla enten kalepatan." Ucap Kayla dengan sopan dan lembut.

(Iya, Bu. Terima kasih, maaf kalau Kayla ada salah.)

"Ehem." Balas Rini dengan berdehem.

"Tante, Om, pamit ya." Ucap Jenita.

"Iya, jangan ngebut Jen." Pesan Edi pada Jenita, keponakannya.

Jenita mengangguk paham, "Iya, Om."

Kayla dan Jenita berjalan ke arah lobby, melewati lorong-lorong rumah sakit.

***

Hasbi mengemudikan motornya dengan kecepatan cukup tinggi, ia memburu waktu agar bisa segera sampai ke rumah sakit.

Malam ini jalanan cukup ramai, tak seperti malam-malam biasanya. Khususnya di jalan besar. Padahal bukan malam Minggu, tapi jalanan masih penuh muda-mudi motoran dan duduk berkumpul di angkringan.

Memasuki jalanan menuju desa Yuni, calon istri Rizky, mulai terasa hawa dingin dan jalanan yang sepi juga gelap. Sementara petunjuk jalan menuju rumah sakit Al Shad sudah mulai terlihat.

Sekira tiga menit dari petunjuk jalan, Hasbi sampai di pertigaan arah desa Yuni dan desa tetangganya. Dari kejauhan, atap rumah sakit Al Shad juga sudah mulai terlihat.

Hasbi butuh waktu sekitar tiga sampai lima menit perjalanan lagi untuk sampai ke rumah sakit Al Shad. Tempat dimana sekarang ini Rizky dirawat.

"Semoga laki-laki itu cepat pulih, supaya Kayla nggak perlu bolak-balik datang ke rumah sakit buat jengukin dia." Hasbi bermonolog.

"Entah kenapa, semakin hari aku semakin merasa risih dan nggak suka kalau ada orang lain yang peduli atau berusaha merebut perhatian Kayla." Gumam Hasbi.

Hasbi memelankan laju motornya, jalanan desa, Hasbi tentu tak enak dan segan dengan orang-orang yang ada di sekitar sana.

"Apa Kayla ngerasain apa yang aku rasain belakangan ini ya? Atau... Cuma aku yang rasain ini semua? Aneh banget asli, tapi.. disisi lain aku juga nggak tau kenapa bisa begini. Makin hari juga aku perhatikan, Mama dan Papa aneh, seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari aku dan Kayla. Tapi apa ya?"

BACKGROUND BIRUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang