49

803 103 7
                                        

Ujian


.

Nanda membuka pintu kamarnya cepat, bersamaan dengan Jenov yang sepertinya juga baru bangun tidur. Keduanya saling beradu tatap sebelum dengan cepat berjalan ke arah kamar Hera

"Denger suara jatuh gak sih yang?" tanya Jenov panik

Nanda mengangguk, lalu dengan cepat membuka kamar Hera. Coba menelisik ke setiap ruangan itu dan tak ada Hera disana''

"Gak ada yang"

"Nann!!" Suara Hera memanggilnya dari arah luar

Nanda dan Jenov langsung menuju ke dapur dan benar saja, ada Hera disana, berjongkok di depan kulkas dengan pecahan kaca di sekitar kakinya. Beruntung Hera kenakan sandal sehingga pecahan itu tak langsung mengenai telapak kakinya

Nanda langsung bantu Hera berdiri, "Gendong ke sofa aja dulu yang" perintah Nanda pada Jenov, Jenov mengangguk pelan lalu dengan mudah menggendong Hera menjauh dari dapur ke ruang tengah

Lelaki itu bahkan langsung lihat kaki Hera tanpa ragu, pastikan tak ada pecahan kaca yang mengenai kakinya

"Ini Jen" cicit Hera pelan, Jenov langsung mendongak. Hera mengangkat jari telunjuk tangan kanannya yang tunjukkan ada luka dengan darah yang masih mengalir

"Bentar" Jenov langsung berdiri, ia mau ambil kotak obat yang ada di dekat dapur

Sementara itu Nanda yang sepertinya sudah selesai membersihkan kekacauan di dapur langsung ikut duduk di sofa yang kosong, wanita itu terbelalak saat akhirnya sadar akan kondisi jari tangan Hera yang berdarah

"Astaga, kena tangan lo!" hebohnya, Nanda mau berdiri lagi untuk ambil kotak obat. Namun ternyata Jenov sudah datang dan membawa satu kotak obat di tangan kanan dan satu tangan lain bawa sebaskom air dan kain bersih

"Kok bisa sih Ra, lo mau minum apa malem malem gini heh? Kan gue udah sediain minum di samping tempat tidur" cerocos Nanda sambil bantu bersihkan tangan Hera

Jenov yang beradu tatap dengan Hera hanya tersenyum tipis saja

"Pengen minum es sirup Nan" ujar Hera pelan

"Malem ini, jam berapa loh? Jam berapa sih yang?"

"Jam setengah 12 malem"

"Tuh, pilek entar anak lo Ra. Ganti deh yang lain" tolak Nanda asal

Hera langsung manyun dengan kedua mata berkaca-kaca. Jenov yang memperhatikannya langsung menyenggol bahu Nanda

Nanda menoleh cepat dengan wajah kesal, namun teralihkan dengan Jenov yang menunjuk ke arah Hera dengan alisnya

"Lah, jangan nangis dong. Iya udah, tapi dikit aja ya? Dikit banget loh gak boleh banyak-banyak" ujar Nanda memperingatkan

Hera mengangguk saja sambil usap air matanya yang jatuh

"Astaga, ya udah gue bikinin. Tumbenan banget lo sampe nangis gini sih" ujar Nanda sambil berjalan menjauh kembali ke dapur, tinggalkan Hera bersama Jenov di ruang tengah

Hera masih mengusap wajahnya yang basah, wanita itu lalu sandarkan punggungnya dengan pelan, sambil melihat jarinya yang terbalut perban

"Kenapa Ra?" tanya Jenov mengalihkan atensinya, Hera menatap balik Jenov

"Ngidam kayaknya"

"Lo sama Marka gimana? Udah dua hari kan, lusa dia udah balik kok" ujar Jenov

Hera mengangguk pelan, "Iya, gue tau. Marka udah bilang"

KaburTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang