Marka Sakit
.
.
Suara batuk pelan terdengar dari kamar sejak pagi. Bukan batuk parah, tapi cukup sering dan cukup bikin Hera selalu memutar mata setiap mendengarnya
"Heraaa!!"
Kali ini suara berat dan serak Marka menggema hingga terdengar di dapur rumah mereka
Hera mendengus, dengan satu tangan menapak di belakang punggung dan satu tangan lagi mengaduk bubur yang ia buat. Ia segera mematikan kompor begitu buburnya telah jadi. Pelan pelan membawa nampan berisi minuman hangat, bubur dan obat
"Heran banget, demam doang semanja ini. Gak liat apa gue bawa anaknya"
Mulut Hera mendumal sepanjang jalan menuju kamar mereka yang untungnya memang dekat dengan dapur
Marka tidur terlentang dengan kedua matanya yang menatap ke langit kamar
Begitu mendengar Hera mendekat barulah Marka bereaksi
"Kamu kemana aku ditinggal sendiri"
"Buat bubur ini"
"Iya tapi lama banget" Hera memutar matanya malas lalu hati hati duduk di samping Marka
"Makan dulu, habis itu minum obat"
"Suapin sayang" ujar Marka pelan, takut juga karena lihat wajah tak enak Hera didepannya
Tapi Marka mode sakit tidak bisa ditolerir, bahkan Marka sendiri tak bisa menahannya
"Yaudah bangun dulu. Jangan makan sambil tiduran"
"Iya sayang" cicit Marka pelan, lalu bangun dari tidurnya. Lelaki itu bersandar pada kepala ranjang, bibirnya pucat, dengan kedua mata sedikit merah, di dahinya tertempel plester pereda panas
Hera menatap Marka sebentar, suaminya itu sedikit menunduk dengan kedua mata yang sayu
Tadinya Hera mau kesal tapi Marka dalam kondisi begini itu sangat jarang dan ia tak bisa untuk tak kasihan
"Lihat mukanya" suruh Hera pelan, Marka langsung mendongak, menunjukkan wajahnya yang sayu
"Ini pake dulu coba termometernya" Hera menyodorkan benda yang ada di atas nakas. Marka menurut, meletakkan benda itu diantara ketiaknya beberapa saat sebelum melepasnya
Hera sedari tadi menatap Marka, wajahnya benar benar memerah pucat, kedua matanya bahkan sedikit berair, jangan lupakan tisu berserakan di bawah tempat tidur. Termometer ini bahkan sudah berulang kali digunakan
"37,5 yang" gumam Marka sambil memandangi angka yang tertera disana. "Udah turun... dikit" gumamnya memelan diakhir kalimat, terdengar tak yakin
"Turun dari mana? Tadi juga segitu kan" jawab Hera sewot. Wanita itu sambil aduk lagi bubur yang ia bawa
"Ya setidaknya gak 39 sayang," ujar Marka dengan suara pelan yang dramatis
"Aku kuat kok Ra. Cuma karena ada kamu aja manja gini"
Hera menaruh nampan di meja samping
"Halah, lagian kenapa begadang terus sih. Udah gitu makannya gak teratur kan. Bisa kan kalau pesen makanan yang sehat sehat aja. Aku masak gak boleh tapi makannya aneh aneh terus kamu"
"Disuruh tidur juga suka ngeles"
Marka menutup wajah dengan selimut. "Duh jangan dibahas pas aku gini dong sayang, kan ketahuan salahnya"
"Ya emang salahmu kan"
Hera menghela napas pelan
Marka membuka selimut sedikit, wajahnya tampak memelas "jangan marah sayang"
"Gak bisa! Marah ini aku"
Marka meringkuk lesu, "Kalo kamu marah pas aku lagi kayak gini aku bisa tambah parah, loh."
Hera menepuk pelan paha Marka yang tertutup selimut "lebay kamu"
Beda dengan perkataannya, Hera justru makin mendekat dan mengelus dahi Marka. Merasakan panas lelaki itu dari punggung tangannya
"Masih lumayan tinggi ini. Makan dulu ya, biar minum obatnya gak perut kosong."
Marka menatapnya, mata berkaca-kaca. "Kamu baik banget padahal barusan galak. Suka aku kalau kamu tiba tiba berubah gini"
Hera tersenyum tipis, mengambil sendok, dan mulai menyuapkan bubur. Marka membuka mulut dengan patuh, meskipun setiap suapan diselingi komentar sekaligus peralihan dari lidahnya yang terasa pahit
"Ini bubur dari kamu kan?"
"Ya pikir aja aku dari tadi diluar ngapain, kalau pesen apa gak makin rewel kamu" Hera kembali sewot, Marka itu selalu bisa mengaktifkan sisi sewotnya
"Kesannya kayak aku rewelan banget sih"
"Emang gitu kamu"
Marka menelan buburnya cepat. Lalu menampakkan senyum lebar meski ekspresi wajahnya sayu
"Enak. Rasanya kayak kamu tuh cinta banget sama aku kan"
Hera tertawa kecil sambil gelengkan kepala pelan
"Udah deh. Makan yang bener, biar bisa langsung istirahat habis ini"
Setelah setengah mangkuk habis, Marka menyandarkan kepala ke bahu Hera. Dia sudah membentengi dirinya sendiri dengan selimut, jadi tidak ada kontak fisik langsung dengan Hera sih. Tapi ya tidak tau kalau dia tiba tiba nyosor nanti
"Kamu marah gak sih aku rewel kayak gini?"
Hera tidak langsung menjawab. Ia hanya membelai rambut Marka pelan. Ia sudah bereskan sisa makanan Marka dan meletakkan kembali di atas nakas meja
"Aku kesel sih, tapi bukan karena kamu rewel. Aku kesel karena kamu gak jaga diri. Aku udah bilang berkali-kali kalau begadang juga harus tau kondisi tubuh kamu. Apalagi kamu juga suka lupa kan minum vitamin" Hera bicara dengan nada biasa saja, tapi isinya terdengar seperti omelan pedas di telinga Marka
"Sakit tuh emang bisa datang kapan aja, tapi selagi kita bisa mencegah dengan hidup sehat ya kenapa enggak kan"
Marka memejamkan mata. Pelan-pelan, ia menggenggam tangan Hera di atas selimut sebelum mengangkatnya pelan dan menciumi punggung tangannya
"Aku lagi bawa adek, terus urusin kamu. Capek dikit rasanya. Adek disini juga makin gede kan"
Marka mewek, Hera yang melihatnya hanya bisa terkekeh sambil mengelus surainya yang berantakan
"Ya tapi mau gimana, gantian aku jagain kamu. Cepet sembuh ya sayang" Hera memberi kecupan bertubi pada pipi tirus Marka di sebelahnya. Tuh kan, bahkan ucapan Hera yang terakhir pakai nada manis sekali
Marka yang tadinya melow langsung tersenyum lebar
"Maaf loh, habisnya filmnya bagus sayang. Aku ketagihan nonton sampe gak lihat jam" Hera memutar mata malas, sekaligus diingatkan kalau Marka begini karena begadang menyelesaikan series film kolosal dari season 1 sampai season 3
"Kamu sabar dulu ya, habis ini selesai kok sakitnya ya sayang. Jangan marah lagi, sama laptopku jangan disita ya"
Hera mencubit perutnya pelan
"Ngeselin banget kamu"
Marka tertawa dengan suara seraknya lalu memeluk tubuh Hera dibalik selimutnya dengan erat
Beberapa Jam Kemudian
Marka sudah tertidur. Nafasnya mulai teratur. Hera duduk di pinggir ranjang sambil memainkan jari-jari tangannya yang masih terasa panas
Tangannya terulur mengelus lagi surai Marka
"Cepet sembuh sayang" bisik nya pelan
Cuuuttt!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Kabur
FanfictionKabur karena dijodohin malah ketemu lagi sama crushnya yang suka sama sahabatnya pas sekolah dulu
