55

679 76 2
                                        

Overprotective

.
.


Sudah seminggu sejak Hera memasuki trimester kedua kehamilannya. Dan seperti banyak calon ibu lainnya, perubahan emosinya makin sering datang—kadang seperti gelombang yang tenang, kadang seperti badai kecil yang muncul dari air yang sebelumnya tenang itu. Benar benar tak menentu, bahkan reaksinya pun selalu beragam

Marka, yang selama ini sabar dan penuh perhatian, mulai menunjukkan tanda-tanda.. terlalu perhatian. Setiap langkah Hera diawasi. Jalan terlalu lama? Dimarahi. Telat makan? Diceramahi. Naik tangga dua anak tangga sekaligus? Dikecam seperti artis berselingkuh

Selalu ada saja yang buat suaminya itu tunjukkan taringnya

Awalnya Hera tertawa, menganggap itu manis. Apalagi Marka kerap merengek untuk menahannya melakukan sesuatu

Tapi lama-lama ia kesal juga

Hormonal, biasa

Pagi itu Hera hanya ingin jalan kaki kecil ke minimarket dekat rumah mereka untuk beli es krim dan permen yupi. Dua makanan itu sedang tidak ada di kulkas mereka. Marka sedang mandi, barusaja masuk. Ia pesan kedua makanan itu melalui pemesanan antar tanpa menunggu Marka. Nanti ia akan ambil sendiri ke depan. Toh dekat, mungkin ia hanya butuh 5 menit saja hingga kembali masuk ke rumah

Ia kenakan sweater, celana panjang longgar, dan sandal nyaman. Pesanannya hampir sampai, jadi ia memutuskan keluar rumah lebih dulu. Berjalan pelan melewati halaman rumahnya yang luas

Namun baru setengah lewati taman, suara keras Marka memanggilnya

"Heraaa!"

Hera tersentak, bahkan tukang antar makanan yang baru saja tiba di depan pagar pun sedikit terjingkat

Hera memutar badan. Marka berdiri di ambang pintu rumah, napasnya ngos-ngosan, rambutnya masih basah

"Kamu udah selesai mandi?"

Marka mendekat dengan langkah cepat, ekspresi paniknya kentara

"Kamu mau kemana? Kenapa gak nunggu aku? Kenapa gak bilang?!"

"Aku cuma mau ambil pesenan es krim"

"Ya kan bisa nunggu aku ambilin"

Hera mendengus pelan, "Orang hamil juga butuh jalan jalan kali Ka. Lebay kamu"

Marka berdecak akan ucapan Hera lantas berjalan mendahului, menghampiri tukang antar makanan yang masih setia menanti

"Udah dibayar kan"

"Udah pak"

"Yasudah terimakasih" Marka berujar datar lalu menghampiri Hera yang masih diam di tempatnya sejak tadi

Marka menatapnya lama. Lalu akhirnya menggandeng istrinya itu masuk kembali ke dalam rumah

Hera menatap punggung Marka sambil menghela napas pelan

Marka hari ini sedang libur kerja dan memutuskan menemani Hera seharian di rumah. Biasanya Hera akan sangat senang. Tapi hari ini Marka malah bertingkah sedikit menyebalkan, semua kegiatan yang ia lakukan mendadak dikomentari. Dan Hera sedikit tak suka mendengarnya

Contohnya ya pagi tadi saat ia mengambil pesanan es krimnya. Hera kan jadi tak berselera, ia melirik Marka yang duduk di sebelahnya sambil memangku laptop. Hera memutuskan meletakkan saja basket eskrim itu ke dalam kulkas. Dia hanya makan dua sendok saja tadi

Namun baru saja ia membuka pintu kulkas, suara suaminya terdengar. Cukup keras karena jarak dari ruang tengah ke dapur juga sedikit jauh

"Sayang, jangan lama lama buka pintunya. Nanti kamu masuk angin" Hera mendengus, ia baru buka pintunya tak sampai 5 detik loh. Dia juga gak berniat lama lama didepan kulkas kok

KaburTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang