Pernikahan
.
.
Matahari sore menyelinap lembut melalui tirai tipis kamar hotel. Suara dedaunan bergoyang diterpa angin terdengar pelan dari luar balkon. Hera berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya dalam pakaian santai yang lembut berwarna krem muda
Mereka tiba di Bali beberapa jam lalu, ia dan Marka juga sudah jalan jalan di sekitar hotel. Kalau Jenov dan Nanda sibuk dengan urusannya sendiri
Marka keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan handuk di pundaknya, mendapati istrinya tengah berdiri mematung seperti tengah menimbang sesuatu. Ia mendekat, lalu memeluk perut istrinya yang semakin membesar
"Sayang? Kenapa? Capek ya?"
Hera tak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu menghela napas pelan. Ada gurat gelisah di wajahnya yang tak biasa
Marka mengusap perut Hera pelan, "Sakit perut?"
Hera menggeleng lagi
"Kepanasan? Dingin?"
"Kenapa sayang? Laper lagi?" tanyanya masih sambil mengusap perut Hera lembut
Hera menoleh pelan. Senyumnya agak canggung, matanya memantul cahaya senja. Cantik, Hera sangat cantik
"Enggak, Aku lagi mikir aja" ujarnya sambil satu tangan menapak di tangan Marka di atas perutnya
"Mikir apa?" Marka menyandarkan kepalanya pada bahu Hera. Wajah keduanya berhadapan dekat
Hera tidak langsung menjawab. Wanita itu lalu berbalik, pelukan keduanya terlepas. Hera perlahan berjalan lalu duduk di pinggir ranjang. Wanita itu menepuk tempat kosong di sampingnya. Marka menurut, duduk sambil memiringkan tubuh, menatap wajah istrinya yang tampak serius
"Aku kayaknya ngidam deh" kata Hera pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. Wajahnya tampak merah padam
Marka mengerutkan dahi, "Ngidam apa lagi? Kita baru makan sate ayam sama es kelapa loh tadi, kamu bahkan habis 3 porsi sate sendiri sayang"
Hera menatap mata suaminya dengan bibir manyun tak terima. Namun ekspresinya dengan cepat berubah, kembali serius
"Aku.. ngidam kamu"
Marka terdiam. Jantungnya seperti lompat sedetik. Benar benar tadi ia bahkan bisa dengar bunyi dentuman keras jantungnya sendiri
"Eh?" Ia terkejut
"Ya, gimana" Hera memalingkan wajah, pipinya memerah. Bibirnya manyun, sepertinya mulai kesal
Butuh waktu beberapa detik bagi Marka untuk mencerna kata-kata itu sebelum senyum konyolnya muncul. Hera lucu sekali, selalu lucu
"Ra, kamu serius?" bisiknya pelan
Hera mengangguk kecil, tetap tidak berani menatap langsung. Masih malu dan juga kesal dengan reaksi Marka
Marka mendekat, lalu mencium bahu Hera yang duduk membelakanginya "Demi kamu, aku bisa bisa aja sayang. Tapi kamu yakin? Kan capek habis jalan-jalan"
"Ngidam tuh gak bisa ditunda, Ka" Nada merajuk Hera akhirnya keluar
Marka terkekeh, lalu dengan lembut bawa Hera memalingkan wajah ke arahnya. Hera malu tapi tetap menatap sang suami
"Ya udah" Marka menjilat bibirnya yang mendadak kering. Meski ia tampak bercanda, ia tetap saja takut, berhubungan dengan wanita hamil kan harus hati hati
Masalahnya Marka ini kadang suka lupa daratan, takutnya nanti malah menyakiti Hera. Bisa bisa nanti ia yang menangis
Tapi lihat saja wajah penuh tekad Hera di depannya, Marka jadi setengah yakin
KAMU SEDANG MEMBACA
Kabur
FanfictionKabur karena dijodohin malah ketemu lagi sama crushnya yang suka sama sahabatnya pas sekolah dulu
