.
.
Aluna Naya Wijaya, panggilnya Aluna. Si manis kesayangan ayah dan ibu
Sudah seminggu sejak Aluna hadir di rumah. Dan sejak itu malam-malam di rumah kecil itu tak pernah benar-benar sepi. Si kecil akan terus terbangun di antara jam dua dan tiga dini hari, menangis memanggil ayah dan ibunya yang terlelap agar segera memeluknya
Marka dan Hera tak pernah mengeluh. Mereka justru senang
Malam itu, suara tangis Aluna kembali memecah keheningan. Hera langsung terbangun, refleks menoleh ke sisi ranjang tempat boks kecil berdiri. Sementara di sebelahnya Marka juga tampak akan segera bangun. Kekasihnya itu baru tidur dua jam lalu karena sempat menyelesaikan tugas kantornya
"Aluna..." suaranya parau, masih separuh tidur. Hera beranjak mendekat, wajah kuyunya langsung berubah sumringah melihat anaknya yang menangis
"Sayang.. laper ya" Hera dengan hati hati mengangkat Aluna dari dalam box, mendekap sekaligus mengecupi pipi gembul memerah anaknya yang mulai tenang
Marka di sisi lain sudah mulai sadar. Rambutnya berdiri ke segala arah, mulutnya menguap lebar namun tetap berjalan mendekat memutari kasur lalu duduk disamping Hera
"Udah waktunya nyusu lagi, ya?" gumamnya dengan suara serak. Marka mengusap pipi Hera yang sedikit berminyak, lalu menciuminya berulang kali
"Capek gak?" Tanyanya masih berada di pipi sang kekasih
Hera menggelengkan kepala, tak keberatan dengan Marka yang menempelinya meskipun ia tengah menggendong Aluna. Samar wanita itu juga menggumamkan lagu tidur untuk sang anak
"Terakhir nyusu sebelum tidur itu jam 8. Pinter ya kamu jam 2 baru bangun" Hera tersenyum senang karena anaknya tergolong tak terlalu sering terbangun saat malam hari
Marka mengangguk, kantuknya masih tersisa namun lelaki itu tetap berjalan ke meja kecil di sudut kamar, menyiapkan air hangat dan kain bersih. Untuk anaknya ganti popok setelah ini
"Kalau nanti dia udah kenyang, biar aku yang ninaboboin ya, kamu tidur aja" ujarnya kembali menguap lebar
Aluna sudah tenang, namun tetap Hera membuka bajunya. Bersiap memberi asi padanya
"Cantiknya anak ibu ya. Cepet banget berhenti nangisnya kalau digendong sama ibu"
Marka tersenyum, kembali duduk di sebelah Hera dan memperhatikan dengan lekat dua cintanya
"Tapi cantikan ibu ya nak" ujarnya menggoda
Hera tersenyum miring, namun tak katakan apapun. Marka sudah ribuan kali katakan hal itu sejak ia melahirkan
"Cantik banget loh kamu yang. Makin berisi lagi" Marka bergumam sendiri. Matanya lekat menatap ke bawah. Memandang sang anak sekaligus istrinya. Tenggorokannya mendadak kering seketika
Bahkan bunyi tegukan ludahnya buat Hera terkekeh
"Mikir apa kamu" tanya Hera dalam tawanya, sementara pandangannya masih tertuju pada sang anak
Marka mencebikkan bibir, "Kamu lah, pengen manja manjaan akunya" ujarnya blakblakan
Hera tergelak tanpa suara. Tak katakan apapun hanya memperhatikan anaknya yang anteng minum asinya
Biarkan Marka sibuk dengan pikirannya sendiri
Meski cahaya kamar mereka redup karena hanya lampu nakas yang menyala. Marka masih bisa melihat Hera yang bersinar meski wajahnya tak terpoles apapun, rambutnya sedikit acak acakan khas bangun tidur
Hera, kekasihnya semakin cantik
"Udah tidur anaknya. Cepet banget tidurnya ya sayang. Kayaknya ditidurin di box juga gak bakal kebangun deh, pinter banget anaknya"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kabur
FanfictionKabur karena dijodohin malah ketemu lagi sama crushnya yang suka sama sahabatnya pas sekolah dulu
