Titik Lemah
.
.
Hera terbangun
Perutnya mengeras. Ada sensasi seperti ditarik, kemudian dihimpit perlahan. Tidak terlalu menyakitkan, namun cukup membuatnya langsung terjaga
Ia mengerjap, menatap ruangan yang remang. Entah pukul berapa sekarang, tapi sepertinya sudah dini hari
Di belakangnya Marka masih tertidur, satu tangan lelaki itu masih menapak di atas perutnya
Hera menarik napas, pelan. Berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sampai sensasi itu datang lagi
"Hmm" gumamnya, menahan sedikit rasa ngilu di perut. Mendadak ia jadi ingin ke kamar mandi
"Ka.." Hera menepuk punggung tangan Marka beberapa kali
Marka langsung membuka mata. Bahkan bangun dari tidurnya
"Apa sayang?" Tanyanya dengan suara serak
"Aku mau ke kamar mandi" jawab Hera pelan
Marka langsung bangkit dari tempatnya. Lalu berjalan ke sisi lain ranjang, membantu Hera untuk bangun
"Ayo sayang" Marka dengan pelan membantu Hera, sementara Hera biarkan dirinya bertumpu pada Marka
Marka memegang lengan Hera perlahan. Ia menyesuaikan selang infus dan memastikan jalurnya aman sebelum membantu Hera melangkah pelan ke kamar mandi
"Maaf, kamu masih ngantuk ya? Mata kamu merah banget itu" ujar Hera saat bisa lihat wajah Marka begitu pintu kamar mandi dibuka. Ia bisa lihat wajah Marka yang diterpa cahaya dari kamar mandi
"Gak sayang, gapapa ayo. Aku temenin di dalem ya"
"Ihh, jangan! Diluar aja" Hera merengek, Marka mendengus. Padahal mereka biasa mandi bersama. Marka kan mau bantu Hera buang air
"Kenapa? Kamu malu?"
"Enggak, pokoknya kamu keluar dulu cepet"
Marka diam sebentar namun mengangguk menurut saja dan langsung keluar kamar mandi. Tak mau berdebat panjang juga karena kasihan
Lelaki itu langsung nyalakan lampu kamar. Ia lalu beralih melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 01.30 dini hari
Marka kembali mendekat ke kamar mandi. Punggungnya menempel ke tembok, tangannya terkepal di sisi tubuh. Sesekali melirik jam dinding lagi
Lima menit
Enam menit
"Hera?" Panggil Marka tak sabar
"Sebentar" jawab Hera lirih
Suara dari dalam pelan tapi jelas. Marka mendekat, nyaris ingin membuka pintu. Tapi ia tahu Hera butuh ruang.
Lelaki itu kembali menatap tajam ke arah jam dinding. Beberapa menit kemudian pintu terbuka. Hera keluar perlahan, tubuhnya sedikit condong ke depan.
Senyumnya lemah, dan jelas sekali wajahnya mulai menunjukkan rasa sakit yang sulit disembunyikan. Marka mendekat, langsung memberi tumpuan. Satu tangan mereka reflek menggenggam kuat
"Perutku kayak ditarik" gumamnya
"Tapi gak terlalu sakit, ngilu aja"
Marka tak menjawab. Ia hanya menarik lengan Hera perlahan, membimbingnya kembali ke tempat tidur. Membenarkan bantal. Selimutnya diabaikan saat lihat kening Hera yang berkeringat. Marka menyentuhnya dan menyekanya pelan
KAMU SEDANG MEMBACA
Kabur
FanfictionKabur karena dijodohin malah ketemu lagi sama crushnya yang suka sama sahabatnya pas sekolah dulu
