48

968 95 1
                                        

Jarak Jauh


.


Setelah drama penuh afeksi antara sepasang suami istri muda itu, akhirnya Marka resmi berangkat dinas untuk yang pertama kalinya

Biarlah Jenov terus mengejeknya berlebihan saat antarkan dirinya ke bandara. Marka tak peduli

Jenov bahkan tertawa sepanjang perjalanan menuju bandara saat lihat wajah murungnya

"Tiga hari doang Mar, tenang aja Hera gue jagain"

Marka menghela napas, perkataan Jenov tak mampu menenangkannya

Jenov yang tadinya terus tertawa, perlahan mulai tenangkan diri. Marka dari kemarin memang mode serius dan tidak bisa diajak bercanda, bedanya kali ini seriusnya dengan wajah galau yang amat kentara

"Sorry" Jenov berujar pelan akhirnya. Lelah juga karena tak dianggap oleh Marka. Biasanya lelaki itu akan membalas candaannya tapi kali ini hanya diam saja dengan wajah merengut yang menyebalkan, Jenov tak akan katakan itu dengan gamblang

Keduanya duduk di kursi penumpang mobil perusahaan dengan sopir ayah Jenov yang menyetir

Jenov putuskan untuk ikut antar Marka karena ia tadi sekalian antar Nanda ke rumah pasangan muda itu

Marka menoleh, menatap ke arah Jenov yang kini serius menatapnya meskipun ia tak tau maksud tatapan itu

"Gue gak tau gimana perasaan lo Mar, bahkan bisa jadi gue nanti juga gitu" Jenov menghela napas pelan

"Tapi lo juga gak bisa kayak gitu Mar, lo gak liat wajah Hera tadi senyum lebar gitu, iya, lo emang sedih tapi pikirin Hera juga"

Marka tersentak, seakan tersadar sesuatu

"Hera udah lepas lo sambil senyum gitu harusnya lo juga bisa yakinin kalau kalian baik
baik aja" Jenov mengatakan itu dengan serius

Agaknya ia juga tak mau Marka jadi tak fokus bekerja nanti, yang rugi kan juga perusahaan mereka

"3 hari atau bisa kurang, lo jalanin deh itu dengan serius. Kalau berhasil kan yang untung juga lo sama Hera Mar"

Marka terdiam, benar juga. Separah itu dirinya saat ini, perasaannya pada Hera benar benar membuncah tanpa bisa dicegah. Kalau ia tak gunakan akal sehatnya juga, yang ada dia bisa kalah. Marka tak berniat kurangi cintanya pada Hera, ia hanya perlu bersikap lebih dewasa saja kan. Ia bisa pastikan dirinya tadi memasang wajah menyebalkan, seolah olah dirinya yang paling sedih atas perpisahan sementara ini tanpa memperhatikan Hera yang kemungkinan besar juga sembunyikan sedihnya


.


"Marka kemana ya? Masa belum sampe hotel?" Hera bergumam keras, sambil perhatikan ruang pesan suaminya yang belum ada pesan masuk baru

Sudah sore dan Marka belum berikan kabar untuknya, padahal Hera tadi sudah berpesan agar suaminya itu segera menghubunginya jika sudah sampai hotel

"Istirahat kali Ra, lumayan kan perjalanannya 8 jam, belum lagi kalau masih ada delay" sahut Nanda yang saat ini sedang berkutat di dapur. Gadis itu hendak memasakkan makan malam untuk Hera yang tadi siang sudah katakan inginnya. Wanita itu mau dimasakkan sop ayam, dan Nanda tentu saja mengiyakan

"Udah, nanti pasti dikabarin ya. Habis ini Jenov pulang sekalian minta bantu tanya kabar dari orang sana aja" Hera menghela napas panjang, lalu putuskan jauhkan ponsel darinya

"Mending cicipin ini dulu Ra" Nanda menyuapkan satu suapan kecil pasta keju yang sedang sahabatnya itu idamkan

Hera yang memang sedang labil labilnya pun mendongak kesenangan, seolah permasalahan tentang suaminya hilang seketika 

KaburTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang