56

600 85 4
                                        

Perjuangan

.
.


Sejak bangun pagi, Marka sudah merasa ada yang aneh. Bukan nyeri atau sesak, ia baik baik saja. Tapi ada semacam gelombang tak kasat mata yang mendadak membuatnya sedikit pening. Ia mencoba mengabaikan dan memilih untuk fokus menjalani hari ini karena ia ada rapat penting di kantor

Hera masih terlelap dalam tidurnya, wanita itu sempat bangun dan membantu memilihkannya pakaian kerja. Saat Marka keluar dari kamar mandi tadi, Hera kembali berbaring melanjutkan mimpi

Marka mendekat, duduk di sisi Hera. Mengelus surainya yang lembut

Hari perkiraan kelahiran anak mereka sudah semakin dekat. Kurang lebih sepuluh harian lagi. Itu sebabnya Marka dibuat gelisah

"Kok perasaanku gak enak ya Ra?" Gumamnya pelan. Hera tak bergeming, masih terlelap tidur

Seperti biasa Nanda akan datang menemani Hera dirumah. Wanita itu mungkin akan berangkat kemari sejam lagi

Jika Marka harus menunggu, ia mungkin hanya akan terlambat rapat pagi. Setengah jam mungkin, belum kalau macet di jalanan

Ditengah kegelisahannya itu, Hera terbangun. Lalu melirik jam di atas meja nakas

"Kenapa?" Suara Hera menyadarkan lamunan Marka. Lelaki itu menunduk menatap Hera

Marka menghela napas pelan

"Aku gak enak hati, Ra. Kayak feeling aku jelek banget hari ini"

Hera tersenyum pelan, kedua matanya masih sayu. Ia genggam tangan Marka yang tadi mengelus perutnya

"Capek kali ya? Kamu kemarin tidur kemaleman kan cek revisi laporan"

Marka diam. Pandangannya masih gelisah. Jawaban Hera tak menjawab gelisahnya

"Aku gak kerja aja kalau gitu"

Hera tersenyum tipis, ia masih mengantuk. Tapi ia juga perlu meyakinkan suaminya ini untuk bekerja. Marka sudah sering begini, nanti pasti ujung ujungnya ngambek sepulang kerja karena dipaksa bekerja. Aneh memang

"Nanda juga bentar lagi kesini yang, kamu katanya ada rapat penting loh. Berapa kata kamu? Dua apa tiga gitu" tanya Hera

"Dua yang"

"Nah itu? Udah dikasih bapaknya Jenov kepercayaan loh kamu"

Marka manyun, Hera selalu punya cara membuatnya kalah

"Aku baik baik aja, gak ada mual apapun juga dari tadi sayang. Kamu berangkat, hati hati, semangat kerjanya" ujar Hera dengan manis

Marka mendekat. Ia mencium kening istrinya lama, sampai Hera terkekeh dibawahnya

"Kalau kamu ngerasa apa-apa, langsung telepon aku. Apa pun, sekecil apa pun itu ya Ra. Kalau bisa sih kabarin semua ke aku kamu ngapain aja"

"Ke kamar mandi?"

"Iya sekalian pap juga boleh"

Hera tergelak, memukul lengan Marka pelan

Marka tersenyum lihat senyuman Hera

"Janji sayang? Kabarin aku?"

Hera menggenggam tangannya lalu mengangguk pelan, "Iyaa, janji"

Marka akhirnya keluar rumah. Sebelum masuk mobil, ia menatap rumahnya itu dalam. Saat ia berbalik dan berjalan mendekati mobil, mendadak kedua matanya berkaca-kaca

"Gue gak mau kerja, mau nemenin Hera" lirihnya cengeng

.


Rapat dimulai dengan paparan strategi dari divisi pemasaran untuk progres tahun depan. Marka berusaha fokus. Tangannya mencatat, matanya mengikuti presentasi. Meskipun pikirannya masih di rumah. Selalu memikirkan Hera

KaburTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang