60. Obrolan Ayah

430 47 1
                                        

.
.

"Dua bulan baru ketemu lagi sama bayi ajaib. Udah bisa apa aja dia"

Marka memutar mata malas, lalu menunduk menatap wajah cantik anak dalam dekapannya

Jenov dan Nanda berkunjung ke rumah setelah pulang dari kantor. Marka sudah memastikan Jenov sudah mandi dan benar benar bersih sebelum bertemu dengan anaknya

Meskipun sahabatnya itu sempat protes karena maunya langsung berangkat ke rumah Marka. Marka tetap melarang keras. Akhirnya mau tak mau Jenov mandi dulu di kantor sekaligus berganti pakaian disana

"Kalo malem udah bantu gue ngecat tuh di belakang"

Jenov tergelak, menggoda Marka adalah kesenangannya

"Lagian lo kenapa gak nyewa orang sih Mar" Jenov sudah berulang kali menawarkan Marka beberapa kenalannya untuk membantu Marka merenovasi kamar yang mau dijadikan sebagai kamar anaknya itu

Tidak merenovasi sih. Hanya membuatkan beberapa ambalan saja dan mengecat ulang ruangan yang nantinya mau digunakan sebagai kamar anak mereka. Itupun atas permintaan Hera. Padahal rencananya Marka mau cari rumah baru yang lebih luas. Tapi Hera bilang jangan dulu

Intinya ya Marka nurut saja dengan kemauan Hera

Mendadak Aluna menggeliat, Marka langsung mendelik ke arah Jenov

"Diem lo Jen!"

"Gue gak ngomong apa apa jir!"

"Bahasa lo!"

Jenov mendengus, namun tak lama karena mendengar suara rengekan Aluna yang langsung membuatnya terjingkat dan bangkit menghampiri Marka

"Halo cantik.." sapa Jenov

"Hera banget sih ini Mar. Gak ada miripnya sama lo"

"Mirip ini, tuh hidungnya mancung dari gue"

"Mana ada lo hidungnya mancung. Mancung ke dalam iya"

"Apasih ribut mulu dari tadi didengerin dari dapur loh" kedua lelaki itu diam seketika saat Hera dan Nanda bergabung dengan mereka

"Jenov tuh yang, dia rame terus sampe Aluna bangun"

"Mana ada ya! Gue ngomong biasa aja kok Ra, suami lo tuh kalo jawab sambil ngegas terus makanya Aluna bangun kan"

"Sini deh mana gue bawa anaknya. Tuh sana Marka sama Jenov benerin kamarnya Aluna aja" Nanda mengambil alih Aluna dari tangan Marka

"Kok aku ikut yang"

"Sekalian nunggu masakannya mateng itu. Kalian kesana aja" Marka tertawa kecil lalu menarik lengan Jenov agar mengikutinya ke belakang. Tempat di mana setiap malam ia serasa mengerjakan proyek rahasia. Pekerjaannya tinggal sedikit kok, hanya menata barang dan meletakkan ornamen saja di dinding agar tidak monoton

"Nih, ini lo pasang deh di ambalan sebelah kiri" Jenov mau tak mau ya melakukan perintah Marka meski mulutnya terus mendumal

Kedua laki laki itu fokus dengan pekerjaan masing masing sampai Jenov memasang satu foto dalam bingkai kecil. Foto Marka Hera dan Aluna saat mereka masih di rumah sakit. Hera terbaring dengan Aluna ada di gendongannya, lalu Marka duduk di sisi kanan Hera, merangkul bahu wanitanya itu dengan sedikit membungkuk

Potret keluarga bahagia. Jenov tersenyum kecil

"Gimana rasanya jadi Bapak Mar?" Jenov berbalik, langsung dihadapkan pada Marka yang sedang mendorong lemari laci berwarna putih

Lelaki itu berbalik juga. Lalu tertawa kecil, antara mengejek sekaligus takjub. Lebih banyak mengejek sih, Jenov sudah paham dengan ekspresi wajah Marka

KaburTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang